26 March 2020, 08:34 WIB

Rapid Test di Bali Diprioritaskan bagi ODP dan Pekerja Migran


Arnoldus Dhae | Nusantara

PEMPROV Bali memutuskan untuk menggunakan Rapid Test yang baru diterima dua hari lalu untuk skala prioritas tertentu. Ketua Satgas Penanggulangan Covid-19, Provinsi Bali Dewa Made Indra mengatakan, alat Rapid Test yang dipesan Pemrov Bali dalam jumlah banyak, namun baru dikirim 1000 alat. 

"Jumlah yang kita pesan memang banyak. Namun baru dikirim sebanyak 1.000.Bali akan mengoptimalkan jumlah rapid test yang ada namun dengan skala prioritas tertentu," ujarnya di Denpasar, Kamis (26/3). 

Ada pun prioritas yang menggunakan rapid test adalah pekerja migran Indonesia (PMI) asal Bali yang sedang dikarantina. PMI ini diprioritaskan karena mereka berasal dari negara terpapar. Saat kembali ke Bali, kondisi mereka memang kelihatan sehat dan segar. 

"Namun kita tidak mengetahui secara kasat mata apakah mereka positif atau tidak. Untuk mengetahui apakah para PMI yang dikarantina positif atau negatif, maka mereka harus lebih cepat dites dengan menggunakan rapid test. Para PMI ini dianggap rentan karena mereka berasal dari negara terpapar dan akan bertemu serta tinggal di tengah masyarakat. Prioritas kedua adalah para tenaga medis yang rentan terhadap virus karena mereka setiap hari berhadapan dengan pasien yang sudah positif atau pasien suspect yang diisolasi," kata Dewa Made Indra.

Para tenaga medis ini berada di garda terdepan dalam menangani pasien. Kemudian prioritas ketiga adalah para ODP. Namun untuk para ODP hanya diperuntukan bagi ODP yang sudah menunjukkan gejala klinis Covid-19 seperti batuk, demam berkepanjangan. Bagi para ODP yang tidak menunjukan gejala klinis Covid19 tidak perlu melakukan test. 

"Sementara ini jumlahnya terbatas, jadi harus benar-benar diprioritas bagi mereka yang membutuhkannya," ujarnya.

baca juga: Ribuan APD Bantuan dari Pusat Tiba di Kalsel

Selain 1000 alat Rapid Test, Bali juga sudah mendistribusikan 4000 APD ke seluruh rumah sakit rujukan di Bali yakni sebanyak 11 RS. APD itu digunakan untuk para medis saat melakukan penanganan para pasien yang sedang diisolasi. Jumlah tiap rumah sakit tentu saja berbeda karena harus disesuaikan dengan kapasitas dan jumlah tenaga medis. 

"Semakin banyak daya tampung pasien Covid-19 maka jumlah APD juga akan semakin banyak," pungkasnya. (OL-3)

BERITA TERKAIT