30 March 2020, 17:50 WIB

Pandemi Covid-19 tak Halangi Indonesia Ekspor Beras ke Singapura


mediaindonesia.com | Ekonomi

Di tengah suramnya kondisi wabah Covid-19 yang menghantam Indonesia, sektor pertanian justru memberikan angin segar yang menyejukkan. Memasuki masa panen raya padi yang diprediksi akhir Maret, Indonesia kembali berhasil melakukan ekspor perdana 20 ton beras premium Pandan Wangi Cianjur ke Singapura. 

“Beras Pandan Wangi Cianjur merupakan salah satu varietas yang digemari di Singapura. Selain bertekstur pulen, beras Pandan Wangi Cianjur juga mengeluarkan aroma wangi alami ketika dimasak. Keunggulan komparatif ini membuat beras Pandan Wangi Indonesia memiliki market tersendiri di Singapura,” ujar Asisten Manager PT Buyung Poetra Sembada, Fredi saat melakukan Ekspor Beras Perdana Pandan Wangi Cianjur melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (26/3).

Fredi mengungkapkan bahwa ekspor beras tersebut merupakan bentuk komitmen perusahaannya terhadap masyarakat Indonesia dan juga dalam rangka menyukseskan Program Gratieks (Gerakan Tiga Kali Ekspor) yang dicanangkan oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo.

Baca Juga: Mentan Lepas Ekspor Produk Pertanian Rp79 Miliar

Selain itu Fredi juga mengharapkan Pemerintah terus meningkatkan produktivitas beras Pandan Wangi Cianjur untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Pemerintah juga diharapkan terus meningkatkan upaya mempromosikan keunggulan beras Pandan Wangi Cianjur dibandingkan dengan beras serupa yang dihasilkan oleh negara-negara pesaing.  

“Ada nilai lebih dari selisih harga yang dibayarkan dibandingkan ketika membeli beras dari negara lain, “ ungkap Fredi 

Sementara ditemui di tempat terpisah, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Gatut Sumbogodjati mengatakan, bahwa pada masa panen ini diperkirakan produksi GKG bulan Maret 2020 mencapai 5,6 juta ton atau setara 3,19 juta ton beras.

Baca Juga:  Mentan SYL Lepas Ekspor Pertanian Gorontalo

April 2020 menjadi masa pucak panen raya dengan perkiraan produksi GKG sekitar 8,83 juta ton atau setara dengan 5,03 juta ton beras. 

Berdasarkan data perhitungan prognosa ketersediaan dan kebutuhan beras yang dilakukan oleh Badan Ketahahan Pangan Kementerian Pertanian, stok beras dinyatakan aman bahkan sampai dengan akhir Mei 2020 masih surplus sekitar 7.77 juta ton.

“Sehingga perkiraan surplus untuk komoditas padi juga memberikan angin segar bagi eksportir beras, “ ujar Gatut

Lebih lanjut Gatut mengatakan bahwa selain upaya peningkatan ekspor beras khusus, Pemerintah juga tengah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan daya saing beras umum di Pasar Intenasional, salah satunya adalah penggunaan mekanisasi pertanian untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi.  

“Memasuki masa panen raya padi, Kementerian Pertanian menginstruksikan kepada Brigade Alsintan yang ada di Dinas Pertanian di kabupaten/kota dan provinsi untuk melayani permintaan panen dari petani,“ ujar Gatut

Semain itu Gatut menyebutkan bahwa penggunaan mekanisasi pertanian pada saat panen padi selain menurunkan biaya produksi dan memperbaiki kualitas Gabah Kering Panen yang dihasilkan, juga salah satu upaya untuk meminimalkan interaksi pekerja untuk mencegah penyebaran virus Corona (Covid-19). (RO/OL-10)Pandemi Covid-19 Tak Halangi Indonesia Ekspor Perdana Beras ke Singapura

Di tengah suramnya kondisi wabah Covid-19 yang menghantam Indonesia, sektor pertanian justru memberikan angin segar yang menyejukkan. Memasuki masa panen raya padi yang diprediksi akhir Maret, Indonesia kembali berhasil melakukan ekspor perdana 20 ton beras premium Pandan Wangi Cianjur ke Singapura. 

“Beras Pandan Wangi Cianjur merupakan salah satu varietas yang digemari di Singapura. Selain bertekstur pulen, beras Pandan Wangi Cianjur juga mengeluarkan aroma wangi alami ketika dimasak. Keunggulan komparatif ini membuat beras Pandan Wangi Indonesia memiliki market tersendiri di Singapura,” ujar Asisten Manager PT Buyung Poetra Sembada, Fredi saat melakukan Ekspor Beras Perdana Pandan Wangi Cianjur melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (26/3).

Fredi mengungkapkan bahwa ekspor beras tersebut merupakan bentuk komitmen perusahaannya terhadap masyarakat Indonesia dan juga dalam rangka menyukseskan Program Gratieks (Gerakan Tiga Kali Ekspor) yang dicanangkan oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo.

Selain itu Fredi juga mengharapkan Pemerintah terus meningkatkan produktivitas beras Pandan Wangi Cianjur untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Pemerintah juga diharapkan terus meningkatkan upaya mempromosikan keunggulan beras Pandan Wangi Cianjur dibandingkan dengan beras serupa yang dihasilkan oleh negara-negara pesaing.  

“Ada nilai lebih dari selisih harga yang dibayarkan dibandingkan ketika membeli beras dari negara lain, “ ungkap Fredi 

Sementara ditemui di tempat terpisah, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Gatut Sumbogodjati mengatakan, bahwa pada masa panen ini diperkirakan produksi GKG bulan Maret 2020 mencapai 5,6 juta ton atau setara 3,19 juta ton beras. 

April 2020 menjadi masa pucak panen raya dengan perkiraan produksi GKG sekitar 8,83 juta ton atau setara dengan 5,03 juta ton beras. 

Berdasarkan data perhitungan prognosa ketersediaan dan kebutuhan beras yang dilakukan oleh Badan Ketahahan Pangan Kementerian Pertanian, stok beras dinyatakan aman bahkan sampai dengan akhir Mei 2020 masih surplus sekitar 7.77 juta ton.

“Sehingga perkiraan surplus untuk komoditas padi juga memberikan angin segar bagi eksportir beras, “ ujar Gatut

Lebih lanjut Gatut mengatakan bahwa selain upaya peningkatan ekspor beras khusus, Pemerintah juga tengah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan daya saing beras umum di Pasar Intenasional, salah satunya adalah penggunaan mekanisasi pertanian untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi.  

“Memasuki masa panen raya padi, Kementerian Pertanian menginstruksikan kepada Brigade Alsintan yang ada di Dinas Pertanian di kabupaten/kota dan provinsi untuk melayani permintaan panen dari petani,“ ujar Gatut

Semain itu Gatut menyebutkan bahwa penggunaan mekanisasi pertanian pada saat panen padi selain menurunkan biaya produksi dan memperbaiki kualitas Gabah Kering Panen yang dihasilkan, juga salah satu upaya untuk meminimalkan interaksi pekerja untuk mencegah penyebaran virus Corona (Covid-19). (RO/OL-10)

BERITA TERKAIT