04 April 2020, 15:00 WIB

Rekomendasi Film #DiRumahAja: Crip Camp, Revolusi dari Kursi Roda


Fathurrozak | Weekend

ERA akhir 60-an hingga awal 70-an, dunia tengah dilanda budaya hippie. Budaya itu adalah salah satu bentuk ekspresi protes anak-anak muda di Amerika yang menentang kekerasan, termasuk perang di Vietnam. 

Di luar hiruk pikuk itu, ada kisah lain yang juga tidak kalah penting. Bahkan, boleh disebut menjadi warisan paling berpengaruh hingga kini. Cikal bakalnya ialah Camp Jened. Suatu perkemahan atau barak musim panas yang diinisiasi para hippie sebagai ruang inklusif para difabel. 

Di Jened, anak-anak muda difabel berdatangan. Ada peserta kamp, ada pembimbing. Di kamp tersebut, mereka berada pada satu level yang sama tanpa memandang keterbatasan fisik maupun perbedaan kelas. Semua berhak untuk berbicara, dan didengarkan.

Gambaran prinsip egaliter itulah yang diangkat dalam dokumenter terbaru Crip Camp, A Disability Revolution. Disutradarai Jim Lebrecht, yang pernah menjadi peserta kamp itu sendiri dan ko-sutradara Nicole Newnham, film ini diawali dari kisah personal Jim. 

Sebelum masuk ke kamp, Jim bersekolah di sebuah sekolah negeri, sebuah kondisi yang amat langka bagi para difabel saat itu. Banyak dari mereka yang bahkan tidak diterima di sekolah, karena dianggap membahayakan keamanan yang lain.

Gambar-gambar dirangkai lewat rekaman lama Jim di Jened. Saat ia masih berusia 15 tahun. Dengan gambar hitam putih dan berwarna. Jim mewawancarai teman-temannya di sana. Merekam kegiatan, baik dari diskusi, bermain, atau bernyanyi. 

Dokumenter ini menjadi komprehensif sebab secara utuh mampu menjahit motif film dengan lengkap. Dokumenter biasanya akan memilih salah satu dari tiga ini; character driven, story/issue driven, dan image driven. Sementara Crip Camp mampu menggabungkan ketiganya dengan baik. 

Kisah yang dimulai dari dorongan beberapa karakter, lalu secara lebih luas lagi menangkap isu. Ditambah, bukan menaruh lensa pada eksploitasi gambar dramatis para difabel. Sehingga menempatkan kita sebagai penonton memandang mereka sebagai subyek, bukan obyek yang tidak berdaya. 

Salah satu gambar yang amat penting tentu ialah ketika Judy Heumann, yang kelak dikenal sebagai aktvis hak difabel paling gigih, memimpin pergerakan Disabled in Action (DIA) dalam menduduki gedung pemerintahan di San Fransisco, dan berpindah ke New York untuk menuntut Menteri Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan Amerika Serikat saat itu, Joseph Califano. 

Selama lebih dari 20 hari, gerakan DIA dengan agenda 504 itu menjadi revolusi yang dijalankan dari kursi roda. Revolusi yang mampu mengubah tatanan kehidupan menjadi lebih inklusif. Gedung-gedung sekolah, fasilitas publik, termasuk trotoar, didesain untuk mampu mengakomodasi dan melibatkan mereka menjadi bagian dari masyarakat. Kita melihat desain stasiun kereta dengan tangga yang amat tinggi dan tidak tersedianya lift atau tempat landai, toilet yang tidak memadai akses. Dan pada akhir film, situasi tersebut telah mengalami banyak perubahan. 

Kondisi itu, tentu menjadi sangat relevan hingga saat ini. Memori kolektif dunia mungkin lebih mengingat flower generation dengan tagline Make Love Not War-nya. Namun, Crip Camp memberi peluang kita untuk menengok akar revolusi radikal yang mampu mendorong peraturan untuk mengakomodasi persamaan hak kaum difabel sebagai sesama warga sipil. Di Indonesia, mungkin bahkan masih banyak pula fasilitas publik yang belum mengakomodasi difabel. Termasuk, persamaan atas hak pendidikan. 

Crip Camp adalah gambaran yang memberi ruang bagi kita untuk melihat kisah lain dari era 70-an. Era saat kaum hippie menolak kekerasan, dan muncul simbol Bed Ins for Peace, para alumni Jened mendorong kursi roda turun ke jalan, berunding dengan pemerintah, mengagitasi pergerakan yang merevolusi kehidupan yang lebih inklusif dan berdampak pada cara pandang kita saat ini. Tayang perdana di Sundance 2020, Crip Camp saat ini bisa disaksikan di layanan streaming Netflix. (M-1)

BERITA TERKAIT