29 March 2020, 18:35 WIB

BI Perlu Perkuat Kebijakan Stabilitas Nilai Tukar


Hilda Julaika | Ekonomi

EKONOM Josua Pardede mengatakan untuk mendorong kestabilan nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) perlu memperkuat kebijakan stabilitas nilai tukar. Hal ini sesuai dengan fundamentalnya untuk meningkatkan intensitas langkah stabilisasi di pasar Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), pasar spot rupiah, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN).

“Dalam rangka mendorong kestabilan nilai tukar rupiah, BI akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar sesuai dengan fundamentalnya,” jelas Ekonom Permata Bank itu pada Media Indonesia, Minggu (29/3).

Baca juga: BI: Nilai Tukar Rupiah Berangsur Membaik

Josua tak menampik saat ini situasi global tengah sangat tidak pasti karena wabah covid-19. Itu sebabnya pemerintah dinilai perlu untuk mengambil langkah-langkah kebijakan yang cepat dan tegas, khususnya dalam penanganan covid-19, dari aspek kesehatan dan membatasi korban yang meninggal.

Apabila penanganan covid-19 dari aspek kesehatan dapat dilakukan dengan cepat, aspek ekonomi diyakini juga akan terselesaikan.

“Jika penanganan covid-19 dari aspek kesehatan dapat dilakukan dengan cepat,  penanganan covid-19 dari aspek ekonomi pun akan dapat diselesaikan dengan cepat pula,” ujarnya.

Selain itu, koordinasi kebijakan antara pemerintah dan BI serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun diharapkan dapat diimplementasikan dengan baik. Sebab, implikasinya  akan meningkatkan rasa percaya diri dari para pelaku usaha khususnya investor asing.

“Untuk meningkatkan kepercayaan pelaku pasar khususnya investor asing, memang diperlukan koordinasi para stake holder. Sebab dnegan begitu dapat menopang stabilitas rupiah dan tetap mendorong pasar keuangan domestik tetap atraktif. Alhasil dapat mendorong kembali investasi,” tuturnya. (Hld/A-1)

BERITA TERKAIT