30 March 2020, 06:07 WIB

Mereka Ikhlas tidak Mudik


Sri Utami | Politik dan Hukum

KESEDIHAN itu tidak lama membebani hati Nurulia Juwita. Padahal, dia terpaksa mengurungkan niat berlebaran ke Palembang, Sumsel, tahun ini, demi ikut serta memutus mata rantai penyebaran wabah virus korona (covid-19).

“Sudah 10 tahun saya tidak mudik dan sudah siap menyewa mobil untuk menjajal Tol Trans-Sumatra. Semuanya buyar. Kalau pulang nanti, malah membawa penyakit. Saya ikhlas menggantikan mudik dengan memajang foto orangtua di akun media sosial,” kata ibu dua anak ini, kemarin.

Kesedihan serupa dirasakan Amelia Karanikha. Terlebih perempuan 36 tahun itu juga mesti merelakan uang muka sewa mobil sebesar Rp1 juta menguap hangus.

“Saya berpikir positif saja. Kalau ngotot mudik, berarti kami menularkan virus. Enggak putus-putus dong penyebarannya.”

Sementara itu, Muyarto awalnya tidak percaya apabila pemerintah mengimbau warga masyarakat tidak mudik untuk mencegah penyebaran covid-19. Warga Depok, Jabar, ini sejak jauh hari sudah membeli tiket pesawat ke Medan, Sumut, secara daring untuk berlebaran.

“Saya minta keponakan melakukan refund tiket secara daring. Nggak apa-apa tidak mudik tahun ini mengikuti imbauan pemerintah untuk mencegah korona,” ujar pria 68 tahun itu.

Muyarto berhasil 100% merefund tiketnya, tetapi tidak demikian dengan Rua Marthalia. Menurut perempuan 43 tahun itu, maskapai hanya menerapkan refund 100% untuk penerbangan sebelum 14 Mei. “Penerbangan setelah tanggal itu hanya dapat refund 75%. Saya tidak mudik karena saya tinggal di zona merah covid-19. Nanti malah nularin orang-orang.”

Ketua Asosiasi Pedagang Sate Madura di Jakarta, Maksum, juga memastikan para pedagang satai keliling di Ibu Kota menaati imbauan pemerintah tidak mudik tahun ini. “Kawan-kawan sepakat. Apalagi pesantren di Bangkalan sudah memberi tahu tidak ada acara selama dan setelah Ramadan.”

Karantina mandiri

Ketika para perantau di Jakarta berbesar hati tidak mudik untuk mencegah meluasnya penyebaran covid-19, warga Jakarta tak kurang antisipatifnya dalam mencegah penyebaran wabah mematikan tersebut.

Sebagaimana warga di Kelurahan Utan Kayu Selatan, Jakar ta Timur, yang menerapkan karantina mandiri di lingkungan mereka. Ketua RW 013 Kelurahan Utan Kayu Selatan, Eddy S, mengakui karantina yang dimaksud ialah menutup beberapa pintu masuk.

“Iya, lockdown lokal karena di sini belum ada warga terpapar. Jadi, kami mencegah interaksi warga luar dan lalu lalang kendaraan. Semoga virus ini cepat hilang,” tukas Eddy.

Sama halnya dengan warga di salah satu perumahan di Bekasi yang melakukan karantina mandiri setelah ada seorang warganya positif terjangkit oleh covid-19.

“Ketua RT melarang kami keluar kompleks selama 14 hari. Karantina mandiri ini untuk menjaga agar tidak ada warga tertular,” kata Yakub, penghuni kompleks perumahan tersebut.

Hari ini, pemerintah mengeluarkan peraturan karantina kewilayahan untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 di tengah-tengah masyarakat.

Seperti dikemukakan Menko Polhukam Mahfud MD dalam video conference Jumat (27/3), karantina kewilayahan ialah membatasi perpindahan orang, kerumunan, dan gerakan orang untuk keselamatan bersama.

“Kini, sudah disiapkan rancangan peraturan pemerintah untuk karantina kewilayahan. Kapan daerah boleh melakukan pembatasan, apa syaratnya, apa yang dilarang, dan bagaimana prosedur agar seragam kebijakannya,” tutur Mahfud MD.

Walaupun ada pembatasan, tentu saja tidak berarti ada penutupan lalu lintas untuk mobil atau kapal yang mengangkut bahan pokok. ‘‘Toko, warung, dan supermarket tidak bisa ditutup, tidak pula dilarang dikunjungi meskipun dalam pengawasan ketat,’’ tandas Mahfud (Uks/Rin/Ins/Ykb/FL/RO/X-3)

BERITA TERKAIT