25 March 2020, 15:01 WIB

Jepang Belum Pastikan Kapan Olimpiade 2020 Digelar


Deri Dahuri | Olahraga

JEPANG harus merencanakan kembali pelaksanaan Olimpiade 2020 Tokyo setelah mengambil keputusan berat untuk menunda pelaksanaan Olimpiade tahun ini disebabkan merebaknya pandemi virus korona yang berdampak pada satu pertiga negara di bumi menerapkan lockdown.  

Langkah dramatis untuk mengubah jadwal pelaksanaan Olimpiade belum terjadi saat tak terjadi peperangan atau masa damai. Perubahan rencana tentunya akan berdampak pada persiapan venue, keamanan, penjualan tiket, dan akomodasi.

Empat bulan lagi jelang pembukaan Olimpiade Tokyo 2020 pada 24 juli mendatang akhirnya diputuskan untuk ditunda. 

"Ini mungkin membutuhkan tujuh tahun untuk membangun teka-teki jigsawa yang terbesar di dunia dengan satu potong hilang dan semuanya harus memulai lagi saat waktu tersisa sedikit lagi untuk menyelesaikannya," kata Craig Spence, juru bicara Komisis Paralimpide Internasional dalam Twitter-nya.   .

Sejauh ini masih belum jelas secara pasti kapan Oliampiade kembali dilaksanakan. Bahkan Komisi Olimpiade Internasional mengatakan mungkin pelaksanaan tak bisa dilakukan pada 2020 atau selambat-lambatnya musim panas 2021.   

Jepang telah merancang  Olimpiade Tokyo 2020 sebagai 'Recovery Games' dan sebuah kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia tentang kebangkitann Jepang dari 'tiga bencana' pada 2011 sebuah gempa yang diiringi tsunami dan kebocoran reaktor nuklir di Fukushima.  

Olimpiade 2020 yang tertunda apakah tidak akan disebut lagi sebagai  'Olimpiade Tokyo 2020' ? "Ini ujian bagi umat manusia untuk mengalahkan virus baru," kata Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.

Pada Rabu (25/3), Abe telah menyampaikan pesan dengan mengajak Presiden AS Donald Trump bersama para pemimpin dunia untuk menyetujui bahwa olahraga akan menjadi bukti bahwa umat manusia telah mengalahkan virus korona baru.    

"Obor Olimpiade akan menjadi sinar di ujung terowongan di mana dunia akan menemukan diri sendiri saat ini." demikian pernyataan bersama pemerintah Jepang dan Komisi Olimpiade Internasional (IOC). (AFP/OL-09)  

 

BERITA TERKAIT