31 March 2020, 07:30 WIB

Melihat Tekanan Covid-19 pada Ekonomi Global


Aries Heru Prasetyo Data scientists Associate Dean for Research and Innovation PPM School of Management | Opini

EMPAT bulan sudah virus korona (covid-19) menjadi pandemi dunia. Virus yang semula ditemukan di Kota Wuhan, Tiongkok, itu kini malah memakan korban yang lebih besar di negara-negara Eropa seperti Italia, Prancis, dan Swiss.   

Ancaman yang sama juga tengah dialami negara-negara di Timur Tengah dan di Asia Tenggara. Indonesia pun kini tengah berjuang melawan keganasan virus itu. Dengan kekuatan mutasi yang sangat tinggi, pemerintah sejumlah negara dihadapkan pada alternatif yang cukup sulit. Kebijakan social distancing mulai banyak diragukan efektivitasnya. Demikian pula dengan kebijakan lockdown.

Karakteristik budaya dan kebiasaan masyarakat setempat ternyata belum menjamin efektivitas kedua pembatasan tersebut. Hasilnya peningkatan jumlah kasus positif covid-19 di sejumlah negara terus bertambah. Satu per satu perusahaan mengubah alur operasi mereka. Pemberlakuan bekerja secara remote atau yang dikenal dengan work from home (WFH) kini menjadi alternatif terbaik. Tak hanya itu, penutupan sementara sejumlah fasilitas produksi telah membuat stabilitas kurva penawaran dan permintaan pasar terganggu.

Selanjutnya kebijakan lockdown yang dilakukan pemerintah Tiongkok selama Januari hingga awal Maret lalu telah menurunkan tingkat produksi di negara itu hingga 13,5%. Angka penjualan domestik di sana juga terkena imbasnya. Sebagai contoh, sektor otomotif di Tiongkok mengalami penurunan penjualan hingga 86% di Februari.

Sejumlah diler kini memilih untuk melakukan aktivitas penjualan melalui daring, seperti yang dilakukan produsen Tesla dan Geely. Analisis pasar menunjukkan sejak Februari, orientasi konsumen baik di negara-negara maju maupun berkembang telah berubah secara signifikan.

Produk-produk tersier kini mulai ditinggalkan karena masyarakat cenderung terfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, khususnya makanan dan kesehatan. Realitas itu secara otomatis telah membuat pasar bergerak pada kondisi yang serbatidak pasti. Sampai dengan 27 Maret 2020, respons pasar modal terlihat sangat pesimistis. Indeks Nikkei turun hingga 16,4% dari posisi pembukaan perdagangan di awal Januari tahun ini.

Demikian pula indeks Dow Jones yang mengalami penurunan hingga 21,9% serta indeks Financial Times Stock Exchange turut mengalami penurunan hingga 26,6%. Realitas yang sama juga terjadi di Bursa Efek Indonesia. Indeks bursa di pasar Indonesia dibuka pada level 6.283,58 pada awal perdagangan di tahun ini. Kemudian pada 24 Maret lalu sempat menyentuh angka 3.937,63 dan ketika artikel ini ditulis, posisi mulai beranjak naik di posisi 4,358.43. Tak dapat dimungkiri, kepanikan akibat virus itu telah menghancurkan pasar modal.

 

Mirip 2008

Ungkapan data di atas secara langsung telah membunyikan lonceng krisis ekonomi dunia. Di Amerika Serikat sendiri, sejak virus merebak, sedikitnya terdapat 3,28 juta masyarakat yang mengajukan klaim atas unemployment benefits. Angka itu tentunya cukup spektakuler karena hampir mirip dengan kondisi saat terjadi krisis keuangan di 2008. Di sisi lain, empasan covid-19 sangat kuat terjadi di sisi pariwisata. Hingga akhir Maret ini telah terdapat lebih dari 100 negara yang masuk kategori travel restrictions.

Analisis yang dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi flight radar 24 menunjukkan penurunan jumlah penerbangan yang sangat signifikan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan covid-19 sebagai sebuah pandemi. Pada awal Maret, jumlah total penerbangan dunia tercatat di angka 160 ribu lebih, kemudian meningkat hingga di atas 180 ribu pada 5 Maret. Namun, setelah pengumuman WHO, tren penurunan jumlah penerbangan terlihat begitu drastis. Pada 26 Maret, frekuensi penerbangan kurang dari 100 ribu. Setidaknya terdapat 50% penurunan jumlah penerbangan. Itu berarti setiap maskapai penerbangan paling tidak telah menurunkan jadwal penerbangan mereka, baik untuk skala domestik maupun internasional.

Empasan gelombang covid-19 juga terjadi di sektor minyak. Setelah berhasil mengalami peningkatan pada Juni 2001 dan sempat menyentuh titik tertinggi di periode 2007-2010, kini harga minyak dipaksa turun sampai ke level US$22,65 per barrel. Kondisi itulah yang membuat beberapa institusi keuangan menurunkan angka estimasi pertumbuhan ekonomi dunia ke angka 2,4%.

Kinerja ekonomi dunia di semester satu hanya diprediksi akan mengalami pertumbuhan sebesar 1,5% karena kebijakan penghentian produksi yang menjadi pilihan terbaik. Ini berarti bila para pemain mampu mengejar ketertinggalan di semester dua 2020, angka 2,4% akan dapat diraih dengan pasti.

Meskipun tekanan covid-19 terjadi di semua sektor ekonomi, kebijakan social distancing maupun lockdown ternyata juga memberikan efek positif. Salah satunya ialah penurunan tingkat pencemaran lingkungan yang terjadi di sejumlah kota besar. Penurunan jumlah emisi di kota-kota besar di Eropa seperti Paris, Milan, dan Madrid selama beberapa pekan terakhir terjadi secara masif.

Tanpa disadari, kehadiran virus itu telah mengajak semua pihak untuk menghentikan aktivitas rutin mereka, seraya memberikan kesempatan bagi Bumi tempat kita berpijak ini untuk beristirahat. Semoga kita mampu merancang strategi yang tepat guna menghadapi kondisi pascapandemi.

Pekerjaan rumah dalam menghidupkan kembali perekonomian baik nasional maupun global tetap setia menunggu. Kini marilah kita bergandengan tangan guna kembali membangun Indonesia kuat.

 

BERITA TERKAIT