03 April 2020, 19:53 WIB

Pandemi Covid-19 Picu PHK Massal di Dunia


Nur Aivanni | Internasional

TERHAMBATNYA operasional perusahaan sekaligus menurunnya pendapatan di tengah pandemi virua korona covid-19 memaksa perusahaan di dunia melakukan penghematan, salah satunya lewat pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan.

Di Amerika Serikat, lebiih dari 50 perusahaan startup telah memangkas atau memberikan cuti sekitar 6.000 karyawan dalam beberapa minggu terakhir.

Dikutip dari New York Times, perusahaan perjalanan seperti Vacasa, pengecer seperti Everlane dan mempekerjakan layanan seperti ZipRecruiter beralih ke PHK.

Perusahaan yang lebih besar seperti Airbnb telah menangguhkan rekrutmen dan membekukan pemasaran senilai US$800 juta. Startup Bird memberhentikan sepertiga dari tenaga kerjanya dari jarak jauh.

Kendati demikian, beberapa startup masih dapat memperoleh dana, terutama jika bisnis mereka terkait dengan kerja jarak jauh atau kegiatan lainnya yang mendapatkan dorongan selama masa karantina wilayah atau lockdown.

Baca juga : Korban Virus Covid-19 Belgia Melonjak Lewati 1.000

Perusahaan tersebut, seperti Notion, pembuat perangkat lunak kolaborasi yang baru-baru ini mengumpulkan $50 juta pada penilaian $2 miliar.

Sementara itu, dikutip dari The Guardian, industri penerbangan juga sangat terpukul dengan diberlakukannya pembatasan perjalanan karena krisis virus korona. Ribuan staf telah diberhentikan sementara atau mengambil cuti tidak berbayar.

Maskapai penerbangan Inggris, British Airways, akan menangguhkan lebih dari 30.000 staf, mulai dari awak kabin hingga staf, insinyur, dan karyawan kantor pusat, hingga akhir Mei di bawah skema cuti pemerintah untuk perusahaan-perusahaan yang terkena pandemi virus korona.

British Airways, yang mendaratkan (grounded) semua pesawatnya di bandara Gatwick minggu ini, mengatakan semua karyawan yang ditangguhkan tersebut akan dibayar 80% dari gaji mereka dengan ketentuan skema negara yang membatasi pembayaran hingga 2.500 pound sterling per bulan.

British Airways mempekerjakan 45.000 orang dan telah mencapai kesepakatan terpisah dengan 4.000 pilotnya yang akan mengambil cuti tidak berbayar selama empat minggu antara April dan Mei.

Perusahaan induk British Airways, International Airlines Group, juga mengumumkan telah memutuskan untuk mengurangi kapasitas kursi, sebesar 90% pada bulan April dan Mei dibandingkan dengan tahun lalu.(New York Times/The Guardian/OL-7)

BERITA TERKAIT