02 April 2020, 10:29 WIB

Masyarakat Dayak Gelar Ritual Tolak Bala


Denny Susanto | Nusantara

MASYARAKAT adat suku dayak Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan menggelar ritual tolak bala agar penyebaran wabah virus korona tidak menjangkau wilayah komunitas adat mereka, Kamis (2/4). Para Tetuha Adat Dayak juga memutuskan menutup pintu masuk orang luar ke perkampungan masyarakat adat. Ketua BPH AMAN Hulu Sungai Tengah, Robi Putera, mengungkapkan ritual adat tolak bala digelar pekan kemarin di perkampungan adat Desa Juhu. 

"Ritual tolak bala dilaksanakan guna mencegah berbagai penyakit termasuk maraknya pandemik penyebaran virus korona saat ini," ungkapnya.

Saat ini para tetua adat juga memutuskan wilayah perkampungan suku dayak (Balai) disepakati untuk ditutup sementara dari kunjungan atau kegiatan pihak luar. Salah satunya untuk wilayah Pegunungan Meratus di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, BPH Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) telah menerbitkan imbauan kepada masyarakat adat agar aktifitas di kampung dapat dibatasi untuk sementara. Kebijakan ini juga diberlakukan pada wilayah adat lainnya di Kalsel.

"BPH AMAN dan tetua adat Dayak Meratus Hulu Sungai Tengah menghimbau agar semua kegiatan yang melibatkan atau mengumpulkan orang banyak dari dalam maupun luar  menuju kawasan Meratus baik wisatawan maupun lainnya, terutama jalur Gunung Halau-halau (Bantai) untuk sementara ditutup, kecuali untuk tim kesehatan yang melakukan Poskesmas Keliling (Posling)," tambahnya.

Pembatasan arus masuk orang luar ini praktis membuat jalur pendakian dan obyek wisata kawasan pegunungan Meratus tertutup untuk dikunjungi. Kebijakan ini juga mengacu pada Surat Edaran Sekertaris Jendral AMAN Rukka Sombolinggi, beberapa waktu lalu.

"Ini adalah langkah utama yang dilakukan masyarakat adat Meratus, karena tidak menutup kemungkinan penyebaran virus korona masuk dari luar," kata Wakil Bupati Hulu Sungai Tengah, Berry Nahdian Forqan, Kamis (2/4).

baca juga: Sumbangkan Gaji Selama 4 Bulan Untuk Tanggulangi Covid-19

Selain membatasi jalur masuk perkampungan adat, masyarakat pun mulai menyiapkan kebutuhan pokok sehari-hari untuk menghadapi jika terjadi masa-masa sulit berupa ketersediaan pangan dan obat-obatan tradisional di setiap kampung. Diakui selain infrastruktur yang minim, akses kesehatan di wilayah Pegunungan Meratus masih belum memadai untuk menghadapi serangan wabah virus korona seperti ini, sehingga para tetua bersepakat untuk melakukan langkah cepat. (OL-3)

BERITA TERKAIT