05 April 2020, 17:51 WIB

Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Stagnan di Angka Rp16 Ribu


Despian Nurhidayat | Ekonomi

NILAI tukar rupiah pada Jumat (3/4), bergerak menguat 103 poin (0,63%) di Rp16.367 per dolar AS. Seperti yang diketahui sejak awal tahun (year to date), rupiah telah tertekan 15,10%. Sedangkan kurs tengah Bank Indonesia (JISDOR) berada di posisi Rp 16.741,00 per tanggal 2 April 2020.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memprediksikan bahwa dalam jangka pendek, pergerakan rupiah masih berada di kisaran Rp16 ribu. Menurut Josua, setidaknya hal ini akan terus berlangsung stagnan hingga wabah pandemi covid-19 ini mulai berkurang dampaknya.

"Apabila puncak wabah telah terlewati, rupiah diperkirakan akan kembali menguat seiring dengan masuknya kembali investor ke pasar negara berkembang," ungkapnya pada Media Indonesia, Minggu (5/4).

Lebih lanjut, Josua juga mengapresiasi langkah Bank Indonesia (BI) demi stabilisasi nilai tukar Rupiah di pasar finansial. Beberapa kebijakan terlah dilakukan, selain melakukan triple intervention dan penguatan first line of defense.

Salah satu kebijakan BI yang patut diapresiasi menurutnya ialah kerja sama Currency Swap Line yang diharapkan dapat mendorong confidence pelaku pasar bahwa kondisi second line of defense dipersiapkan untuk meningkatkan likuiditas valas.

"Selain itu BI juga sudah melakukan pertemuan virtual dengan para investor sebagai salah satu cara agar para investor asing tidak panic selling di tengah wabah yang tengah terjadi," ujar Josua.

Bila melihat dari sisi pemerintah, Josua beranggapan bahwa pemerintah perlu focus untuk flattening the curve yakni kurva perkembangan kasus covid-19 di Indonesia.

Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong percepatan penanganan krisis kesehatan yang dialami dengan peningkatan kualitas rumah sakit dan tenaga medis untuk penanganan covid-19 yang diharapkan dapat membatasi laju kenaikan kasus penyebaran yang saat ini bergerak secara eksponensial.

"Selain itu, setelah Perppu mendapatkan persetujuan dari DPR, maka alokasi anggaran terkait jaring pengaman sosial dan bantuan sosial lainnya dalam rangka mendukung daya beli masyarakat perlu disalurkan tepat sasaran dan cepat untuk membatasi penurunan konsumsi rumah tangga akibat penurunan aktivitas ekonomi nasional," pungkasnya.

Dengan langkah-langkah tersebut dan penguatan koordinasi kebijakan antara pemerintah, BI, OJK dan LPS, Josua berharap hal ini dapat membatasi capital flight dari pasar keuangan yang selanjutnya dapat mendukung stabilitas rupiah. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT