31 March 2020, 07:30 WIB

Merdeka dalam Pandemi


Jamal Wiwoho Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta Agus Kristiyanto Wadir 1 Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta | Opini

GEBRAKAN Mendikbud Nadiem Anwar Makarim tentang Kampus Merdeka mulai ditata pada awal 2020 untuk diimplementasikan di seluruh perguruan tinggi se-Indonesia. Setidaknya terdapat empat item inti perencanaan Kampus Merdeka. Pertama; pembukaan program studi baru; kedua, sistem akreditasi perguruan tinggi; ketiga, perguruan tinggi negeri badan hukum (PTN-BH); dan keempat, hak belajar tiga semester di luar program studi.

Gagasan inovatif yang menjadi inti kultur dan keperilakuan masyarakat kampus ialah kemerdekaan sistem pembelajaran yang terutama berbasis teknologi 4.0. Teknologi ini memunculkan orientasi baru pada pencapaian akselerasi dalam aneka output maupun outcome.

Belum juga secara keseluruhan langkah taktis tersebut mulai terimplementasikan, gelombang pandemi coronavirus disease 2019 (covid-19) datang menghantam sistem kehidupan masyarakat secara global, tak terkecuali Indonesia.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana Republik Indonesia telah menetapkan status keadaan tertentu darurat bencana wabah selama 90 hari. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan covid-19 bukan hanya wabah, melainkan juga sudah sebagai pandemi pada 11 Maret 2020. Penetapan itu didasarkan pada penyebaran virus yang secara geografis telah meluas dan 'menyerang' lebih dari 150 negara.

Fokus utama yang harus dilakukan seluruh komponen bangsa ialah mengupayakan gerakan massal pencegahan penularan virus korona. Salah satu yang sebaiknya dilakukan secara disiplin oleh setiap anggota masyarakat ialah melakukan upaya pemutusan mata rantai penularan, dengan langkah physical/social distancing. Menghindari kerumunan dan mengendalikan diri untuk tidak melakukan kontak-kontak fisik-sosial, seperti jabat tangan ataupun berpelukan. Setiap orang berperilaku seolah dirinya terinfeksi, bukan mengira dan menuduh orang-orang lain telah terinfeksi.

Dalam kacamata kultur kehidupan kampus, social distancing artinya menghindari penyelenggaraan kegiatan berkerumun. Ruang meeting, ruang kelas, ruang laboratorium, bahkan lapangan-lapangan olahraga tempat berkerumunnya banyak orang, harus off. Bukan meliburkan kampus secara absolut, melainkan memberikan kesempatan warga kampus menyikapi keadaan pandemi secara merdeka. Kuliah tetap berlangsung dengan formula dosen bekerja dari rumah, mahasiswa pun kuliah dari rumah. Memutus rantai penularan dalam periode pandemi, melalui sikap merdeka dalam berkuliah.

Konsep gebrakan Kampus Merdeka yang didesain Mendikbud sejak awal tentu saja tidak secara sengaja disusun untuk situasi pandemi. Namun, situasi pandemi seolah memberikan kesempatan alamiah bagi kampus-kampus di seluruh Indonesia menjalankan kemerdekaan kuliah. Kuliah jarak jauh dalam jejaring (daring), yang dulu menjadi bagian dari sistem dual mode, dalam situasi darurat harus diterapkan secara full mode. Merdeka kuliah dalam situasi pandemi ialah tantangan besar yang berbasis situasi darurat.

 

Berbasis situasi darurat

Situasi darurat merupakan kondisi yang memprihatinkan dari sisi kemanusiaan. Secara alamiah, manusia akan melakukan ikhtiar dan menetapkan mekanisme untuk segera bisa keluar dari situasi darurat. Di balik keprihatinan besar atas situasi darurat, ada banyak nilai positif dari kedaruratan. Para warganet pun suka membuat status optimistis dengan tajuk lazim The power of kepepet. Banyak orang menjadi bisa karena kepepet.

Basis situasi darurat ini memiliki ranah sudut pandang yang bisa digunakan untuk memerdekakan cara bersilaturahim antarwarga kampus dalam situasi pandemi. Intinya ialah merdeka bersilaturahim dengan cara social distancing, yakni mengembangkan pilihan-pilihan komunikasi tanpa harus bertemu di tempat yang sama maupun di waktu yang sama.    

