29 March 2020, 06:45 WIB

33 Kota Peringati Earth Hour


Fer/N-3 | Megapolitan

KAMPANYE global Earth Hour telah berkembang menjadi salah satu gerakan akar rumput terbesar di dunia. Kampanye itu dimulai melalui gerakan yang disimbolkan dengan pemadaman lampu atau dikenal sebagai switch-off pada 2007 silam.

Tiap tahun, dalam rangka menyambut Hari Bumi yang jatuh pada April, kampanye Earth Hour digaungkan di akhir Maret untuk mengangkat suara dan komitmen individu, pemerintah, pebisnis, dan organisasi terkait dengan isu lingkungan.

Pada 2009, Yayasan WWF Indonesia pertama kali menggelar Earth Hour dengan mengajak masyarakat mematikan lampu dan alat elektronik yang tidak digunakan selama 1 jam. Hal itu dilakukan baik di rumah, perkantoran, maupun ikonikon kota.

Pada tahun ini, di tengah perjuangan dunia melawan krisis kesehatan akibat pandemi covid-19, Indonesia bersama sekitar 180 negara lainnya tetap memperingati Earth Hour dengan mengadakan ragam kegiatan virtual secara daring bertajuk Earth Hour di Rumah.

“Kami sangat prihatin dan berduka dengan adanya pandemi virus korona di dunia dan di Indonesia. Selain terus berjuang bersama tenaga kesehatan untuk melawan covid-19 ini, kita juga wajib memaknai musibah ini sebagai pengingat bahwa ketidakseimbangan dan kesehatan bumi kita sudah dalam kondisi sangat memprihatinkan,” kata Plt CEO WWF Indonesia, Lukas Adhyakso, dalam konferensi pers virtual, Jumat (27/3).

Karena itu, peringatan Earth Hour yang digelar serentak di 33 kota di Tanah Air itu dilakukan melalui aplikasi Instagram (Instagram live) di akun @ehindonesia, kemarin, sekitar pukul 20.30-21.30 waktu setempat.

Lukas melanjutkan kondisi alam yang terus terdegradasi telah menuju ke tingkat mengkhawatirkan.

Oleh karena itu, kampanye Earth Hour 2020 berfokus pada pentingnya menekan laju penurunan keanekaragaman hayati demi kesehatan bumi dan kesejah teraan makhluk hidup.

Terlebih, pada tahun ini akan digelar tiga pertemuan tingkat global yang membahas alam dan lingkungan guna memengaruhi para pemimpin dunia dalam mengambil keputusan serta langkah penting demi keanekaragam an hayati dan perubahan iklim.

Selaras dengan hal itu, tidak hanya melakukan kegiatan switch-off, Earth Hour kali ini juga memfasilitasi masyarakat untuk menyuarakan harap an dan komitmen mereka melalui pengumpulan suara secara daring di https://www.wwf.id/ voice-planet berjudul Voice for the Planet.

Tiap-tiap individu dapat memilih satu atau lebih isu lingkungan yang menurut mereka sangat mendesak, yaitu sampah plastik, transportasi dan energi, satwa liar dan hutan, serta air dan pangan.

Suara masyarakat itu diharapkan menjadi basis kerja bagi pemimpin negara dan pembuat keputusan, pemimpin perusahaan, lembaga, serta organisasi dalam merespons berbagai isu lingkungan. (Fer/N-3)

VIDEO TERKAIT :

BERITA TERKAIT