06 April 2020, 09:03 WIB

Pasar di Temanggung Sepi karena Covid-19


Tosiani | Nusantara

RAHMI,35, hanya bisa tertunduk lesu di sisi kiosnya di Pasar Kliwon Utara Temanggung, Senin (6/4). Setiap kali ada orang berjalan mendekat,
matanya langsung berbinar, lalu dengan antusias menawarkan dagangan pakaiannya pada pengunjung.

Raut wajahnya berubah muram karena mereka yang mendekat hanya tersenyum tipis dan sekedar lewat, sama sekali tidak menghiraukan sapaannya.

Untuk mengalihkan kecewanya, Rahmi mengalihkan perhatian dengan menata tumpukan jaket dan kaus di kiosnya.

"Sejak pagi, tidak ada yang membeli. Ini sudah berlangsung lebih dari dua pekan. Sangat jarang ada orang lewat atau masuk ke pasar," keluh Rahmi.

Baca juga: ODP Covid-19 di NTT 684 Orang, 13 Dirawat

Ia menceritakan, biasanya sebulan sebelum bulan Ramadan, dagangan pakaiannya sudah laris diserbu pembeli. Hingga menjelang Lebaran, ia bahkan harus beberapa kali memasok bahan pakaian dari Jakarta.

Saat ini, puasa tinggal sekitar 19 hari lagi dalam hitungannya. Namun, karena terdampak pandemi covid-19, kondisi pasar sepi. Nyaris tidak ada pembeli yang mendekat.

"Jualan pakaian biasanya mau puasa ramai. Saya bisa dapat penghasilan antara Rp7-8 juta per hari. Kalau sekarang bisa laku 1-2 pakaian dalam sepekan saja sudah lumayan, harganya antara Rp50-125 ribuan," kenang Rahmi.

Bahkan, lanjutnya, sejak dua pekan terakhir, banyak kios di dalam pasar tutup. Kalaupun ada yang berjualan, mereka baru mulai menggelar dagangan pada siang hari, sekitar pukul 10.00 atau 11.00 WIB.

Adapun Rahmi memutuskan tetap perjualan dan membuka kiosnya pagi hari dengan harapan tetap mendapat pembeli jika ia lebih rajin

"Prediksinya ini sampai Lebaran masih akan sepi karena wabah virus korona masih belum teratasi,"katanya.

Alya, 18, seorang penjual makanan tradisional jenang di Pasar Temanggung mengeluhkan hal yang sama, yakni sepinya pembeli. Biasanya, dalam kondisi normal, ia bisa mendapat Rp250 ribu per hari dari menjual 50 kilogram jenang. Sejak dua pekan terakhir ini, paling banyak hanya sekitar Rp 150 ribu per hari yang bisa ia dapatkan.

"Padahal harga bahan baku untuk membuat jenang terus naik sehingga pengeluarannya tambah banyak. Kemarin, saya sampai harus meminjam uang dari bank plecit dengan bunga 2,5% untuk membayar gaji karyawan yang membantu membuat jenang. Hal itu karena hasil jualan sangat kurang," katanya. (OL-1)

BERITA TERKAIT