Setidaknya ada tiga sudut pandang yang digunakan untuk menerima tantangan dan tetap harus merdeka dalam situasi darurat pandemi covid-19; pertama, pemanfaatan modal empiris para dosen dan mahasiswa yang hampir semuanya berpredikat sebagai warganet. Teknologi yang ditanamkan di sistem Android pada aneka telepon pintar memicu kemudahan orang untuk berinteraksi dengan pihak-pihak lain dalam jejaring sosial.

Komunikasi dan interaksi yang telah lazim di media sosial tersebut menjadi modal habit dan kultur positif untuk memberhasilkan pembelajaran dengan social distancing. Walaupun memiliki keterbatasan ketika digunakan sebagai cara kuliah daring.

Hanya dosen memang harus lebih kreatif untuk mempersiapkan materi padat, lugas, dan efektif. Dengan WhatsApp (WA) dosen bisa mendesain grup mata kuliah, kemudian memulai memberi stimulus dengan mengunggah manuskrip pokok bahasan (word atau pdf), Power Point, animasi, bahkan video (klip). WA tidak interaktif ketika hanya digunakan oleh dosen untuk membuat perintah tertulis kepada mahasiswa seperti SMS.

Terdapat berbagai aplikasi lain yang bisa dipilih dan digunakan melalui telepon pintar, misalnya zoom cloud meeting dan sebagainya. Sebagian besar perguruan tinggi tentu telah memiliki sistem internal untuk penyelenggaraan pembelajaran daring di kampus. Ketika mahasiswa 'dirumahkan' karena sisuasi darurat, banyak mahasiswa yang kemudian merasa terimpit oleh beban kuota internet. Selama ini mereka menggunakan sistem daring di dalam kampus yang memanfaatkan fasilitas internet gratis. Kemendikbud sebenarnya telah membangun menu-menu bagi penyelenggaraan kuliah daring. Namun, lagi-lagi persoalan kuota internet tetap menjadi kendala bagi para mahasiswa yang berada jauh dari server internet kampusnya.

Kedua, membangkitkan passion dan prinsip cara belajar orang dewasa. Mahasiswa ialah orang dewasa yang sedang belajar untuk membangun pengetahuan, sikap, dan keterampilan sesuai dengan learning outcome (LO) program studi utama tempat mereka kuliah. Proses transformasi dipersyaratkan sikap mandiri dan merdeka dalam belajar sebagaimana orang dewasa belajar. Mandiri dalam arti tidak bergantung pada ketertundukan sikap terbatas pada materi tatap muka yang disampaikan dosen di dalam kelas, tetapi mengupayakan secara elegan dalam proses sintesis, analisis, evaluasi, dari aneka sumber belajar yang sangat terbuka.

Merdeka dalam arti bahwa mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana berenang di kolam renang dalam kampus, tetapi juga harus mampu dan berani berenang di kolam luar kampus, bahkan berenang di samudra luas kehidupan. Mandiri dan merdeka tersebut merupakan tantangan tersendiri ketika mahasiswa harus tetap belajar dalam situasi darurat, saat dosen dan temannya tidak bisa mengawasi langsung perilaku faktual belajarnya.

Ketiga, pandemi mengajarkan kepada semua warga kampus bahwa persoalan kehidupan ialah persoalan sistemis, bukan atomistis. Pembelajaran konvensional acap kali berdampak pada penguatan sekat-sekat keilmuan yang tidak jarang menimbulkan ekses narsistik keilmuan. Banyak mahasiswa yang tumbuh di kampus seperti menggunakan kacamata kuda. Kehilangan orientasi sistemis dan kabur pandangan mata atas peran-peran penting yang telah dimainkan oleh ilmu-ilmu lain di prodi sebelah, di fakultas sebelah, bahkan universitas sebelah.

Sebuah kesadaran penting yang merupakan hikmah tersembunyi dari merdekanya sikap menerima tantangan pandemi. Di Jalan Insinyur Sutami kita bertemu, semoga pandemi cepat berlalu.

 

BERITA TERKAIT