25 March 2020, 14:34 WIB

WHO: AS Berpotensi Jadi Pusat Pandemi Covid-19


Nur Aivanni | Internasional

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Amerika Serikat (AS) berpotensi menjadi pusat baru pandemi virus korona (Covid-19).

Penilaian itu mengacu peningkatan jumlah kasus yang begitu cepat. Meski Presiden AS, Donald Trump, membahas rencana membuka kembali negara untuk bisnis.

"Kami sekarang melihat peningkatan yang sangat besar dalam kasus di AS. Jadi memang ada potensi (untuk menjadi pusat pandemi)," kata juru bicara WHO, Margaret Harris.

Baca juga: AS Mulai Percobaan Pertama Vaksin Covid-19 pada Manusia

Sementara itu, banyak gubernur di Negeri Paman Sam mendesak warga tetap berada di rumah untuk mencegah penyebaran Covid-19. Namun, Trump tampak meremehkan situasi krisis.

Trump mengungkapkan dirinya sedang mempertimbangkan cara untuk memulai kembali aktivitas perekonomian dalam beberapa pekan mendatang. "Negara kita tidak dibangun untuk ditutup. Ini bukan negara yang dibangun untuk itu," tegas Trump.

Para pemimpin senior Pentagon memperingatkan penyebaran virus korona di AS dapat berlanjut selama berbulan-bulan. "Saya pikir kita perlu merencanakan ini setidaknya beberapa bulan. Serta, mengambil tindakan pencegahan," ucap Menteri Pertahanan AS, Mark Esper.

Baca juga: Trump: Amerika Serikat Darurat Nasional Virus Korona

Sebelumnya, Korea Selatan berencana mengirim peralatan medis ke AS untuk memerangi virus korona, apabila pihaknya memiliki ketersediaan stok. Dalam sambungan telepon dengan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, Trump mengatakan dirinya akan membantu produsen Negeri Ginseng untu mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA). Hal itu diungkapkan kantor kepresidenan Korea Selatan melalui pernyataan resmi.

Lebih dari 700 orang meninggal di AS akibat pandemi Covid-19. Sementara itu, jumlah kasus yang dikonfirmasi positif virus korona mencapai 54.000 orang. AS dinyatakan memiliki jumlah kasus positif Covid-19 tertinggi ketiga secara global, setelah Tiongkok dan Italia. (Guardian/CNA/AFP/OL-11)

 

BERITA TERKAIT