26 March 2020, 11:35 WIB

Inspiratif! Warga Buat Tempat Cuci Tangan Gratis di Depan Rumah


Fathurrozak | Weekend

DI tengah kecemasan masyarakat akibat wabah covid-19, banyak pula yang tergerak menolong sesama. Salah satunya adalah Evi Charis yang tinggal di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Memiliki bisnis katering yang kerap menggunakan jasa antar online hingga puluhan pengantaran per hari, Evi membuat tempat cuci tangan di depan rumahnya. Tidak hanya untuk para pengemudi online, Evi pun mempersilahkan masyarakat umum untuk menggunakan tempat cuci tangan itu. Terlebih ia menyadari pentingnya fasilitas itu bagi mereka yang kebetulan berlalu-lalang di sekitar, termasuk para pengunjung pasar yang berlokasi tidak jah dari rumahnya.

"Kebetulan rumah saya dekat dengan pasar. Sekitar 200 meter. Jadi banyak orang lalu lalang. Memang yang saya sediakan ini masih kurang, tetapi setidaknya dengan membuat tempat cuci tangan juga jadi menyadarkan orang-orang untuk lebih menjaga kebersihan. Paling tidak, mereka jadi mudah untuk cuci tangan. Pedagang-pedagang asongan seperti tukang bubur yang lewat pun, mereka berhenti untuk cuci tangan di sini," papar Evi  saat dihubungi Media Indonesia, Kamis (26/3).

Ia menjelaskan jika ide membuat tempat cuci tangan gratis itu juga berkat melihat unggahan beberapa temannya. Kebetulan memiliki toren air yang berada di bagian depan rumah, ia dan suami kemudian membuat saluran air dengan menggunakan pipa. Ia juga dibantu tetangga dalam menyelesaikan instalasi tempat cuci tangan yang tentunya dilengkapi dengan sabun itu. 

"Ya di sini memang baru saya yang bikin (tempat cuci tangan) depan rumah. Dan semoga ini juga bisa menginspirasi warga lain untuk ikut membuat di sekitar rumah. Ini kan bentuk ikhtiar, memang masih kecil. Ini yang saya bisa untuk antisipasi, belum bisa melakukan yang besar seperti tenaga kesehatan. Paling tidak dari lingkungan kecil dulu, keluarga, dan tetangga, masyarakat yang dekat. Sekarang yang lewat jadi rajin cuci tangan," tambahnya.

Dalam brinteraksi dengan para pengemudi antaran sendiri Evi juga semakin meningkatkan kewaspadaan. Untuk memperkecil interaksi jarak dekat, ia menaruh pesanan pelanggan di meja dengan menyertakan alamat. 

Evi pun mengubah kebiasaannya ke pasar. Ia kini datang setelah subuh, saat situasi pasar sudah lebih sepi. Sebelumnya, ia sudah menelepon pedagang terlebih dahulu soal barang yang hendak dibeli. Dengan begitu, ia bisa mempersingkat waktu keberadaan di pasar. Dengan cara-cara ini Evi dapat tetap menjalankan bisnisnya sambil mengikuti anjuran-anjuran para ahli kesehatan dan pemerintah soal penjarakkan interaksi fisik (physical distancing). (M-1)

BERITA TERKAIT