05 April 2020, 06:05 WIB

Menikmati Nasi Jeruk di Masa Stay at Home


Fetry Wuryasti | Weekend

ADANYA pandemi covid-19 memang membuat perubahan drastis pada kehidupan sosial, termasuk kebiasaan makan di luar. Meski begitu, berdiam di rumah tidak berarti membuat kita kehilangan kesempatan untuk menikmati kuliner nikmat.

Beragam kedai dan restoran telah mengantisipasi masa pandemi ini dengan semakin menonjolkan layanan antar. Itu pula yang dilakukan Nasi Jeruk Tanggal Tua, yang sesungguhnya memang sejak awal menyasar pasar penggemar layanan antar.

Tidak hanya memaksimalkan layanan dengan aplikasi online, tapi juga usaha kuliner yang terkenal dengan harga ekonomis itu memperpanjang program harga diskon, yang mereka sebut dengan Harga Tanggal Tua, selama April. Harga tersebut 40% di bawah harga normal atau menjadi Rp19.500 per besek.

Bukan itu saja, melainkan juga mereka mengajak pembeli untuk mendukung para tenaga medis, yang menjadi garda depan perang melawan covid-19, dengan menyediakan paket donatur yang diinginkan pembeli untuk dikirim ke rumah sakit.

Sementara itu, bagi pembeli yang tetap datang langsung ke restoran, akan dicek suhu tubuhnya. Restoran juga menyediakan gel pembersih, selain tentunya tempat cuci tangan, yang memudahkan setiap pengunjung untuk membersihkan tangan.

Untuk sajiannya, ada sekitar delapan varian lauk Nasi Jeruk Tanggal Tua, di antaranya ialah nasi jeruk dengan ayam cabai kering, dori sambal matah, dendeng geprek, dendeng cabai ijo, dan ayam tangkap Aceh.

Ketika besek bambunya dibuka, aroma nasi jeruk tercium begitu wangi. Ditumpuknya bagian atas dengan nasi dan lauk, setengah telur rebus yang diberi sambal balado, selada, dan kering kentang, tampilannya menjadi padat sekali.

Karena memang ditanak bersama daun jeruk, serai, dan lainnya, warna nasi menjadi agak butek disertai dengan serpihan daun jeruk. Selain wangi jeruk yang menggugah selera makan, rasa rempah serainya juga kental, dengan rasa gurih yang tipis.

Ayam tangkap Aceh bisa dikatakan sebagai sajian yang sayang dilewatkan. Daging ayamnya tersaji dalam potongan-potongan dadu kecil digoreng tanpa tepung. Ayam ini kaya rasa rempah, dengan daun koja menjadi ciri khasnya.

Bila ingin yang lebih berwarna rasanya, Anda bisa memilih lauk ayam cabai kering. Tampilannya seperti kungpao chicken, hanya lebih kering dan cokelat pekat. Meski namanya terdengar pedas, tenang saja, kepedasannya terasa samar dan lebih cenderung manis umami.

Audi Riri Mestika Rachman, sang pemilik, menuturkan jika konsep restoran tersebut diangkat dari salah satu makanan favorit di restorannya yang lain, yaitu Eighty Nine.

Pada akhir 2018, dia dan tim beride untuk bisa membuat suatu menu makanan berat yang bisa dijangkau semua kalangan, terutama dengan layanan pesan antar, yang saat itu hingga kini memang digandrungi. "Dari makanan paling laku di Eighty Nine, yaitu nasi jeruk, kami membuat versi minimalisnya. Kemudian saya berpikir harus membuat nama yang mudah diingat, yaitu Tanggal Tua," cerita Riri di Jakarta, Kamis (12/3).

Meski menyuguhkan versi minimalis, jangan khawatir soal urusan kenyang. Porsi nasi yang mencapai setengah dari tinggi besek, dengan ukuran 15x15x10 cm, itu terasa cukup mengenyangkan buat saya, walau mungkin belum cukup bagi Anda yang terbiasa dengan porsi besar.

Bagi penyuka daging, Anda bisa memilih lauk dendeng. Selain dengan sambal geprek, dendeng ini lebih segar ketika dicolek ke sambal matah daripada pasangannya, yaitu sambal ijo.

Sambal matahnya nendang pedasnya dengan ekstra bawang, yang membuat Anda semakin lahap untuk suapan berikutnya. Yang tidak kalah menggugah selera ialah kering kentang yang begitu garing dan gurih. Keberadaannya melengkapi hidangan seporsi nasi jeruk yang jadi terasa melimpah lauk.

Sementara itu, untuk lauk yang cenderung ke comfort food, ada lauk kekinian, seperti ayam crispy, ayam chili garlic, ayam salted egg chili garlic, juga nasi jeruk gila.

"Kami baru tambah lagi dengan menu paru dan cumi hitam. Sekarang pemesanan juga bisa ala carte sesuai keinginan pembeli," jelas Riri.

 

Ramah lingkungan

Sejak pandangan pertama, kemasan berupa besek bambu bisa dikatakan ikut menjadi daya tarik nasi jeruk ini. Riri menjelaskan jika kemasan tersebut merupakan komitmen untuk lebih ramah lingkungan.

Meski begitu, tidak mudah menjaga pasokan besek yang datang dengan ukuran seragam. "Kesulitannya, kebutuhan sekali order 10 ribu besek. Dari jumlah itu biasanya sebanyak 5.000 buah kami kembalikan. Jadi, memang ada biaya-biaya yang harus ditambahkan, tetapi kami mau membuat bungkusan besek sebagai kesadaran semua pihak untuk lebih ramah lingkungan," ujar Riri.

Sebagai bentuk komitmen sadar lingkungan pula, restoran tidak menyediakan sendok garpu secara cuma-cuma. Hal itu untuk mendorong pembeli menggunakan sendok dan garpu sendiri.

Dengan kisaran harga normal Rp25 ribu-Rp39 ribu per kotak, pangsa pasar Nasi Jeruk Tanggal Tua ini cukup luas, mayoritas memang bagi pegawai kantoran. Perbandingannya 60:40 dengan konsumen yang memesan besek nasi jeruk untuk acara selamatan atau arisan di rumah, yang bisa dipesan tanpa minimum syarat. Bahkan, nasi jeruk ini telah menjadi salah satu menu makan siang Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Ishii Masafumi, pada September 2019 lalu.

Total sampai hari ini terdapat tiga cabang yang berdiri, yaitu di Kemang, Cipete, dan Panglima Polim. Mereka juga ambil bagian di lima kitchen cloud di Go Food Festival. "Dalam waktu dekat kami akan membuka cabang yang berdiri di Tebet Timur, Jakarta Selatan, dan Kalimalang, Jakarta Timur," tukas Riri. (M-1)

BERITA TERKAIT