31 March 2020, 09:30 WIB

Penyandang Disabilitas di Makassar Produksi Masker Sendiri


Ihfa Firdausya | Humaniora

PARA penyandang disabilitas penerima manfaat (PM) di Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Fisik (BRSPDF) Wirajaya, Makassar, memproduksi masker sederhana berbahan kain. Hal ini bertujuan mengatasi kelangkaan masker di pasaran.

Kementerian Sosial (Kemensos) mengapresiasi langkah tersebut. Menurut Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos, Harry Hikmat, inisiatif untuk membuat masker ini merupakan bentuk respon para penerima manfaat guna membantu pemerintah dalam menangani penyebaran covid-19.

"Terutama karena banyak dikeluhkan ketersediaan masker yang langka. Kalau pun ada harganya sudah mahal,” kata Harry dalam keterangan resmi di Jakarta, kemarin (30/3).

Dalam proses produksinya, para penerima manfaat memperhatikan benar prosedur dan standar keamanan kesehatan. Misalnya, untuk memenuhi standar kesehatan dalam pembuatan masker, diberi infiltrasi di sela-sela kain berupa tissu yang bisa diganti setiap jamnya. Demikian halnya untuk kain dasarnya yang bisa dicuci.

“Sementara untuk menjamin sterilisasinya, sebelum dikemas ke dalam plastik, masker tersebut akan melalui proses sterilisasi dengan menggunakan alat sterilisasi yang ada di ruang poliklinik balai,” kata Kepala BRSPDF Wirajaya Syaiful Samad.

Baca juga: Kafe D'Tel Untuk Terapi Kaum Disabilitas Intelektual

Syaiful mengatakan para penyandang disabilitas ini tampak bersemangat membuat masker. Mereka dipandu oleh instruktur dari penjahitan, baik instruktur dari penjahitan wanita, maupun instruktur dari penjahitan pria.

"Nantinya, masker ini digunakan secara internal oleh PM dalam balai. Atau juga bisa digunakan oleh para pegawai di BRSPDF Wirajaya," katanya.

Rencananya masker tersebut juga akan dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan, khususnya kepada warga lanjut usia.

Menurut Syaiful, setiap penerima manfaat bisa memproduksi sekitar 10 lembar masker per hari. Sementara jumlah penerima manfaat yang terlibat dalam pembuatan masker ini sebanyak 10 orang, terdiri dari 5 orang penjahit pria, dan 5 orang penjahit wanita.

“Jadi dari 10 orang yang bekerja, tentu kita bisa produksi sekitar seratus masker per hari” tandas Syaiful. (A-2)

BERITA TERKAIT