04 April 2020, 09:07 WIB

Gerakan Lawan Covid-29, Dari Bagi-bagi Ember Hingga APD


Alexander P Taum | Nusantara

MELAWAN Covid-19, dua komunitas rakyat di Lembata, Nusa Tenggara Timur secara swasdaya melakukan pencegahan penularan Covid-19. Wakil Bupati Lembata, Dr. Thomas Ola Langoday bahkan memuji langkah kedua komunitas tersebut. Sepekan lebih 20 pemuda di Taman Daun, sebuah taman bacaan di Beluwa, Kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur membuat wadah pencuci tangan seperti ember yang kemudian dibagikan ke masyarakat secara gratis.

Padahal modal yang dikeluarkan lebih dari Rp20 juta. Lebih dari 500 wadah pencuci tangan sudah disalurkan ke puskesmas, puskesdes, dan IGD rumah sakit. Tidak ketinggalan tempat pencuci tangan ini juga dipasang di fasilitas publik di 9 kecamatan.

John Batafor, penanggung jawab relawan Taman Daun kepada Media Indonesia mengatakan bahwa sudah tidak terhitung jumlah tempat pencuci tangan yang diproduksi komunitasnya. 

"Sudah lebih dari 500 ember. Saya tidak tahu lagi berapa banyak yang kami buat," kata John, Jumat (3/4).

"Uang yang saya keluarkan hampir mendekat Rp30 juta. Saya tidak tahu jumlah pasti, karena saya tidak pakai nota dan saya tidak peduli itu," tambahnya.

Uang yang digelontorkan adalah hasilnya melaut, menjual ikan sebelum wabah korona menjadi pandemi. Bahkan banyak orang menanyakan dan tidak percaya uang pribadinya untuk disumbangkan melawan Covid-19.

"Kalau untuk apresiasi dari pihak manapun, sumpah saya tidak ingin. Atau mungkin sudah ada tetapi saya tidak tahu. Tetapi jujur, bahwa saya tidak butuh apresiasi, karena yang saya butuh adalah kita semua harus bergandeng tangan perangi virus ini, hingga pada akhirnya kita semua selamat sampai bencana global ini berakhir," tegas John.

Menurutnya, vaksin untuk menangkal virus korona ada tiga hal, yakni selalu mencuci tangan, masker dan tetap di rumah saja.

"Itu kesimpulan dan keyakinan saya. Maka saya memulai memberikan wadah mencucui tangan kepada seluruh puskesmas dan poskesdes, agar selain para medis, warga juga dapat memanfaatkan wadah untuk selalu mencucui tangan. Cara mudah mematikan virus ini," ujar John.

Awal mula membuat wadah pencuci tangan, saat ia membeli 10 buah wadah pencuci tangan. Wadah itu ia bagikan  kepada seluruh keluarga besarnya. Namun kemudian banyak warga yang meminta wadah pencuci tangan itu. Ia kemudian membeli lagi 50 gentong air lagi untuk dibagikan gratis. Namun permintaan semakin tinggi memaksanya untuk merakit sendiri wadah terbuat dari tong. 

Menurut John Batafor, tingginya animo warga meminta wadah pencuci tangan karena terdorong rasa takut terhadap penularan virus korona, disamping alasan gratis.

Selain Taman Daun, Forum Pengurangan Risiko Bencana juga secara swadaya menyediakan alat pelindung diri (APD) sederhana buatan sendiri. APD itu terbuat dari kertas mika serta bahan lokal yang mudah didapat. Meski sederhana, dalam uji coba kepada para medis, alat itu terbilang nyaman dan aman. Alat pelindung diri itu menurut rencana akan diberikan kepada para medis yang menjadi garda terdepan penanganan virus korona.

baca juga: Covid-19 di Klaten, ODP 1.140 Orang, 1 Positif

"Sampai dengan hari ini kita sudah siapkan 642 buah APD berupa penutup wajah hasil modifikasi sendiri. APD ini khusus untuk tenaga kesehatan. Sejauh ini kita sudah membagikan 60 PD kepada tenaga medis," kata Alexander Raring, pegiat Forum Pengurangan Risiko Bencana Lembata. (OL-3)


 

BERITA TERKAIT