25 March 2020, 23:10 WIB

Waspada, Demam Berdarah Dengue Telah Renggut 164 Jiwa.


mediaindonesia.com | Humaniora

HINGGA 15 Maret 2020, jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) tercatat sebanyak 25.693 orang dan telah merenggut 164 jiwa. Jumlah tersebut mengalahkan kasus virus korona yang per 23 Maret memiliki 579 kasus dengan 49 orang meninggal.

DBD memiliki kasus besar di Indonesia setiap tahunnya. Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan RI terdapat 110.921 DBD di Indonesia pada tahun 2019. Angka ini meningkat dari 2018 dengan jumlah kasus sebanyak 65.602 kasus.

Corona Virus Diseases 2019 atau Covid-19 dan severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus
yang menyerang sistem pernapasan. Virus korona merupakan virus baru yang muncul pada akhir tahun 2019 di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. 

Sementara itu, DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh disebabkan oleh infeksi virus dengue yang disebarkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti.

DBD merupakan penyakit berbasis lingkungan dimana penyakit ini ditularkan nyamuk Aedes aegypti dan banyak ditemukan saat musim hujan karena nyamuk akan menetaskan telurnya di air.

Perubahan iklim seperti hujan yang diselingi panas hingga beberapa hari membuat nyamuk Aedes aegypti leluasa berkembangbiak karena nyamuk ini suka hidup pada daerah dengan kelembaban tinggi dan cuaca yang cukup hangat.

Ada perubahan perilaku nyamuk Aedes aegypti yang dahulunya menggigit hanya pagi dan sore hari kini bisa menggigit saat malam hari hingga subuh serta berkembang biak di atas ketinggian 1.000 mdpl yangsebelumnya tidak pernah terjadi. 

Cara efektif dalam memberantas penyakit DBD hanya dengan menjaga kebersihan lingkungan melalui gerakan 3M Plus dan memberikan perlindungan diri terhadap gigitan nyamuk yang kini sudah hidup di luar rumah atau di luar ruangan.

Salah satu provinsi di Indonesia yaitu di Nusa Tenggara Timur telah dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah
dikarenakan kekurangannya lotion anti nyamuk sebagai perlindungan diri.

Salah satu agar terhindar dari gigitan nyamuk Aedes aegypti menggunakan lotioan penolak nyamuk yang bisa melindungi selama 8 jam. Product Manager Soffell dari Enenis Group, Louis Sumantadiredja, turut mendukung upaya pemerintah dalam pencegahan tak digigit nyamuk pembawa penyakit DBD. 

“Masyarakat Indonesia lebih suka sesuatu yang alami, seperti menggunakan ekstrak daun, maka kami mengeluarkan varian baru yaitu, lotion anti-nyamuk yang mengandung bahan alami yaitu menggunakan ekstrak daun Cymbopogon atau serai sehingga lebih nyaman untuk dipakai di kulit,“ tambah Louis di Jakarta, Rabu (23/3).
 

BERITA TERKAIT