03 April 2020, 11:34 WIB

Pandemi Covid-19 Picu Gangguan Mental Masyarakat Dunia


Deri Dahuri | Internasional

Pandemi virus korona tipe bau atau Covid-19 telah membawa dunia ke kondisi yang tidak terduga sebelumnya. Masyarakat di muka bumi tidak berdaya menghadapi ancaman yang terlihat tersebut. Mereka pun tidak bisa memastikan sampai kapan wabah menewaskan 47.273 orang di dunia akan berakhir.

Hingga Kamis (2/4), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan hampir 1 juta orang di seluruh dunia telah terinfeksi Covid-19. Dengan begitu besarnya kasus positif Covid-19, angka kematian masih akan terus bertambah.

Pandemi Covid-19 bukan lagi persoalan kesehatan semata. Bahkan virus yang berasal dari Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok tersebut turut menggoyahkan perekonomian internasional dan menciptakan krisis ekonomi, sosial, dan pelayanan kesehatan.

Baca juga : Malaysia Bantah Berita Pengusiran WNI

Bahkan seorang dokter terapi militer AS mengatakan bahwa sebagian masyarakat mengalami gangguan psikologis dan tekanan jiwa akibat dampak Covid-19. Karena itu, ia menegaskan bahwa masyarakat perlu mendapat penanganan psikologis.    

"Orang-orang mengalami tingkat kecemasan yang sangat tinggi," kata Sonya Lott, seorang psikolog yang berkerja di Philadelphia, Amerika Serikat (AS) kepada AFP. Lott dikenal sebagai psikolog khusus konseling dalam mengatasi kesedihan.

"Ini adalah ketakutan akan hal yang tidak diketahui karena kita belum pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya," ujar Lott.

Dia mengatakan orang Amerika, seperti orang lain di seluruh dunia, mengalami duka yang mendalam banyak  dengan berbagai tingkatan karena dampak  pandemi Covid-19 yang masih mewabah cepat di seluruh dunia.

"Satu-satunya hal yang kami alami di Amerika yang mendekati pandemi ini adalah peristiwa 9/11," kata Lott.

"Dan bahkan kemudian (saat peristiwa 9/11), kita bisa berlari pulang dan bersama-sama dan berpelukan. Sekarang, bahkan ketika kita di rumah, kita seharusnya tidak berpelukan," tuturnya.

Holly Daniels, Direktur Pelaksana Bidang Klinis dari California Association of Marriage and Family Therapists yang beranggotakan 32 ribu profesional kesehatan mental, mengatakan ada peningkatan jumlah orang yang perlu mendapat bantuan psikologis.

Menurut sebuah jajak pendapat Kaiser Family Foundation yang dirilis pada Kamis (2/4), pandemi Covid-19 telah mempengaruhi kesehatan mental hampir setengah dari masyarakat di AS.

"'Tinggal di rumah lebih aman  adalah imbuan yang luar biasa untuk mencegah tertular virus korona, tetapi bagi banyak orang, rumah bukanlah tempat yang aman," kata Daniels.

"Angka bunuh diri akan naik karena orang-orang sendirian dan terisolasi dan berada di rumah benar-benar situasi yang tidak aman bagi mereka," jelas Daniels.

Daniles mengatakan untuk mengatasi dampak kecemasan akibat Covid-19, para terapis harus membuka konseling secara online. Mereka yang menghadapi tinggi hasru mendapat bimbingan dari terapi bisa melalui media sosial.

 Untuk mengatasi masalah psikologis, Daniels dan Lott menyarankan kepada masyarakat untuk melakukan hal yang positif mislanya melakukan meditasi, beolahraga, dan chatting secara online dengan teman dan orang yang dicintai untuk mengurangi kecemasan. (AFP/OL-09)

 

 

BERITA TERKAIT