03 April 2020, 08:40 WIB

Menembus Jakarta demi Keluarga


Yakub Pryatama Wijayaatmaja | Megapolitan

AGUNG, karyawan di salah satu perusahaan perbankan di Jakarta, masih harus bekerja di tengah wabah virus korona. Warga Bogor, Jawa Barat, itu, tidak beruntung karena kantornya tetap meminta masuk untuk menjalankan rutinitas seperti biasa.

Di kala pegawai dari perusahaan lain sudah nyaman bekerja dari rumah alias work from home (WFH) seperti imbauan pemerintah, tidak demikian dengan Agung.

Setiap hari, ia terpaksa menembus Jakarta dari Stasiun Cilebut Bogor menggunakan commuter line (KRL). Sebelum kereta datang, Agung mengaku para pengguna KRL sudah ramai menunggu.

Ia pun sangat mengetahui risiko penyebaran virus korona via transportasi publik cukup tinggi. "Apalagi, selalu penuh di pagi hari, sulit untuk tidak berdesakan," ujarnya kepada Media Indonesia, akhir pekan lalu.

Agung masih bisa bersyukur karena di kala senja dirinya bisa menjaga jarak dengan penumpang lain. Maklum, saat itu KRL kebetulan lebih lowong dari biasanya.

Ia mengaku sejauh ini belum mendapat perintah untuk menjalani tes kesehatan meski dirinya setiap hari menggunakan moda transportasi darat itu. "Demi istri dan keluarga, saya harus tetap bekerja. Padahal, saya tahu risikonya menggunakan KRL," katanya.

Selain Agung, Isnan yang merupakan seorang pegawai di salah satu e-commerce start-up juga masih harus berjibaku dengan jalanan saat pemerintah meminta untuk di rumah.

Isnan menyampaikan kebijakan ini justru digeluti perusahaan ritel karena menjadi peluang besar untuk mengembangkan usaha.

"Kebijakan masyarakat untuk work from home (WFH) justru menjadi peluang kami untuk mengais rezeki karena hampir 24 jam orang bermain telepon seluler," tutur Isnan.

Namun, Isnan tak menampik di tengah wabah korona dirinya sangat khawatir dengan kondisi sendiri. "Perasaan saya jujur takut, kewaspadaan saya juga semakin meningkat. Sekarang kalau keluar, tegang banget. Sekarang juga saya mempersiapkan diri dengan minum vitamin dan selalu cuci tangan," kata dia.

Pengorbanan yang harus dilakukan Agung dan Isnan merupakan bentuk dari ketidakjelasan imbauan pemerintah soal social distancing. Pasalnya, tidak seluruh sektor swasta di Jakarta menjalankan imbauan untuk membiarkan karyawan bekerja dari rumah demi mencegah penularan virus tersebut. (Yakub Pryatama Wijayaatmaja/j-3)

BERITA TERKAIT