30 March 2020, 17:09 WIB

Polisi Ungkap 43 Kasus Hoaks Covid-19, Mayoritas Hanya Iseng


Tri Subarkah | Megapolitan

POLDA Metro Jaya beserta polres jajaran sampai Senin (30/3) hari ini menangani 43 kasus berita bohong atau hoaks yang berkaitan dengan virus korona (Covid-19). Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Hubungan Masyarakat PMJ Kombes Yusri Yunus.

"43 kasus yang sudah ditangai Polda Metro Jaya, baik itu ditangani Krimsus (Direktorat Reserse Kriminal Khusus) dan jajaran menyangkut berita hoaks tentang Covid-19," ungkap Yusri di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (30/3).

Baca juga: Demi Tenaga Medis, Bus Transjabodetabek ke RSCM Tetap Beroperasi

Dari 43 kasus tersebut, Yusri merilis empat pelaku penyebar hoaks sejak pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia. Kasus pertama berkaitan dengan hoaks soal penyebaran data tol yang akan ditutup menyangkut isu lockdown. Pelaku yang berinisial A saat ini sudah ditahan untuk dilakukan pendalaman.

"Hoaks isu lockdown tentang data tol yang akan ditutup yang menyebar di medsos. Ada beberapa jalur tol yang ditutup, menyebar dan membuat masyarakat resah. Ini berhasil diamankan oleh Ditreskrimsus Polda Metro," papar Yusri.

Berikutnya, Polres Metro Jakarta Timur menangani dua orang penyebar hoaks. Kasus pertama dilakukan oleh seorang pria berinisial HR yang membuat video bahwa sudah terjadi pemberlakuan lockdown di wilayahnya, yakni Cipinang Melayu.

Masih di Jakarta Timur, seorang perempuan berinisial A juga turut ditangkap pasca menyebarkan video yang menyatakan ada seseorang yang sakit karena covid-19 di Pusat Grosir Cililitan.

Terakhir, pihak kepolisian juga menangkap H alias B yang menyatakan adanya seseorang terjangkit covid-19 di Bandara Soekarno-Hatta. "Sehingga buat resah seisi bandara itu," tandas Yusri.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, Yusri mengatakan bahwa rata-rata motif yang digunakan pelaku penyebar hoaks adalah karena iseng.

"Dari keisengan, kemudian berbuah ke pidana buat mereka. Makannya masyarakat yang masih hobi kesingengan ini di situasi sekarang covid-19 ini kami harapkan mereka setop sudah," pungkas Yusri.

Atas perbuatannya, keempat pelaku disangkakan dengan Pasal 28, Pasal 32, dan Pasal 35 Undang-undang No 11 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik serta UU No 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dengan ancaman pidana penjara selama 10 tahun.

Yusri menegaskan pihaknya tidak akan berhenti mengejar dan menangkap para pelaku yang memanfaatkan situasi saat ini untuk menyebar hoaks dan membuat resah masyarkat.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Reserse Kriminal Khusus PMJ, Kombes Iwan Kurniawan, mengimbau masyarakat untuk bijaksana dan betul-betul mengecek kebenaran informasi dalam sebuah berita. Ditreskrimsus PMJ, lanjut Iwan, terus melakukan patroli siber untuk memantau pemberitaan di media sosial.

"Apabila kami temukan ada pemberitaan-pemberitaan, postingan-postingan, ada suatu narasi-narasi yang mungkin mengandung hoaks, kami akan tindak tegas melalui proses penegakan hukum," tegas Iwan.

Baca juga: Operasional Bus Jakarta Disetop untuk Putus Penyebaran Covid-19

Lebih lanjut, Iwan menyebut pihaknya tetap dapat menggunakan alternatif lain yang dapat dijadikan alat bukti apabila sebuah unggahan di media sosial telah dihapus.

"Perlu diketahui, biar pun sudah terhapus, kita punya bukti lain yang bisa kita jadikan barang bukti untuk di sidang pengadilan," pungkasnya. (OL-6)
 

BERITA TERKAIT