28 March 2020, 06:41 WIB

Paus Berikan Berkat untuk Dunia


Basuki Eka Purnama | Internasional

PAUS Fransiskus, Jumat (27/3), berdiri sendirian di Lapangan Santo Petrus yang luas untuk memberikan berkat kepada umat Katolik di dunia yang tengah menghadapi pandemi virus korona (Covid-19). Paus mengajak umat untuk meredakan rasa takut mereka melalui iman.

"Kegelapan telah menyelimuti jalan-jalan kita, kota-kota kita. Kegelapan itu menguasai hidup kita. Menutupi segalanya dengan kesunyian dan kehampaan," ujar Paus.

Dalam momen bersejarah itu, Paus memberikan berkat Urbi et Orbi dari Basilika Santo Petrus ke lapangan yang kosong untuk mereka yang berada di seluruh dunia melalui televisi, radio, dan media sosial.

"Kita merasa takut dan tersesat," ujarnya dalam homili sebelum memberikan berkat itu.

Baca juga: Hadapi Covid-19, Paus Fransiskus Sumbang 30 Alat Pernafasan

Dia kemudian mengatakan virus korona telah membuat semua orang berada 'di dalam perahu yang sama'.

"Saatnya telah tiba untuk bangkit dan mempraktikan kepercayaan bahwa solidaritas dan harapan bisa memberikan kekuatan, dukungan, dan arti saat segalanya terasa hampa," kata Paus.

Urbi et Orbi atau yang berarti 'Untuk kota (Roma) dan dunia' biasanya hanya diberikan di tiga kesempatan yaitu saat Paus terpilih, saat Perayaan Paskah, dan saat Perayaan Natal.

Namun, Jumat (27/3), saat pandemi Covid-19 telah menewaskan lebih dari 23 ribu orang di dunia, Paus mengingatkan mengenai keserakahan dan minimnya iman manusia.

"Kita berjalan dengan kecepatan yang luar biasa. Kita merasa kuat dan bisa melakukan apa pun. Kita serakah dan lupa diri," ujar Paus.

"Kita tidak peduli dengan perang atau ketidakadilan yang terjadi di dunia. Kita juga tidak mendengar tangisan kaum papa dan jeritan planet yang kita tempat ini. Kita berpikir kita akan selalu sehat di bumi yang sakit ini," imbuhnya.

Namun, imbuh Paus, ini bukan hari penghakiman. Hari ini adalah saat untuk fokus pada hal yang penting.

Paus juga memberikan penghormatan bagi warga biasa yang menunjukkan keberanian mereka di tengah krisis ini. Dia menggarisbawahi dokter, perawat, pekerja supermarket, polisi, relawan, imam, dan biarawati. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT