28 March 2020, 06:00 WIB

Pandemik Korona, Lockdown atau Knocked Down?


Iqbal Mochtar Dokter, doktor bidang Kedokteran dan Kesehatan alumnus Unhas, UGM, Adelaide University and Imperial College of Medicine, London, dan, International Fellowship of Medicine pada Massachussets General Hospital, Harvard University. | Opini

PANDEMIK merupakan event epidemiologi yang telah berulang dalam sejarah dan tidak dapat dihindari. Bahkan, tren pengulangannya makin meningkat. Hal ini sejalan dengan makin intensnya faktor-faktor yang berperan bagi terjadinya pandemik, seperti global travel, integrasi, dan perubahan sosial. Pandemik menimbulkan gangguan dan kerugian yang hebat pada aspek kesehatan, sosial, ekonomi, dan politik.

Pandemik korona saat ini telah berdampak pada beberapa negara, menjangkiti hampir 550 ribu orang, dan menimbulkan lebih 25 ribu kematian. Nilai stok market terjerembab, pusat-pusat bisnis tutup, dan negara-negara terkena harus menyediakan dana besar untuk penanggulangan. Indonesia pun saat ini harus mengalihkan Rp62 triliun dana APBN untuk menanggulangi pandemik ini.

Perkembangan pandemik virus korona di Indonesia harus diakui mulai masuk pada tahap yang mengkhawatirkan. Data epidemiologi kasus korona per 27 Maret 2020 sore mencengangkan. Dari sekitar 3.500 orang yang menjalani tes, yang terjaring positif sebanyak 1.046 orang (positive rate 29,8%). Dari kasus positif ini, yang meninggal 87 orang (case fatality rate/CFR 8,3%). Tingkat positive rate dan CFR ini termasuk ekstrem. Di Filipina dan Malaysia, CFR-nya berturut-turut berkisar 6,3% dan 1,1%. Sementara itu, pada tingkat gobal, CFR berkisar 4,3%.

Kejadian berulang

Selain pandemik saat ini, dunia telah mengalami paling tidak sepuluh pandemik besar. Pandemik black death pada 1346-1353 merupakan pandemik terbesar yang membunuh 75-200 juta manusia; hampir seperempat penduduk manusia musnah saat itu.

Setiap pandemik memiliki derajat severity yang berbeda dan derajat ini dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya kekuatan organisme yang menyerang. Berbeda dengan virus-virus nipah, H5N1, dan H7N9, virus korona termasuk extreme threat karena virus ini berpotensi menyebar secara cepat, dapat bertahan hidup selama beberapa hari, serta memiliki masa inkubasi yang cukup panjang.

Para ahli telah membangun sejumlah model yang dapat memprediksi kejadian dan severity dari sebuah pandemik. Salah satunya ialah EP curve. Dengan EP curve ini diestimasi bahwa setiap tahun terdapat 3% kemungkinan terjadi pandemik dengan tingkat kematian 0,2-0,8 per 10.000 orang dan 1% kemungkinan pandemik dengan tingkat kematian 8 per 10.000 orang. Secara kasar, setiap tahun terdapat 1-3% kemungkinan terjadi pandemik yang yang menyebabkan kematian 0,2 hingga 8 per 10.000 orang.

Kondisi Indonesia

Virus korona memiliki tingkat penyebaran yang sangat cepat. Karena itu, pada semua negara yang terdampak, jumlah penderita meningkat secara eksponensial. Di Tiongkok, hanya dalam waktu kurang dari tiga minggu, jumlah kasus meningkat dari 10 menjadi 50 ribu kasus.

Peningkatan eksponensial itu juga terjadi pada negara-negara lain, seperti Italia, Korea Selatan, dan Iran. Dalam 2-3 minggu pertama, grafik pertambahan kasus pada negara-negara tersebut masih datar. Namun, sesudah periode itu, jumlah penderita meroket tajam.

Indonesia juga akan mengalami hal yang sama. Bila tidak ada penatalaksanaan yang cepat dan efektif, jumlah penderita akan sangat meningkat di negeri ini.

