04 April 2020, 09:35 WIB

Buka Layanan Isolasi Mandiri , Hotel Perlu Perhitungkan Resiko


Hilda Julaika | Ekonomi

Beberapa hotel di Indonesia mulai melakukan penawaran untuk layanan kamar isolasi mandiri dari Covid-19.

Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Haryadi Sukamdani mengatakan hal ini lumrah terjadi dalam bisnis karena melihat peluang yang ada. 

Meski begitu, pihaknya mengatakan pelaku usaha tetap perlu menghitung resiko penularan yang mungkin terjadi.

"Ya karena ada peluangnya, biasalah. Ada peluang ada resiko tinggal masing-masing hotel mengkalkulasi resikonya seperti apa. Karena peluang juga di tengah-tengah situasi seperti ini," ujarnya pada Media Indonesia, Jumat (3/4).

Namun, di lapangan menurut Haryadi baru sedikit hotel yang memberanikan diri untuk membuka layanan ini. Karena terdapat peluang penularan virus kepada staf hotel yang bekerja. Menurutnya, resiko yang diakibatkan layanan seperti ini memang cukup besar maka memang tidak banyak hotel yang melakukannya.

"Ada aja sih yang melakukan itu. Dan itu, kalau pun ada gak banyak. Kalaupun ada tidak seperti normal. Itu memang ada dan di pihak pemilik hotel itu juga ada kekhawatiran terhadap virus malah justru menulari stafnya," celetuknya.

Haryadi membetulkan adanya kebutuhan juga dari masyarakat untuk mendapatkan jasa kamar guna isolasi diri. Dan pihaknya pun menyerahkan keputusan kepada masing-masing hotel. Namun, pihaknya mewanti-wanti untuk memperhitungkan resikonya.

Menurut informasi yang disampaikan Heryadi, pekan depan beberapa hotel sudah mulai bisa menerima tamu yang menginap untuk tujuan isolasi diri ini. Baik sebagian hotel milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun milik swasta.

"Teman-teman (pelaku usaha hotel) juga wait and see, kalau teman-teman batch pertama aman baru mereka berani buka layanan yang sama. Kita lihat saja, karena resikonya. Banyak pertimbangannya karena hotek tidak didesain untuk rumah sakit. RS saja hanya yang rujukannya untuk periksa Covid-19," jelasnya. (E-1)

BERITA TERKAIT