03 April 2020, 19:43 WIB

Mendikbud Siapkan 5 Strategi Benahi Pendidikan


Dhika Kusuma Winata | Humaniora

PRESIDEN Joko Widodo meminta dilakukan perbaikan menyeluruh terhadap standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional mengacu kepada survei Programme for International Student Assessment (PISA). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menyampaikan ada lima strategi besar untuk menjalankan perbaikan tersebut.

"Kami sudah sepakati ada sekitar lima strategi besar terkait hasil PISA ini," ucap Nadiem dalam konferensi video di Jakarta usai rapat terbatas dengan Presiden, Jumat (3/4).

Baca juga: Pemkot Denpasar Perketat Penjagaan Warga Ke Luar Rumah

Nadiem memaparkan strategi pertama ialah mengubah standar penilaian sendiri yang sebelumnya dilakukan melalui Ujian Nasional (UN) menjadi assesment kompentensi minimum dengan mengambil rujukan dari PISA.

"Soal-soal (assesment) pun melekat dengan PISA tapi karena PISA hanya untuk usia 15 tahun maka kami akan menurunkan ke SD, SMP, SMA. Jadi ada setiap jenjang mengikuti standar internasional yaitu PISA dalam pemetaan pendidikan karena UN standarnya lokal, tapi assesment pendidikan kita internasional," jelas Nadiem.

Nadiem mengatakan dalam assesment kompetensi tersebut yang dites bukan hanya aspek kognitif saja tapi juga karakter dan yang berhubungan dengan norma, kesehatan mental, kesehatan moral, dan kesehatan anak-anak di masing-masing sekolah.

Strategi kedua, imbuh Nadiem, yakni transformasi kepemimpinan sekolah untuk memastikan guru-guru penggerak terbaik yang di berbagai daerah yang berkesempatan menjadi kepala sekolah. Guru-guru terbaik yang diproyeksikan menempati posisi pimpinan sekolah tersebut juga akan mereka diberikan fleksibilitas dan otonomi dalam penggunaan anggaran dan penggunaan teknologi.

"Ini untuk meminimalisasi beban administrasi mereka sehingga bisa fokus kepada mentoring guru-guru di dalam sekolah mereka," ujarnya.

Ketiga, strategi yang akan dijalankan ialah meningkatkan kualitas pendidikan profesi guru atau PPG agar bisa mencetak guru yang berkualitas. Untuk itu, Kemendikbud akan membuka program profesi guru lokal dan internasional agar terjadi transfer pengetahuan dan keterampilan.

"Jadi pabrik guru kita harus diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya. Pelatihan guru sekarang sifatnya jangan hanya teoritis tapi praktik dan ada pelatihan dengan sekolah-sekolah yang kualitasnya lebih baik jadi bukan hanya seminar tapi dengan interaksi antara guru dan guru," imbuh Nadiem.

Keempat, ujar mantan bos Gojek itu, ialah melakukan transformasi pengajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Menurutnya, saat ini banyak silabus dan kebijakan pengajaran sangat ketat. Banyak guru tidak bisa mengajar dengan tingkat kemampuan siswa yang berbeda-beda.

"Jadi kurikulum harus lebih fleksibel dan sederhana dan orientasi kompetensi dan dibantu juga dengan platform-platform online yang membantu segmentasi pembelajaran. Jadi semua murid tidak harus mengerjakan tugas yang sama misalnya murid dengan kemampuan yang berbeda mengerjakan project yang berbeda," ucapnya.

Baca juga: 95 Orang Tenaga Medis Terpapar Covid-19

Kelima, lanjut Nadiem, strategi pembenahan pendidikan bertumpu pada filosofi bahwa semua transformasi atau perubahan tidak hanya pada Kemendikbud semata. Ia mengajak partisipasi semua stakeholder pendidikan untuk melakukan pembenahan bersama-sama.

"Kemitraan kita dengan daerah dan berbagai organisasi penggerak akan ditingkatkan. Kami percaya partisispasi masyarakat, organisasi, perusahaan-perusahaan yang punya passion di pendidikan, efek teknologi startup di pendidikan semua dirangkul untuk menyasar pendidikan pembelajaran siswa," tandasnya. (OL-6)
 

BERITA TERKAIT