26 March 2020, 05:00 WIB

Covid-19, Adaptabilitas dan Solidaritas Sosial


IGK Manila Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem | Opini

COVID-19 terus menghantui dunia. Di Indonesia, berdasarkan prediksi matematis ilmuwan ITB, puncak epidemi covid-19 akan terjadi pada April 2020 antara pekan kedua sampai ketiga (Tempo.co, 21/3/2020). Sementara itu, epidemi yang bermula pada Maret ini diprediksi akan berakhir sekitar akhir Mei hingga awal Juni 2020.

Berdasarkan riset matematis yang sama, jumlah akumulatif penderita diprediksi menyentuh angka 60 ribu orang pada minggu ketiga Mei. Sementara itu, terkait angka proyeksi penyebaran harian, puncaknya akan mencapai angka 2 ribu di antara minggu kedua sampai ketiga April.

Seiring angka-angka di atas, kontinuitas kerja keras antara pemerintah pusat, daerah, serta tentu saja partisipasi luar biasa dari berbagai lembaga dan perorangan tentu saja menjadi prasyarat. Proyeksi matematis bahwa pendemi covid-19 akan berakhir paling telat pada Juni 2020 tak akan terwujud begitu saja jika ia hanya ditunggu. Optimisme kita harus mencapai taraf transformatif, yang mana takdir merupakan titik akhir dari segala daya dan upaya. 

Di tengah berbagai upaya individual ataupun kolektif, terutama yang bersifat preventif, seperti dengan social distancing, menjaga, serta meningkatkan kualitas daya tahan tubuh, ada baiknya kita mengingat kembali satu prinsip dasar kehidupan.

Dengan berpikir positif, kita baca apa yang dinyatakan Charles Darwin pada 1809, yakni “It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent, but the one most responsive to change.”

“Bukanlah spesies yang paling kuat yang akan bertahan hidup,” kata Darwin. “Maupun spesies yang paling cerdas,” makhluk yang akan bertahan hidup ialah mereka yang “Mampu merespons perubahan secara tepat.”

Dengan kata lain, daya atau kemampuan beradaptasi (adaptability) menjadi salah satu penentu utama keberlanjutan kehidupan. Dalam konteks kehidupan manusia, perkara survival of the fittest ini tentu saja bukan sekadar perkara penyesuaian biologis atau lingkungan alam. Sebagai makhluk sosial dan ekonomi, manusia juga dituntut untuk mampu menyesuaikan diri. Meskipun mungkin saja terlalu simplified atau terbatas, pengalaman berpuluh tahun sebagai prajurit yang harus berpindah karena tugas mengajarkan kepada saya akan kebenaran prinsip ini.

Di medan-medan yang berat, di tengah kecamuk konflik umpamanya, yang mana ketersediaan logistik biologis biasanya tak sesuai keinginan, saya harus menyesuaikan diri: memakan, meminum, memakai, dan menggunakan apa pun yang mungkin. Demikian juga, dalam berbagai operasi tempur maupun intelijen, kemampuan menyesuaikan diri secara teritorial dan sosial amat menentukan keberhasilan.

Setiap prajurit harus paham dan mengikuti sistem sosio-ekonomi setempat di mana mereka bertugas. Kediterimaan sosial (social acceptance) merupakan prasyarat keberlanjutan dan keberhasilan misi.

 

Adaptabilitas dan solidaritas
Dalam konteks ‘pertempuran’ mengatasi pandemi covid-19, salah satu tugas sosialisasi pihak-pihak yang peduli dan berwenang ialah mengingatkan setiap orang bahwa adaptabilitas biologis merupakan prasyarat mutlak jika hendak bertahan dan menang.

Setiap warga negara harus paham bahwa pola konsumsi, aktivitas, istirahat, dan gaya hidup akan menentukan keberlanjutan hidup mereka. Yang melekat dalam hal ini tentu saja kampanye untuk back to nature, dalam arti kembali ke pola hidup yang lebih alamiah. Selain konsumsi makanan yang segar, mengurangi atau menghentikan konsumsi junk food serta minuman tak sehat, kembali menikmati makanan, minuman, dan penganan tradisional yang terbuat dari bahan-bahan alami ialah alternatif yang baik.

Yang tak kalah pentingnya, tentu saja ialah upaya-upaya untuk memerangi berbagai tradisi sesat dan mitos terkait kesehatan dan pengobatan serta reaksi berlebihan atau tak tepat terkait pandemi covid-19. Masyarakat perlu terus-menerus diingatkan bahwa jenis dan konsumsi obat, makanan, dan minuman yang tepat dan baik harus sesuai pembuktian ilmiah.

Sikap dan perilaku yang logis, rasional, dan cermat merupakan kunci melindungi kesehatan. Secara sosio-ekonomi, tugas sosialisasi yang utama ialah mengingatkan dan mengajak segenap lapisan masyarakat untuk menjaga dan mempererat solidaritas sosial, mengatasi sekat-sekat agama, ras, serta status sosial dan ekonomi.

Di tengah situasi yang mana sikap curiga, prasangka, kecemburuan sosial, serta kebencian berdasar suku, ras dan agama mudah timbul, sosialisasi di berbagai lini harus berpatokan pada semangat dan aksi gotong royong serta sikap dan tindakan empatik.

Setiap warga negara wajib difasilitasi untuk terus-menerus mengingat dan menyadari betapa keberhasilan Indonesia keluar dari berbagai krisis di sepanjang sejarahnya karena adanya solidaritas sosial. Dengan momentum pandemi ini, pikiran, sikap, dan tindakan sektarian--yang pernah menguat dan memecah belah pada Pemilu 2019--harus dicegah dengan berbagai cara supaya tidak direproduksi.

Demikian juga, meskipun kita bisa saja berasumsi bahwa masyarakat sudah memiliki daya adaptasi sosio-ekonominya sendiri, pemerintah dan segenap pihak yang peduli mesti tetap mengantisipasi kemungkinan social disruption. Dalam situasi dan kondisi yang tak normal, bisa saja terjadi ketergangguan kehidupan sosial akibat ketidakmampuan warga suatu komunitas berpikir, bersikap, dan bertindak dalam satu sistem sosial.

Dalam hal ini, penyelenggara pemerintahan wajib memastikan ketahanan pangan dan kebutuhan hidup dasar (basic human needs) warga negara tersedia bagaimanapun caranya. Krisis ekonomi global, yang kini telah mulai mengancam bahkan sudah melanda dan dirasakan di Indonesia, perlu disikapi dengan memastikan hak hidup warga negara yang merupakan di atas segala-galanya sebagaimana diamanahkan konstitusi.

Terkait persoalan ini, hemat saya, salah satu yang amat menentukan ialah keberanian para penyelenggara negara--bukan hanya eksekutif, melainkan juga legislatif--untuk membuat keputusan politik dalam bidang ekonomi. Konsolidasi politik harus berani ditempuh oleh segenap pihak karena ini bukan lagi perkara tetek bengek ideologi atau terkait segmen tertentu saja dari masyarakat.

Pandemi ini telah menjadi musuh bersama sehingga sikap satria untuk mengalahkan egosentrisme dan kepentingan pribadi maupun kelompok harus dibuktikan semua orang.

 

BERITA TERKAIT