02 April 2020, 09:04 WIB

Trump Ragukan Angka Virus Korona Tiongkok


Nur Aivanni | Internasional

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump meragukan keakuratan angka-angka resmi Tiongkok tentang wabah virus korona setelah anggota parlemen AS, yang mengutip laporan intelijen, menuduh Beijing menutup-nutupi fakta.

"Bagaimana kita tahu mereka akurat?" tanya Trump dalam konferensi pers, seperti dikutip dari AFP, Kamis (2/4). "Jumlah mereka tampaknya sedikit di sisi terang."

Trump menegaskan hubungannya dengan Tiongkok baik dan ia tetap dekat dengan Presiden Xi Jinping.

Baca juga: Pesawat Rusia Pengangkut Alat Medis Tiba di AS

Namun, kontroversi mengenai transparansi Beijing itu telah mempertegang suasana dan memperburuk situasi yang dipicu oleh teori konspirasi di Tiongkok bahwa militer AS yang harus disalahkan atas virus tersebut.

Partai Republik di Kongres, menunjuk pada sebuah laporan Bloomberg mengutip intelijen AS, mengungkapkan kemarahan bahwa Beijing tampaknya menyesatkan komunitas internasional tentang infeksi dan kematian di negara itu akibat Covid-19 yang dimulai pada akhir 2019 di Kota Wuhan.

Pelaporan data Tiongkok sengaja tidak lengkap, dengan beberapa pejabat intelijen menggambarkan angka Beijing palsu, lapor Bloomberg, yang menyoroti dokumen intelijen rahasia yang dikirim ke Gedung Putih, minggu lalu.

Tiongkok secara terbuka melaporkan 82.361 kasus yang dikonfirmasi dan 3.316 kematian per Rabu (1/4), menurut Johns Hopkins University.

Dibandingkan dengan 206.207 kasus dan 4.542 kematian di Amerika Serikat, negara dengan wabah terbesar yang dilaporkan di dunia.

Senator Republik Ben Sasse menyerang angka Beijing sebagai "propaganda sampah."

"Klaim bahwa Amerika Serikat memiliki lebih banyak kematian karena virus korona daripada Tiongkok adalah salah," kata Sasse dalam sebuah pernyataan.

"Tanpa mengomentari setiap informasi rahasia, ini jelas sangat menyakitkan. Partai Komunis Tiongkok telah berbohong, berbohong, dan akan terus berbohong tentang virus korona untuk melindungi rezim," katanya.

Dalam sebuah pernyataan menanggapi laporan itu, Michael McCaul, anggota Komite Urusan Luar Negeri DPR AS dari Partai Republik, mengatakan Tiongkok bukan mitra yang bisa dipercaya dalam perang melawan Covid-19.

"Mereka berbohong kepada dunia tentang penularan virus dari manusia ke manusia, membungkam para dokter dan jurnalis yang mencoba melaporkan kebenaran, dan sekarang tampaknya menyembunyikan jumlah akurat orang yang terkena penyakit ini," kata McCaul.

Dia dan anggota parlemen lainnya telah meminta Departemen Luar Negeri untuk memulai investigasi dengan apa yang disebutnya Tiongkok "menutupi" pandemi tersebut. (OL-1)

BERITA TERKAIT