Berdasar data global, jumlah kasus positif akan menjadi dua kali lipat dalam 1 sampai 12 hari. Pada negara berkembang seperti Filipina, Aljazair, dan Mesir, jumlah kasus positif meningkat setiap 4 hari. Bila menggunakan data negara berkembang ini, jumlah kasus positif di Indonesia diperkirakan akan melebihi 600 pada 24 Maret dan mencapai 2.000-an pada 1 April.

Data kasus positif yang nanti muncul bisa saja lebih rendah dari perkiraan di atas. Kemungkinannya bukan karena jumlah kasus yang rendah, melainkan akibat rendahnya sensitifitas pelacakan. Hingga kini, pengecekan korona hanya dilaksanakan pada 12 laboratorium. Jumlah orang yang dicek pun masih berkisar 3.500-an orang. Di Malaysia dan Thailand, masing-masing telah memeriksa hampir 15 ribu dan 10 ribu orang. Padahal, jika dibandingkan dengan kedua negara tersebut, penduduk Indonesia jauh lebih banyak. Jika pemeriksaan ini lebih diintensifkan, jumlah kasus positif sesungguhnya baru akan tampak.

Jumlah 2000-an kasus yang diprediksi dalam satu bulan pertama bukan persoalan kesehatan yang sederhana. Jika setiap kasus positif ini melakukan close contact dan menularkan 3 orang, dalam hitungan minggu akan ada 6.000-an orang yang menjadi positif. Close contact selanjutnya dapat membuat angka ini melebihi 10 ribu hanya dalam dua bulan. Pertanyaannya, mungkinkah pemerintah melakukan tracing terhadap 10 ribu close contact penderita dalam waktu singkat? Lebih jauh, bagaimana dengan tindakan karantina, isolasi, dan pengobatannya?

Dari jumlah tersebut, diperkirakan 1.000-2.000 penderita akan membutuhkan perawatan intensif dan setengahnya akan membutuhkan ventilator. Sebanyak 132 rumah sakit rujukan yang ada saat ini rasanya tidak memiliki kapasitas untuk menangani jumlah itu.

Kapasitas dan langkah penanggulangan

Kemampuan suatu negara untuk menghadapi pandemik dapat diukur dengan sejumlah parameter dan salah satunya ialah Openheim Preparedness Index. Dalam indeks ini terdapat lima komponen utama, yaitu tersedianya infrastruktur kesehatan masyarakat yang mampu mengidentifikasi, menangani dan mengobati pandemik, tersedianya infrastruktur fisik dan komunikasi. Lalu, kemampuan manajemen publik dan birokrasi, kemampuan memobilisasi sumber dana, serta kemampuan melakukan komunikasi risiko yang efektif. Sayangnya, Indonesia kelihatan belum memiliki kapasitas yang memuaskan untuk kelima kriteria indeks tersebut.

Hingga beberapa minggu setelah outbreak di Tiongkok, pemerintah terlambat merespons dengan melakukan langkah-langkah serius, bahkan dalam beberapa hal terlihat melakukan tindakan kontra-produktif. Misalnya, alih-alih segera melakukan skrining atau pembatasan orang masuk, pemerintah justru berpikir menggalakkan wisata asing, termasuk menggelontorkan dana buat influencer dalam program peningkatan wisatawan.

Di awal juga ada kesan pemerintah juga tidak transparan tentang data penyebaran. Padahal, dalam pandemik, transparansi merupakan prinsip penting dalam hal penanggulangan.

Laboratorium pemeriksaan pun disentralisasi hanya pada beberapa tempat. Hal-hal tersebut menjadi penanda tidak kuatnya sense of pandemic yang dimiliki oleh pemerintah. Padahal, minggu-minggu pertama merupakan saat paling krusial dalam penanggulangan pandemik. Bila penanganan keliru pada masa kritis ini, barrier terhadap pandemik jebol.

Jika dilihat dengan detail, prinsip penanggulangan pandemi meliputi fase-fase anticipation, early detection, containment, control and mitigation, dan elimination atau eradication. Dua fase awal, yakni fase-fase anticipation and early detection, tidak relevan lagi dibicarakan karena pandemik telah terjadi. Karenanya, fase selanjutnyalah yang menjadi amat penting, yaitu containment serta control and mitigation.

