29 March 2020, 02:30 WIB

Muhammad Hendro Utomo & Wida Septarina Wijayanti Keadilan untuk A


Bagus Pradana | Weekend

Mencari solusi agar keadilan pangan dapat diwujudkan dengan cara gotong royong, suami istri ini mendirikan organisasi sosial Foodbank of Indonesia.

TIDAK perlu melihat ke negara Afrika yang dilanda kekeringan panjang, di Indonesia pun jumlah warga yang sulit makan sehari-hari banyak. Di sisi lain, orang yang menghamburkan jutaan rupiah hanya untuk sekali makan juga tidak sedikit. Keadaan itu tentu sangat memprihatinkan. Sementara hanya bergantung pada program pemerintah tidaklah cukup sebab keterbatasan anggaran dan juga sistem yang belum bisa menjangkau seluruh seluruh rakyat.

Hal itu pula yang disadari pasangan suami istri Mohammad Hendro

Utomo dan Wida Septarina Wijayanti. Jengah dengan ketimpangan yang terjadi, mereka melihat salah satu solusi yang dapat dilakukan ialah dengan membangun kepedulian masyarakat. Dengan begitu, keadilan di bidang pangan ini bukan hanya mengandalkan program pemerintah, melainkan juga mengajak masyarakat untuk bergotong royong.

Hadir di acara bincang-bincang Kick Andy, keduanya menjelaskan bahwa

metode gotong royong sangat bisa dilakukan karena berkaca pada data dari Organisasi Pangan Dunia (FAO). Indonesia tercatat sebagai negara penghasil sampah makanan nomor dua terbesar di dunia. Rata-rata orang Indonesia membuang sampah makanan sebanyak 300

kilogram dalam setahun. Selain itu, limbah makanan turut menyumbang emisi yang menyebabkan perubahan iklim.

Padahal, jumlah penduduk kelaparan di Indonesia mencapai 19,4 juta jiwa pada kurun waktu 2017 saja. Angka tersebut tergolong cukup tinggi karena mencakup sekitar 20% dari total penduduk Indonesia yang hampir mencapai 262 juta jiwa.

Dengan demikian, solusi dapat dilakukan dengan pendistribusian pangan dari kelompok yang kelebihan kepada mereka yang kekurangan. Langkah solusi itu kemudian diwujudkan dengan pendirian organisasi sosial Foodbank of Indonesia (FOI) pada 21 Mei 2015.

"Pada intinya kami ingin membangun keadilan sosial di bidang pangan

untuk mengatasi persoalan ini secara berkesinambungan dan gotong royong," ungkap Hendro.

Sebagaimana yang sudah banyak terdapat di negara-negara Barat, foodbank merupakan organisasi atau gerakan pendistribusian makanan untuk mencegah kelaparan di kelompok masyarakat miskin. Berdasarkan sejarah, foodbank setidaknya sudah ada di Amerika Serikat sejak 1960-an.

FOI mencatat, jika seluruh sampah makanan di Indonesia selama satu tahun dikumpulkan, diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan pangan bagi 11% penduduk Indonesia. Angka itu sangat berdampak bagi pengurangan persentase angka kelaparan di Indonesia.

Untuk dapat menjalankan misinya, FOI bermitra dengan berbagai pihak yang memiliki akses pangan besar, di antaranya manufaktur pangan, para ritel dan toko bahan pangan, restoran, petani, hingga para pebisnis. Pangan yang dikumpulkan kemudian didistribusikan kepada masyarakat lemah yang terdiri atas rumah tangga miskin,

anak-anak, warga manula, dan masyarakat penderita penyakit kronis dan penyandang disabilitas.

Program pembagian ribuan porsi makanan itu dinamakan Pos Pangan.

Di situs resminya, FOI mencantumkan telah memiliki 19 mitra yang terdiri atas beragam sektor bisnis. Selain yang sudah disebutkan di atas, nyatanya ada pula perusahaan vendor pernikahan, stasiun radio, juga kementerian.

Tak ditolak, tapi Disortir

Meski mirip dengan foodbank luar negeri, Wida menjelaskan program FOI tidak benar-benar sama. Perbedaan tersebut sebenarnya memang lebih terletak pada penyebutaan atau penamaan yang menghindari kata foodwaste.

"Kalau di luar negeri konsep foodbank sudah ada, mereka mengumpulkan

makanan dari supermarket sebelum expired. Di luar negeri konsepnya foodwaste, sementara orang Indonesia itu sensitif, masa orang susah dikasih food waste, waste kan sampah. Makanya kita cari kata-kata yang bagus supaya ada penerimaan yang bagus juga,"

ungkap Wida.

FOI tidak pernah menolak makanan yang mereka terima dari pihak-pihak

yang menyumbangkannya, tetapi mereka tetap menyortirnya. Makanan yang sudah tidak layak konsumsi untuk diolah menjadi kompos dan pakan ternak agar tidak terbuang sia-sia.

FOI juga telah menjalin kerja sama dengan supermarket, hotel, dan

berbagai perusahaan makanan untuk menyalurkan makanan layak konsumsi mereka yang masih tersisa kepada orang-orang yang membutuhkan.

Kini relawan FOI telah tersebar di berbagai kota di Indonesia, di antaranya Bogor, Karawang, Magelang, Pandeglang, Bandung,

Cirebon, Surabaya, Semarang, Bontang, dan Ambon.

Selain program itu, FOI juga melaksanakan program perbaikan gizi melalui pemberian sarapan gratis kepada anak-anak usia 5 hingga 14 tahun. Program itu, oleh Hendro, diberi nama Mentari Bangsaku.

Menurut amatannya, diperkirakan sebanyak 40%-50% anak-anak di

Indonesia yang pergi ke sekolah dengan kondisi lapar karena belum sarapan. Ia pun aktif mengampanyekan pentingnya sarapan yang bergizi kepada para orangtua di Indonesia sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi ancaman gizi buruk.

"Orangtua cenderung malas untuk membawakan bekal dan sarapan buat

anaknya. Rata-rata mereka hanya memberi uang saku. Kenyataannya anak-anak cenderung mengonsumsi jajanan di lingkungan sekolah yang kurang bergizi," terang Hendro menjelaskan betapa pentingnya sarapan bagi anak-anak. (M-1)

BERITA TERKAIT