26 March 2020, 13:00 WIB

Seberapa Efektifkah Masker Kain?


Melalusa Susthira K | Weekend

PANDEMI covid-19 yang dapat menular antarmanusia membuat masker sebagai salah satu alat pelindung diri langka di pasaran dan harganya melambung jauh. Keterpaksaan akibat kekurangan stok masker tersebut membuat orang tak punya pilihan lain, selain menggunakan masker kain yang dapat dijahit sendiri sebagai opsi terakhir. Namun apakah masker kain efektif untuk digunakan di tengah pandemi covid-19 saat ini?

Mengutip Live Science, berdasarkan penelitian yang diterbitkan pada 2013 di jurnal Disaster Medicine dan Public Health Preparedness, menemukan bahwa masker bedah tiga kali lebih efektif ketimbang masker kain dalam mencegah penyebaran flu. Adapun masker bedah dan masker kain sendiri tidak seefektif masker respirator N95 yang ketat dan terspesialisasi dalam menyaring partikel kecil virus. 

Sementara masker kain tidak seefektif masker N95 atau masker bedah sekali pakai, Sekretaris Kesehatan Pennsylvania, Amerika Serikat (AS) Rachel Levine mengatakan dalam bahwa mengenakan masker kain adalah lebih baik daripada tidak sama sekali. Namun, ia menyebut masker kain tidak cocok untuk dikenakan oleh petugas kesehatan. 

"Untuk staf yang secara langsung merawat pasien dengan covid-19, itu bukan masker yang tepat untuk digunakan," terang Levine, mengutip surat kabar The Philadelphia Inquirer, Selasa (24/3). 

Namun di tengah kelangkaan pasokan masker, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC AS) pun kini mengeluarkan pengecualian penggunaan masker buatan sendiri berbahan kain dengan beberapa catatan. Institusi itu mencatat penggunaan masker buatan sendiri seperti bandana atau syal sebagai upaya pencegahan terakhir ketika tidak adanya masker medis atau N95. 

Menyadari daya saring dari masker buatan sendiri, CDC menambahkan bahwa penggunaannya harus dikombinasikan dengan pelindung wajah plastik (face shield) yang menutupi keseluruhan bagian depan dan samping wajah. Mengutip CNN, Kepala Program Biosekuriti di Kirby Institute University, Australia, Raina MacIntyre, mengatakan jika tenaga medis benar-benar terpaksa menggunakan masker buatan sendiri, mereka harus menggantinya secara berkala dan mencucinya setiap hari dalam air panas.

"Masker buatan rumah tidak dianggap sebagai alat pelindung diri (ADP), karena kemampuannya dalam melindungi petugas kesehatan tidak diketahui. Kehati-hatian harus dilakukan ketika mempertimbangkan opsi ini," tulis CDC dalam laman resminya. 

Seorang peneliti dari University of Cambridge di Inggris, Anna Davies, mengingatkan agar dalam penggunaannya, masker kain selalu dikenakan pada permukaan sisi yang sama, misal bagian luar dan dalam. Anna juga menyebut masker kain harus dicuci dengan mesin untuk menghilangkan sisa partikel flu yang dapat mencemari bagian luar masker. Kemudian, lepaskan masker kain dengan menarik tali bagian belakang ke depan dan jangan menyentuh bagian depan masker. 

Untuk itu, disimpulkan bahwa masker kain buatan sendiri hanya dianggap sebagai upaya terakhir untuk mencegah penularan virus melalui partikel kecil (droplet) dari hidung atau mulut orang yang terinfeksi - seperti batuk, bersin. Namun itu lebih baik ketimbang tidak ada perlindungan sama sekali. (M-1)

BERITA TERKAIT