31 March 2020, 08:45 WIB

Negara-negara Eropa Tolak Alat Uji Covid-19 Buatan Tiongkok


Nur Aivanni | Internasional

SEJUMLAH pemerintah negara Eropa telah menolak peralatan buatan Tiongkok yang dirancang untuk memerangi wabah virus korona.

Ribuan alat uji dan masker medis tersebut berada di bawah standar atau cacat, menurut pihak berwenang di Spanyol, Turki, dan Belanda.

Pada Sabtu (28/3), Kementerian Kesehatan Belanda mengumumkan telah menarik 600.000 masker. Peralatan itu telah tiba dari produsen Tiongkok pada 21 Maret dan telah didistribusikan ke tim medis yang berada di garis depan.

Pejabat Belanda mengatakan masker-masker itu tidak layak dan filternya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, meskipun mereka memiliki sertifikat kualitas.

Baca juga: AS akan Kirim Pasokan Medis ke Italia, Prancis, dan Spanyol

"Sisa pengiriman segera ditangguhkan dan belum didistribusikan," bunyi pernyataan itu, seperti dikutip dari BBC, Senin (30/3). "Sekarang sudah diputuskan untuk tidak menggunakan kiriman tersebut."

Pemerintah Spanyol mengalami masalah yang sama dengan alat uji yang dipesan dari perusahaan Tiongkok.

Pemerintah mengumumkan telah membeli ratusan ribu alat uji untuk memerangi virus. Tetapi, ungkapnya, pada hari-hari berikutnya hampir 60.000 tidak dapat menentukan secara akurat apakah seorang pasien terkena virus.

Kedutaan Spanyol di Tiongkok mencuit di akun Twitter-nya bahwa perusahaan di belakang alat uji, Shenzhen Bioeasy Biotechnology, tidak memiliki lisensi resmi dari otoritas medis Tiongkok untuk menjual produk-produk mereka.

Itu mengklarifikasi bahwa alat-alat yang disumbangkan pemerintah Tiongkok dan kelompok teknologi dan ritel Alibaba tidak termasuk dari produk dari Shenzhen Bioeasy.

Turki juga mengumumkan mereka telah menemukan beberapa alat uji yang dipesan dari perusahaan-perusahaan Tiongkok tidak cukup akurat, walaupun dikatakan bahwa sekitar 350.000 alat uji bekerja dengan baik.

Dugaan peralatan yang rusak muncul setelah para kritikus memperingatkan Tiongkok bisa menggunakan wabah virus korona untuk meningkatkan pengaruhnya.

Eropa telah melaporkan ratusan ribu kasus akibat virus korona. Lebih dari 10.000 orang telah meninggal di Italia sejak wabah dimulai.

Virus tersebut pertama kali terdeteksi di Tiongkok pada akhir tahun 2019. Pemerintah menerapkan tindakan penguncian ketat untuk mengendalikannya. (OL-1)

BERITA TERKAIT