06 April 2020, 03:45 WIB

Kritik Keras untuk si Merah


AKMAL FAUZI | Sepak Bola

DI tengah kebersamaan berbagai pihak memerangi pandemi virus korona baru (covid-19), Liverpool menuai kritik pedas. Kebijakan ‘si Merah’ yang merumahkan staf nonpertandingan selama penghentian Liga Primer dinilai sebagai tindakan yang tidak etis.

Dengan keputusan tersebut, para karyawan Liverpool yang dirumahkan berhak mengklaim 80%, maksimal 2.500 pound per bulan, dari gaji yang mereka dapatkan sesuai dengan undang-undang ketenagakerjaan Inggris khusus dalam kondisi darurat. Sisa 20% akan ditanggung Liverpool.

Dua mantan pemain Liverpool Jamie Carragher dan Stan Collymore menjaid pihak yang paling menyoroti kebijakan tersebut. Setelah pada Februari mengumumkan laba sebelum pajak sebesar 42 juta pound, Liverpool dinilai seharusnya tidak mengambil keputusan tersebut.

‘Juergen Klopp menunjukkan kepedulian pada awal pandemi ini. Para pemain senior juga menunjukkan kebijakan pemotongan gaji. Lalu semua itu hilang. Liverpool yang malang’, cicit Carragher di akun Twitter-nya.

Kritik lebih pedas dilontarkan Collymore. Mantan striker yang membela Liverpool pada 1995-1997 tersebut mengatakan hal itu keputusan yang salah.

“Saya tidak tahu apakah ada fan Liverpool yang tidak jijik dengan kebijakan ini. Kebijakan ini bertujuan menghindari mereka (pemilik klub) tidak bangkrut,” ungkap Collymore yang menyebut pemilik
Liverpool, John W Henry, sebagai orang yang serakah.

Kecaman juga dilontarkan mantan bintang Liverpool asal Jerman lainnya, Dietmar Hamann. “Kebijakan yang diambil bertentangan dengan moral dan nilai-nilai Liverpool yang kukenal,” lanjutnya.

Tolak potong gaji
Asosiasi Pesepak Bola Profesional Inggris (PFA) mempertanyakan kebijakan pemotongan gaji pemain Liga Primer Inggris sebesar 30%. Pemotongan gaji itu akan berdampak ke pendapatan pajak yang berpengaruh pada pendanaan bagi tenaga medis Inggris.

PFA mengatakan pajak gaji pemain digunakan untuk membiayai beberapa lembaga layanan medis seperti National Health Security (NSH). “Usul pengurangan 30% gaji selama periode 12 bulan setara dengan lebih dari 500 juta pound sterling dan itu akan menghilangkan kontribusi pajak sebesar 200 juta pound sterling kepada pemerintah. Apa dampak dari hilangnya pendapatan ini bagi pemerintah? Juga NSH?” jelas PFA.

PFA memahami kondisi saat ini memang berpengaruh besar terhadap keuangan klubklub.

Namun, PFA menyatakan anggota mereka akan bertanggung jawab secara finansial dengan cara mereka sendiri di tengah pandemi covid-19. “Seluruh pemain Liga Primer akan memainkan peran mereka dalam memberikan kontribusi keuangan secara signifikan dalam masa-masa sulit seperti ini,” lanjutnya. (AFP/Goal/Dmr/R-1)

 

 

BERITA TERKAIT