05 April 2020, 06:25 WIB

Kemelut, Ekspresi Busana akan Keprihatinan Dunia


Fetry Wuryasti | Weekend

BUKAN hanya kegembiraan dan sukacita, melainkan kegelisahan dan kekacauan juga kerap menjadi inspirasi rancangan busana. Ini pula yang melatari koleksi busana terbaru karya Ariy Arka.

Bertajuk Kemelut, koleksi busana itu dikatakannya merefleksikan berbagai kekacauan akibat ulah manusia. "Serbuan virus, kerusakan hutan, dan bencana alam seperti banjir, kebakaran itu sedikit banyak akibat ulah manusia",  ujar Ariy dalam wawancara via telepon, Selasa (31/3).

Kerisauan terhadap polah manusia itulah yang kemudian ia tuangkan dalam 48 set baju yang terdiri atas 36 set setelan pria dan 12 set busana wanita yang telah diperagakan di Jakarta, beberapa waktu lalu. Potongan busananya didominasi konsep street style, androgini, hingga semiformal yang di antaranya berupa jaket parka, jaket bomber, celana komprang, hingga blazer.

Nuansa karut-marut kemudian dimunculkan lewat aplikasi bordir bermotif abstrak dan geometris. Kemudian ada pula teknik aplikasi berupa sisa-sisa bahan yang dijahit tumpuk secara acak sehingga menambah kesan semrawut.

Mayoritas hiasan semrawut itu ditata pada di bagian punggung, dada, dan lengan dengan paduan warna kontras dari warna dasarnya untuk menciptakan kesan suram. Warna kontras yang dipadu antara lain merah marun, biru pekat, hijau botol berpadu dengan warna-warna dasar ringan semacam coklat muda, krem, dan putih.

Desainer berusia 35 tahun itu juga menambahkan motif printing hasil produksinya untuk menguatkan gambaran ide Kemelut tersebut. Motif-motif printing terutama hadir pada tampilan produk jaket dan hoodie-nya.

Motif bordir yang ditampilkan selain berupa bentuk geometris, serupa dedaunan, ranting dan akar. Untuk bordir, Ariy yang menimba ilmu di Esmod pada 2014 tidak lupa memunculkan motif ayam jago, dan burung kakaktua yang memang merupakan ciri khas label yang kini mengalami perubahan logo dari ‘Abee by Ariy Arka’ menjadi ‘ab’. Jika dilihat secara terbalik, ia menjelaskan jika logo itu akan tampak mirip angka delapan dengan tulisan abee di bawah logo.

 

Limbah

Soal upaya untuk ramah lingkungan, Ariy melakukannya lewat penggunaan bahan sisa. "Memang untuk semua koleksi tidak menggunakan bahan yang ramah lingkungan. Namun, saya lebih menggunakan limbah-limbah hasil potongan yang sudah tidak terpakai lagi, yang ada di workshop saya.

Limbah-limbah ini saya pergunakan untuk sentuhan detail-detail dalam setiap koleksi. Jadi lebih ke memanfaatkan limbahnya agar tidak menumpuk dan semakin banyak," jelasnya.

Dalam tampilan set-set pakaian semiformal pada blazer dan outer, Ariy memadukan tekstur dan ketebalan bahan yang berbeda seperti beludru, rajut, denim, twill, organdi, tulle serentak dalam satu tampilan.

Berbeda bahan dasar, pada tote bag dan tas pinggang berukuran medium, large dan over sized, dibuat dari beragam sisa bahan seperti terpal, karung plastik, kemudian dibubuhkan dengan ornamen twill, denim, dan lainnya.

Soal antisipasi di masa pandemi ini Ariy menjelaskan jika pekerja semakin ditingkatkan kebersihan dan upaya menjaga kesehatannya. "Kami mempersiapkan semua alat penunjng kebersihan dalam proses produksi, mulai hand sanitizer, masker, proses cuci, ruang/area kerja yang setiap saat harus selalu dibersihkan serta steam menjadi concern kami," tuturnya.

Tidak hanya itu manajemen Abee Indonesia juga berupaya untuk ikut aktif meningkatkan kesadaran masyarakat dengan mengunggah imbauan-imbauan terkait pencegahan penularan covid-19 melalui media sosial resmi mereka. (M-1)

BERITA TERKAIT