29 March 2020, 07:45 WIB

Ini Prosedur Rapid Test Covid-19 di DKI


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

Pemerintah Provinsi (Pemprv) DKI Jakarta telah mendistribusikan sekitar 164 ribu alat rapid test covid-19 ke lebih dari 100 fasilitas kesehatan dan Rumah Sakit (RS) di seluruh DKI Jakarta. Alat rapid test ini diberikan oleh Gugus Tugas Nasional Covid-19 ke Balai Kota Jakarta pada Senin malam (23/3).

Total sebanyak 10.459 orang sudah dites dengan alat tersebut. Dari jumlah itu 10.388 orang dinyatakan negatif dan 121 orang positif covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti dalam keterangan resminya mengatakan terdapat dua prosedur pelaksanaan rapid test, yaitu aktif dan pasif. Yang dimaksud dengan prosedur aktif ialah petugas dari puskesmas berperan mendatangi warga yang dicurigai terindikasi covid-19 berdasarkan penelusuran kontak kasus positif.

"Prosedur aktif, yakni pertama puskesmas menghubungi pasien dengan riwayat kontak erat risiko rendah, tinggi dan ODP (Orang Dalam Pemantauan) untuk rapid test dengan form PE (penyelidikan epidemiologi) atau penelusuran kontak. Puskesmas harus menjelaskan prosedur pemeriksaan rapid test, komunikasi risiko, dan memberikan penjelasan serta meminta persetujuan," kata Widyastuti, Sabtu (28/3).

Baca juga: Tahukah Beda Pemeriksaan Rapid Test dan PCR?

Lalu petugas puskesmas melakukan rapid test dan pencatatan. Jika hasilnya positif akan dilanjutkan dengan pengambilan swab. Selanjutnya warga tersebut harus melakukan isolasi mandiri atau dirujuk ke shelter (sesuai kriteria) selama menunggu hasil pemeriksaan.

"Bila kondisi memburuk sebelum hasil PCR (Polymerase Chain Reaction) diperoleh, pasien dirujuk ke RS. Untuk hasil negatif, pasien tetap diinformasikan untuk isolasi mandiri 14 hari. Bila kondisi memburuk, dirujuk ke RS dan dilakukan pemeriksaan PCR," terangnya.

Pemeriksaan ulang rapid test akan dilakukan sekali lagi pada hari ke 7-10 setelah tes awal. Tujuan pemeriksaan ulang ini untuk kembali memeriksa adanya virus dalam tubuh warga.

Sementara untuk prosedur pasif, pasien atau warga yang mendatangi RS atau puskesmas. Setelah pasien datang ke RS, warga akan diidentifikasi apakah memenuhi kriteria dilakukan rapid test.

Jika memenuhi, warga akan menjalani rapid test. Prosedurnya sama dengan prosedur aktif, yakni pasien harus menjalani isolasi mandiri selama 14 hari. Jika kondisi buruk dapat dirujuk. Namun, bila hasilnya positif, warga melakukan proses pengambilan swab, isolasi mandiri atau dirujuk ke shelter (sesuai kriteria) selama menunggu hasil PCR. (OL-14)

BERITA TERKAIT