26 March 2020, 17:56 WIB

Dihantam Korona, Keselamatan Dokter dan Perawat India Terancam


Nur Aivanni | Internasional

INDIA berada pada tahap kritis dalam perjuangannya melawan virus korona. Banyak yang khawatir bahwa sistem perawatan kesehatan negara itu mungkin tidak dapat mengatasi wabah tersebut.

Betapa tidak? Sekitar 130 juta orang akan pergi ke rumah sakit bahkan jika 10% dari populasi India terinfeksi, menurut perkiraan.

Padahal negara itu hanya memiliki 0,5 tempat tidur rumah sakit per 1.000 orang, salah satu rasio terendah di dunia, menurut Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi.

Baca juga: Kelompok Hindu India Minum Air Kencing Sapi untuk Tangkal Korona

Banyak pekerja, termasuk dokter, perawat, paramedis, polisi, pilot, pekerja kereta api dan pengumpul sampah, berani menghadapi rintangan besar setiap hari. Sementara staf medis berada di garis depan dari upaya negara tersebut untuk menahan wabah tersebut.

Taarini Johri, seorang petugas medis di rumah sakit yang dikelola pemerintah di kota Ahmedabad barat, mengatakan sektor medis tidak siap untuk menghadapi krisis itu. Dokter dan perawat yang bekerja di bangsal virus korona tidak memiliki peralatan keselamatan yang baik.

"Tetapi dokter yang memeriksa pasien tidak memiliki hal yang sama walaupun faktanya kita paling berisiko," katanya, dikutip dari BBC, Kamis (26/3).

Priya Srivastava, seorang dokter di sebuah rumah sakit di kota Lucknow utara mengatakan bahwa waktu untuk bertindak adalah saat ini.

"Kita perlu membangun rumah sakit darurat dengan cepat. Jika transmisi masyarakat memburuk, kita harus siap untuk itu," katanya. Ia menambahkan bahwa musim flu juga memperburuk keadaan.

"Ada begitu banyak kepanikan. Orang-orang mencapai rumah sakit dengan batuk ringan dan pilek, berpikir mereka terinfeksi Covid-19," katanya.

Sementara para dokter berjuang di rumah sakit, ada juga polisi yang harus menegakkan penerapan lockdown kepada masyarakat.

Rahul Srivastava, seorang perwira senior di Uttar Pradesh, mengatakan dua hari pertama sejak masa lockdown sangat sulit. "Warga tidak terbiasa tinggal di dalam rumah. Mereka tidak akan mengerti pentingnya lockdown ini," katanya.

Di sebagian besar wilayah, ia mengatakan polisi mengikuti kebijakan untuk menjelaskan, membujuk dan meminta orang untuk tetap tinggal di dalam rumah.

Sonu Kumar, yang mengumpulkan sampah di pinggiran kota Delhi, mengatakan insting pertamanya setelah ada pemberlakuan lockdown adalah untuk bergegas ke desanya. Namun, bosnya menyadarkannya betapa pentingnya pekerjaannya itu.

"Kebersihan adalah kunci dalam memerangi virus. Tetapi kami takut, orang-orang tidak menutupi tempat sampah mereka. Kami melihat tisu bekas, masker dan sarung tangan di tempat sampah terbuka mereka. Kami menggunakan alat pelindung tetapi masih membuat kami takut," tuturnya.

Vijay Dubey yang bekerja sebagai penjaga keamanan di Noida dekat Delhi juga mengalami kesulitan berurusan dengan orang-orang.

"Saya mengerti ketika orang ingin pergi keluar untuk membeli obat-obatan dan makanan. Tetapi tidak masuk akal ketika mereka mengatakan mereka bosan dan ingin pergi berkendara," katanya.

"Mereka berpendidikan dan belum mengerti. Kami mempertaruhkan keselamatan kami sendiri dengan keluar, paling tidak yang bisa dilakukan orang adalah tinggal di rumah saja," ujarnya.

India telah menutup kereta api dan penerbangan. Tetapi pilot dan staf kereta api melakukan pekerjaan mereka sampai sekarang.

"Kami berinteraksi dengan sedikitnya 100-150 orang setiap hari, tetapi kami tidak diberi alat pelindung atau sanitiser," kata seorang karyawan, yang tidak ingin disebutkan namanya.

"Sekarang tetangga kita curiga kita mungkin telah terjangkit infeksi virus korona. Yang kita butuhkan hanyalah persatuan dan kemanusiaan untuk memenangkan perang ini. Kalau tidak, kita akan kalah," katanya. (BBC/Nur/A-1)

BERITA TERKAIT