Jakarta menyumbang 60% kasus positif korona dan saat ini menjadi episentrum korona di Indonesia. Jumlah penduduk Jakarta berkisar 10,5 juta dengan tingkat kepadatan 15.800/km persegi. Secara epidemiologi, Jakarta sangat berisiko mengalami peningkatan penyebaran penyakit dan kematian.

Jakarta juga merupakan kota multietnik. Penduduknya berasal dari beragam daerah di Indonesia. Penduduk ini amat berpotensi menyebarkan virus ini ke daerah lain apabila mereka kembali ke daerahnya. Ini mengisyaratkan bahwa Jakarta harus menjadi daerah prioritas penanganan. Apabila penanganan di Jakarta tidak cepat dan tepat, virus dapat menyebar cepat ke seluruh Indonesia.

Fase containment yang sinergis dan efektif mau tak mau mesti segera diterapkan di Jakarta, terutama tindakan prinsip berupa travel restriction, karantina terhadap kontak yang sehat atau yang memiliki risiko tinggi, serta melakukan isolasi dan perawatan terhadap mereka yang telah terkena. Tindakan containment yang efektif mesti bersifat multisektoral, melibatkan masyarakat, dan dijalankan secara utuh sampai kondisi stabil.

Berbagai tindakan public health containment yang dianggap efektif ialah menutup pusat-pusat keramaian dan perbelanjaan, menutup restauran dan kafe-kafe, memberlakukan kegiatan working from home pada semua karyawan kecuali staf medis, menghentikan public transportation, melarang pelaksanaan acara yang melibatkan banyak orang, serta melakukan skrining ketat pada sentra transportasi darat, laut, dan udara.

Pada tahap yang lebih ekstrem dapat dilakukan tindakan lockdown. Orang tidak diperbolehkan lagi masuk atau keluar daerah, pembatasan keluar rumah atau keluar dari daerah teritori tertentu (cordoning off). Tindakan ini harus dilakukan secara sinergis dengan memperhatikan ketersediaan kebutuhan dasar masyarakat, seperti makanan, minuman, listrik, dan komunikasi.

Selain itu, pemerintah juga perlu melarang mudik Lebaran. Berbagai model analisis memperkirakan bahwa puncak perkembangan virus korona akan terjadi pada Ramadan dan menjelang Idul Fitri. Mengapa? Dengan sebagian telah dirumahkan, godaan untuk mudik lebih cepat pasti akan terjadi. Mudik merupakan momen penyebaran virus yang sangat krusial karena sebagian besar penderita positif yang tidak memiliki keluhan (asymptomatic positive) berpotensi menyebarkan virus ini ke berbagai daerah saat melakukan perjalanan. Bila tidak ada intervensi terhadap momen ini, dapat terjadi perpindahan episentrum virus korona dari Jakarta ke daerah-daerah lain di Indonesia.

Langkah-langkah pada Kota Jakarta juga perlu dilakukan di beberapa kota lain. Namun, dengan level yang berbeda. Hal ini terutama pada kota-kota yang tingkat morbiditas dan mortalitasnya tinggi. Mesti levelnya dapat berbeda dari satu daerah ke daerah lain, containment yang dilakukan harus cukup luas dan efektif untuk meng-cover orang yang terkonfirmasi positif serta close contact.

Sistem containment yang ketat terbukti telah menahan laju peningkatan jumlah penderita virus korona. Tindakan lockdown pada Kota Wuhan serta 15 kota lainnya di Tiongkok saat wabah korona merebak, langsung mengubah grafik pertumbuhan virus dari pola ekponensial menjadi pola datar. Kecepatan melakukan lockdown atau containment ketat juga sangat memengaruhi angka kematian. Saat pandemik flu pada 1918, pemerintah Kota Philadelphia tidak melakukan tindakan lockdown dan satu bulan kemudian kasus kematian meroket. Sementara itu, kota St Louis yang melakukan lockdown 2 hari setelah wabah, angka kematian yang terjadi hanya seperlima ketimbang Kota Philadelphia.

Persoalan pandemik memang sangat dilematis dan kecepatan mengambil keputusan merupakan hal yang sangat vital. Kita berpacu dengan virus yang berkembang cepat. Kadang pilihan yang diberikan hanya ada satu: lockdown atau knocked down. Pilihan yang tentu saja sulit, tapi harus dilakukan.

BERITA TERKAIT