28 March 2020, 07:15 WIB

Antara Newcastle dan Portsmouth


Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | Sepak Bola

SALAH satu kekuatan sepak bola Inggris ialah besarnya dukungan pecinta fanatik kepada klub kesayangannya.

Mereka mau membayar tiket terusan satu tahun di depan untuk musim yang akan berjalan. Pihak klub juga memberi jaminan kepada pendukung fanatik untuk tidak akan ada penaikan harga hingga 10 tahun ke depan.

Uang yang didapat dari pendukung setia itulah yang menjadi modal awal untuk membangun klub. Dengan uang yang dibayar di muka itu, neraca keuangan klub bisa positif. Apalagi jika mau menarik perusahaan besar dunia untuk menjadi sponsor.

Itulah yang bisa menjadi modal untuk mendapatkan kredit dari perbankan dan bisa dipakai untuk membeli pemain bintang guna menaikkan pamor dan prestasi klub.

Hanya dengan hadirnya pemain bintang dan prestasi besar, maka klub akan mendapatkan pemasukan yang lebih besar. Pernak-pernik klub mulai kostum, mug, payung, hingga backpack menjadi bisnis yang luar biasa. Tidak usah heran jika banyak klub yang kemudian melantai di bursa saham karena bisnis tahunannya di atas Rp10 triliun.

Sekarang hubungan antara klub dan pendukungnya menghadapi gesekan. Paling tidak itu dialami Newcastle United. Persatuan pendukung Newcastle United memprotes manajemen klub karena dianggap tidak peduli keadaan yang dihadapi mereka.

Virus korona yang sedang mewabah di dunia membuat masyarakat Inggris merasa khawatir dengan masa depan mereka. Masyarakat mencoba menghemat dana yang dimiliki untuk mengantisipasi kondisi ke depan yang belum jelas.

Namun, manajemen Newcastle United sudah langsung mendebet pembelian tiket untuk musim mendatang, terutama pada pendukung fanatik
yang terikat kontrak pembelian tiket terusan, sudah dipotong tabungan mereka untuk pembelian tiket terusan.

“Kami sungguh sangat terganggu dengan langkah yang diambil manajemen Newcastle dalam situasi yang sulit seperti sekarang ini. Kami sangat kecewa karena kami sudah meminta ada penundaan pemotongan pembayaran tiket musim mendatang, tetapi pihak manajemen Newcastle tidak mau mendengarnya,” ujar pengurus Newcastle United Supporters Trust.

Beberapa fan mengaku pemotongan uang di tabungan mereka sudah dilakukan Rabu lalu. Pihak manajemen Newcastle hanya memberi mau memberi kemudahan, pembayaran tahunan bisa diubah menjadi cicilan bulanan tanpa dikenai bunga.

Hubungan yang tidak mesra ini akan berpengaruh pada hubungan jangka panjang. Padahal, pelatih Newcastle Steve Bruce berharap adanya dukungan dari supporter fanatik untuk mengangkat prestasi the Toon. Sekarang ini Newcastle bercokol di urutan ke-13 Liga Premier.

Menyatukan

Virus korona memang bisa membuyarkan hubungan jangka panjang antara klub dan pendukung yang selama ini saling menguatkan. Apalagi, cara pandangnya hanya sekadar menyelamatkan diri sendiri.

Klub-klub Inggris memang tengah dihadapkan kepada kredit macet. Terutama mereka yang terlalu besar menarik pinjaman, kini kesulitan untuk membayar cicilan karena terbatasnya arus kas akibat tidak ada pertandingan yang bisa dimainkan.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mulai Senin mendatang melakukan kebijakan untuk mengunci pintu rumah. Selama tiga pekan ke depan masyarakat Inggris dilarang untuk keluar rumah guna mencegah penyebaran virus korona yang semakin meluas.

Klub Liga Satu Inggris, Portsmouth menggunakan situasi yang dihadapi sekarang ini untuk menguji profesionalisme para pemainnya. Semua
pemain diminta untuk menjaga stamina sendiri-sendiri agar siap ketika kompetisi kembali diputar.

Asisten Pelatih Joe Gallen mengatakan, ia masih mencari cara bagaimana membuat para pemain bisa berlatih, tetapi rasanya mustahil.

“Kita diminta untuk menjaga jarak minimal 2 meter. Kalau kita latihan set-piece bagaimana mungkin harus jauh-jauhan seperti itu,” ujar Gallen
sambil tertawa.

Oleh karena, itu ia cenderung meminta anak-anak asuhnya untuk menjaga stamina. Ini penting agar ketika kemudian diputuskan kompetisi kembali bergulir, tidak terlalu lama waktu dibutuhkan untuk mengembalikan stamina pemain.

“Sampai saat ini kita belum tahu kapan kompetisi akan digelar. Ada yang mengatakan 1 Mei. Tetapi dengan keputusan mengunci pintu tiga
minggu yang dilakukan PM Johnson tidaklah mungkin kompetisi bisa digelar kembali mulai 1 Mei,” kata Gallen kepada The Guardians.

Mengapa? Karena para pemain minimal membutuhkan waktu dua sampai dua setengah minggu untuk siap bermain di kompetisi.

“Tanpa ada latihan fisik lagi, pemain hanya akan mampu bermain 20 menit dalam pertandingan nanti,” tutur asisten pelatih Portsmouth
itu.

Lima terpapar

Portsmouth merupakan klub yang paling banyak pemainnya terpapar covid-19. Ada lima pemain yang positif terpapar virus korona setelah seluruh anggota tim menjalani tes.

Gallen memutuskan untuk melakukan pemeriksaan terhadap 48 orang yang ada di Portsmouth setelah mereka bermain melawan Arsenal di babak kelima Piala FA 2 Maret lalu. Pemeriksaan dilakukan setelah 10 hari kemudian Pelatih Arsenal Mikael Arteta dinyatakan positif mengidap covid-19.

Menurut Gallen, ia bersama sembilan orang lainnya yang pertama menjalani tes. Ia merasa tenang ketika kesembilan orang itu dinyatakan
negatif. Namun, sehari kemudian ia kaget ketika tiga pemainnya positif terpapar virus korona.

Gallen semakin cemas ketika sehari kemudian ada lagi satu pemain yang dinyatakan positif. Tiga hari setelah itu ada lagi satu pemain yang juga hasilnya positif.

Lima pemain Portsmouth yang dinyatakan positif covid-19 adalah Sean Raggett, James Bolton, Ross McCrorie, Haji Mnoga, dan Andy Cannon.

“Satu yang melegakan, mereka dalam kondisi baik selama menjalani isolasi. Hanya satu pemain yang mengaku tidak bisa mencium bau dan dua lainnya hanya batuk-batuk,” ujar Gallen.

Asisten Pelatih Portsmouth itu berharap agar wabah virus korona cepat berlalu dan kompetisi bisa kembali digelar. Ia sangat mengharapkan itu karena Portsmouth sedang berupaya untuk bisa masuk kembali ke Liga Premier. Para pemain akan sangat terpukul kalau musim kompetisi ini tidak diselesaikan apalagi dinyatakan tidak ada, sehingga harus mengulang lagi dari awal.

Gallen melihat kekecewaan pasti juga dirasakan oleh Liverpool dan pendukung The Reds apabila musim kompetisi ini dianggap tidak ada. Liverpool bukan hanya sedang mengincar gelar pertama mereka sejak Liga Premier digulirkan pada 1992, tetapi mereka sudah unggul 25 poin dengan dari pesaing terdekatnya, Manchester City.

“Ketika kompetisi diputuskan untuk dihentikan 13 Maret lalu memang ada kekecewaan besar,” ujar Gallen. “Tetapi setelah berpikir tenang, saya harus mengatakan bahwa ada yang jauh lebih penting harus kita perhatikan di samping sepak bola.”

BERITA TERKAIT