27 March 2020, 06:49 WIB

TFRIC19 Siap Ciptakan Kit Deteksi Virus Covid-19


Siswantini Suryandari | Humaniora

BADAN Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mendapat mandat dari Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek/BRIN) sebagai koordinator percepatan pengembangan produk dalam negeri, guna mengatasi wabah Covid-19 yang menjadi pandemik di Indonesia. Kepala BPPT  Hammam Riza mengatakan kesiapannya menghela Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan COVID-19 (TFRIC19), guna penguatan aspek lokal dalam mengatasi wabah Covid-19.

Hammam menjelaskan TFRIC19 ini fokus pada lima rencana aksi cepat, dengan target produk final yaitu pengembangan Non-PCR Rapid Diagnostic Test, pengembangan PCR Test Kit, Laboratorium Uji PCR dan Sequencing, penguatan Sistem Informasi dan Aplikasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), Analisis dan Penyusunan Data Whole Genome COVID-19 Origin orang Indonesia yang terinfeks, dan penyiapan sarana prasarana dan penyediaan logistik kesehatan untuk penguatan kemampuan penanganan Covid-19.

Untuk menggerakkan TFRIC19 ini, BPPT sebagai koordinator dengan perwakilan Institusi Litbang (LIPI, Badan Litbang Kesehatan, Lembaga Biologi Molekular Eijkman), Perguruan Tinggi (ITB, UGM, UNAIR, YARSI, UNHAN, Unika Atma Jaya, UNPAD, UNESA, UNDIP, UNTAG Surabaya, UNISBA), Industri (PT Biofarma, PT Hepatika Mataram), Rumah Sakit (FKUI-RSCM, RSUD Tangerang, RSUD Koja) dan Asosiasi Profesi (PB IDI, PAPDI, IAIS, INAPR, APIC, Asosiasi Bioresiko, Asosiasi Biosafety Indonesia, World Bio Haztec, Healtech.id), dan juga start-up Nusantics, Neurabot Lab. TFRIC19 juga melibatkan pendanaan dari berbagai pemangku kepentingan antara lain melalui East Venture, dan asosiasi seperti Indonesia AI Society, IA-ITB, Kagama, IABIE, IATI, KADIN serta masyarakat luas dalam penggalangan dana. Penggalangan dana ini dibutuhkan untuk kebutuhan scale up production melengkapi dana APBN pemerintah yang bersumber dari Kementerian Ristek/BRIN, Litbangkes, BPPT, Eijkman, dan lainnya.

Selain perlunya technology clearing untuk memastikan bahwa produk-produk tersebut memenuhi persyaratan teknis dan sesuai dengan kondisi wabah di Indonesia, beredarnya produk buatan luar ini kata Hammam, menjadi tantangan bagi peneliti dan perekayasa dalam negeri untuk segera bisa menghasilkan produk Kit Deteksi Covid-19 buatan lokal.

Menurutnya kit deteksi virus korona buatan luar perlu dipastikan apakah sesuai dengan kondisi wabah di Indonesia.  Untuk itu, TFRIC19 tengah berupaya mengembangkan kit deteksi korona buatan lokal, dengan menggunakan strain virus berasal dari orang Indonesia yang terinfeksi covid-19 dengan status transmisi lokal penyebarannya.

"Virus cenderung cepat bermutasi, hasil mutasi berbeda-beda di setiap negara. Hal inilah yang menjadi tantangan dalam pengembangan RDT Kit. Selain cepat, RDT Kit juga harus sesuai, sensitif dan spesifik. Rencana aksi pengembangan Kit Deteksi COVID-19 menjadi prioritas pertama untuk segera dilaksanakan," kata Hammam dalam keterangannya melalui saluran video di Kemenristek/BRIN, Kamis (26/3).

Saat ini TFRIC19 telah melakukan akselerasi dalam pengembangan Rapid Diagnostic Test (RDT) Kit untuk mendeteksi Covid-19, dan memperkuat laboratorium uji dalam kapasitas melakukan analisis gold standard PCR berbasiskan data kondisi virus Indonesia saat ini.  Direncanakan Kegiatan TFRIC19 ini juga akan dilengkapi dengan Whole Genome Sequencing untuk keperluan pembuatan vaksin, deteksi dan epidemiologi COVID-19 Indonesia.

"Non PCR Diagnostic Test yang akan dikembangkan yaitu Rapid Diagnostic Test berbasis antibodi IgG/IgM (late detection) dan Rapid Diagnostic Test berbasis antigen (early detection), keduanya dikembangkan menggunakan virus yang ada di Indonesia," ungkap Hammam.

 
Artificial Intelligence untuk Deteksi Covid-19

Terkait penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk penanganan COVID-19, dirinci Hammam, akan dilakukan TFRIC19 melalui Sub-tim Artificial Intelligence.

"Riset dan inovasi penanggulangan Covid-19 dengan mengembangkan sistem deteksi dini dan sistem pendukung pengambilan keputusan memanfaatkan teknologi yang dibangun dengan Artificial Intelligence (AI). Berdasarkan data X-Ray dan CT-Scan dari pasien yang positif dan negatif Covid-19, akan dibangun model AI yang selanjutnya dapat digunakan untuk membantu deteksi dini pasien," terangnya.

Secara khusus tim ini akan mendayagunakan AI dengan model Machine Learning dan teknik terbaru Deep Learning untuk membangun model deteksinya, dengan validasi dari radiolog dan dokter yang terkait.

baca juga: Kasus Covid-19 di Indonesia Diramalkan Capai 34 Ribu

"Kami harap sistem yang dikembangkan ini akan melengkapi atau bersifat komplemen terhadap pengujian berbasis PCR, maupun whole genome sequencing COVID-19 Indonesia," ujarnya.(OL-3)


 

BERITA TERKAIT