30 March 2020, 10:02 WIB

Ritual Adat Liko Lewo Usir Virus Korona


John Lewar | Nusantara

SELAIN upaya secarah medis dalam penanganan dan pencegahan virus korona atau covid 19 terhadap para korban,tokoh adat dua kecamatan di Kabupaten Flores Timur menggelar ritual adat menangkal masuknya virus korona di wilayah itu.

Ritual adat ini sebagai upaya Liko Lapa Lewo tanah dalam (menjaga kampung halaman) dari berbagai ancaman termasuk pesebaran pandemi virus korona yang kian meresahkan penduduk di penjuruh dunia. Upaya ritual adat ini menyusul dampak virus korona yang telah mengancam kehidupan warga Kecamatan Wulang Gitang dan Kecamatan Ilebura.

Masyarakat persekutuan adat Boru di Wulang Gitang dan masyarakat adat desa Nobo dan Dulipali,selain mengikuti aturan pemerintah seperti tinggal di rumah,dilarang berkumpul, mencuci tangan, menjaga jarak serta menggunakan masker, mereka juga melakukan upacara adat agar terhindar dari serangan covid-19.

Upacara adat usir virus asal Wuhan Cina ini diawali dengan dengan pertemuan adat pada hari Minggu, 22 Maret 2019 di Desa Nobo tepatnya di rumah besar (lango belen) kakek Koda Bukan. Hadir dalam pertemuan itu ialah perwakilan dari Suku Kedang, Boru, Kwure, Soge Sare, Sogen, Puka, dan ketua adat Suku Hendrikus Wuring Bukan.

"Hari Rabu, 25 Maret 2020 para tua adat dan tokoh masyarakat menghimbau agar semua masyarakat mentaati aturan pemerintah dan aturan adat yang sedang dijalankan," beber kepala suu, Wuring Bukan, 75 kepada Media Indonesia, Senin (30/3).

Upacara  adat ini sebut Wuring dilakukan di lima titik yakni perbatasan Nobo dan Nurabelen, Konga, Pantai Nobo, jalan menuju pekuburan Gereja Ratu Semesta Alam Hokeng, dan di tengah kampung (Lewo tuka). Seluruh rangkaian acara ini menggunakan bahasa gaib  atau dikenal dengan bahasa adat tingkat tinggi guna meminta arwah leluhur dan penghuni alam atau dewa roh alam membentengi kampung dari hal-hal yang bisa memakan korban jiwa.

Wuring menuturkan rangkaian adat ini mewajibkan para pemangku adat berjalan kaki sambil membahasakan bahasa mistik dengan jarak cukup jauh mengikuti luasnya wilayah di titik jalan pintu masuk menuju desa dan kampung.

"Jauh dan harus berjalan kaki dari titik yang satu ke titik yang lainnya.Setelah semua titik selesai dilakukan, pemuka adat kembali ke lango belen (induk rumah adat) untuk upacara penutup," katanya.

Kepala Desa Nobo Petrus Kiku Witin,Senin 30/3 dihubungi menuturkan kebiasaan ini kerap di lakukan ritual adat disesuaikan dengan situasi sekitar sangat meresahkan warga.Seperti tidak turun hujan,tanaman dilanda hama termasuk wabah penyakit lainnya.

baca juga: 

"Warga sudah terbiasa denKadang Temanggungan Diminta Tak Mudikgan ritual adat ini.Orang yakin itu bisa luput.Dan hal ini setiap tahun di lakukan,termasuk ritual ucapan syukur masa panen," terang Petrus.

Petrus mengaku dalam kegiatan itu, di sediakan beberapa sesajian sepeti telur ayam atau berupa hewan kurban diikuti bahasa adat oleh tokoh adat. Kehadiran tokoh adat ini diyakini bisa melindungi masyarakat setempat dari ancaman virus korona. (OL-3)

BERITA TERKAIT