27 March 2020, 06:32 WIB

Angka Kematian Akibat Pandemi Covid-19 Bisa Tembus 1,8 Juta


Basuki Eka Purnama | Internasional

ANGKA kematian akibat pandemi virus korona (Covid-19) yang melanda dunia bisa menembus 1,8 juta jiwa pada tahun ini meski langkah cepat dan tegas dilakukan. Hal itu diungkapkan sebuah penelitian dari Imperial College, Inggris, yang diterbitkan pada Kamis (26/3).

Peneliti memperkirakan puluhan juta jiwa akan diselamatkan jika pemerintah bertindak cepat dengan mengadaptasi langkah kesehatan publik tegas termasuk pengujian, karantina, dan social distancing.

Laporan teranyar dari Imperial College London, yang penelitian sebelumnya membuat pemerintah Inggris meningkatkan upaya mereka memerangi virus korona, dirilis saat Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan angka infeksi virus korona di dunia telah melewati angka 500 ribu dengan korban tewas lebih dari 22 ribu orang.

Baca juga: Italia Kewalahan Tangani Jenazah Korban Covid-19

Model simulasi yang dilakukan Imperial College didasarkan pada data teranyar mengenai keparahan virus korona dengan penularan dan angka kematiannya serta dengan mempertimbangkan demografi dan faktor sosial.

Dalam proyeksi jika tidak dilakukan intervensi sama sekali, Covid-19 bias meginfeksi semua warga dunia dan menewaskan sekitar 40 juta orang.

Penelitian itu kemudian memeriksa tingkatan tanggapan mulai dari social distancing hingga lockdown tegas yang saat ini diterapkan di beberapa negara serta potensial angka kematian di 202 negara.

Jika langkah tegas dilakukan sejak awal sehingga angka kematian ada pada 0,2 per 100 ribu penduduk per pekan, model itu menunjukkan kematian akibat virus korona mencapai 1,86 juta orang dengan hampir 470 juta orang terinfeksi.

Jika langkah tegas diambil namun terlambat sehingga angka kematian mencapai 1,6 per 100 ribu populasi per pekan, model itu menunjukkan angka kematian di dunia mencapai 10,45 juta dengan 2,4 miliar orang terinfeksi.

"Penelitian kami menggarisbawahi keputusan berat yang harus diambil semua pemerintah di dunia dalam beberapa pekan atau bulan ke depan. Penelitian ini mendemonstrasikan bahwa langkah cepat, tepat, dan kolektif bisa menyelamatkan jutaan nyawa," ungkap para peneliti. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT