29 March 2020, 03:30 WIB

Zulfikar Alimuddin & Nila Susanti Sulaiman Perjuangan untuk Anak


(Bus/M-1) | Weekend

SAMA seperti orangtua lainnya, Zulfikar Alimuddin dan istri, Nila Susanti Sulaiman, juga berharap memiliki anak yang sehat tanpa kekurangan. Namun, Tuhan memiliki rencana lain sehingga anak pertama mereka memiliki sindrom ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) yang merupakan gangguan mental yang menyebabkan seorang anak sulit memusatkan perhatian. Anak kedua mereka pun didiagnosis mengidap autisme.

Ketika sang istri sedang mengandung anak ketiga, Zulfikar pun bernazar. Ia akan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus yang berasal dari keluarga kurang mampu jika anak ketiganya, yang sempat didiagnosis berisiko autisme, dapat tumbuh normal.

Pada 2008, setelah melakukan serangkaian tes, mereka pun akhirnya mendapatkan kepastian bahwa sang anak ketiga memiliki tumbuh kembang yang normal dan dalam kondisi sehat. Kesempatan Zulfikar untuk menunaikan nazarnya kemudian datang saat guru terapi sang anak kedua menawarkan membeli sebuah klinik kesehatan. Tanpa pikir panjang ia pun membeli klinik itu, yang lalu menjadi awal dari pendirian Yayasan Cinta Harapan Indonesia (YCHI).

"Basis kami adalah home therapy, terapis kami akan datang ke rumah supaya anak-anak terbiasa dengan kondisi rumah. Biasanya terapis yang kami punya akan kami kirimkan ke rumah-rumah orang yang membutuhkan," jelas Zulfikar soal YCHI.

Kini YCHI telah memiliki 69 terapis untuk anak-anak autis yang tersebar di 11 wilayah di Indonesia, di antaranya Jakarta, Tangerang, Bandung, Jepara, Kudus, Demak, Madiun, Mataram, dan Lombok.

Saat ini YCHI sedang fokus memberikan terapi kepada 163 anak penyandang autisme dari keluarga kurang mampu di beberapa daerah di Indonesia. "Kalau dihitung sejak 2008 sampai sekarang, ada sekitar 340 anak yang diterapi. Namun selisihnya besar, selisihnya bukan mereka sudah lulus, tetapi mereka tidak lagi bisa mengikuti terapi karena hal lain. Bisa karena jaraknya yang jauh, keluarga sudah menyerah, atau sudah ada pusat terapi dari pemerintah sehingga mereka tidak lagi ke YCHI," ungkap Nila.

Meski YCHI mengratiskan pelayanan, sering kali ada orangtua yang memaksa untuk membayar. Akhirnya YCHI mengenakan beban untuk sesi terapi yang mereka berikan sebesar Rp95.000 saja. Idealnya terapi yang diberikan kepada anak-anak penderita autisme ini adalah 40 jam, tetapi karena keterbatasan tenaga, YCHI hanya mampu melakukan terapi selama 2 hingga 4 jam.

"Saya bikin murah karena saya merasakan sendiri, buat yang kelas menengah aja berat. Mending tahu sejak dini dan segera diterapi, tiga bulan langsung lulus dan bisa bagus. Ada yang tiga tahun belum ketahuan. Sampai usia 10 tahun mungkin mereka masih lucu, tapi kalau sampai usia 20 tahun kan sudah enggak lucu lagi. Orangtua bukannya enggak punya beban mental, tapi habis-habisan sudah," ujar Zulfikar.

Salah satu kendala pengoperasian YCHI ialah kurangnya terapis ahli untuk autisme di Indonesia. Oleh karena itu, saat ini Zulfikar sedang mengusahakan berdialog dengan beberapa universitas di Indonesia untuk membuka program pendidikan demi mencetak lebih banyak tenaga medis khususnya terapis untuk autisme.

Zulfikar bahkan siap memberikan beasiswa S-2 kepada para sarjana di Indonesia yang ingin melanjutkan studi pendidikan keterapisan dengan ikatan dinas kepada YCHI selama 3-5 tahun. Selain untuk memenuhi kebutuhan terapis di yayasannya, Zulfikar mengungkapkan bahwa ikatan dinas itu bertujuan membangun keahlian yang terstruktur.

Ia juga mengaku sempat bekerja sama dengan Global Autism Project dari Amerika Serikat untuk memberikan beasiswa kepada ahli-ahli autisme agar berkesempatan melanjutkan studi ke Amerika. Namun, program tersebut terpaksa harus dihentikan karena ia tidak berhasil menghimpun dukungan dari kampus-kampus di Indonesia.

"Dulu sempat kerja sama dengan Global Autism Project dari Amerika, saya sudah datang ke empat universitas di Indonesia. Saya merasa tidak bisa menyelenggakan program itu karena tidak sah jika tidak lewat jalur pendidikan. Saya kerja sama dengan kampus di Indonesia, semua bilang oke, tapi mereka mengembalikan lagi ke saya. Tidak ada dukungan lainnya," jelas Zulfikar

Kegagalan tersebut tidak lantas membuatnya menyerah. Ia sempat melakukan audiensi dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) untuk membicarakan tentang pentingnya kebutuhan tenaga ahli untuk terapi anak-anak penyandang autisme ini.

"Pemerintah sudah mulai dengan sekolah inklusi dan membuat pusat pelayanan, tetapi yang butuh perhatian ialah SDM-nya, bukan fasilitasnya. Sampai saat ini beasiswa yang idenya sudah dari  beberapa tahun yang lalu belum berjalan karena berbagai hal," tukasnya. (Bus/M-1)

BERITA TERKAIT