25 March 2020, 06:51 WIB

Ini Beberapa Tips Atasi Kecemasan di Tengah Wabah Korona


Galih Agus Saputra | Weekend

DI tengah pandemi korona yang belum jelas akhirnya, sebagian masyarakat dicekam kecemasan. Penelitian University College London pada 2016 menemukan bahwa stres menjadi maksimal, ketika ketidakpastian berada pada titik tertinggi. Dalam kesimpulannya, mereka juga mengatakan bahwa ketidakpastian ialah sesuatu yang dapat membuat orang lebih stres, ketimbang ia mengetahui sesuatu yang berpotensi buruk.

Namun begitu, Psikolog Klinis, Frances Goodhart, sebagaimana dilansir Dailymail, menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki kemampuan untuk bertahan hidup. Sistem saraf yang terus-menerus memompa hormon, stres dapat terasatasi.

Selain dari dari dalam diri, Frances menjelaskan bahwa hal itu stres dapat diatasi dengan berbagai hal. Mulai dari menjaga rutinitas, menyaring berita, olah rasa, mengatur napas, menangis, memukul hingga memeluk bantal.

Menjaga rutinitas ialah salah satu cara untuk mengendalikan situasi. Seseorang dapat menyusun rutinitasnya, seperti bangun pagi, olah raga, mandi, berpakaian, sarapan atau makan, dan beberapa kegiatan ringan lainnya higga tiba waktunya untuk tidur malam.

"Ini membantu Anda menciptakan kepastian untuk melewati hari-hari," tutur Frances.

Sesorang mungkin tidak dapat mengendalikan laju penularan pandemi. Akan tetapi, ia dapat mengurangi kegelisahan berlebih yang diakibatkan banjir informasi.

Psikolog Meg Arroll, yang juga dilansir Dailymail, turut menjelaskan bahwa ketimbang gelisah dan terus menerus mencari informasi, seseorang dapat mengatasinya dengan mengkordinir, sekaligus memetakan kekhawatiran.

Dari upaya tersebut, katanya, seseorang bisa tahu betul apa yang dipikirkannya. Lebih dari itu, ia juga tahu apa yang harus diperiksa dalam sebuah informasi atau berita sehingga kabar yang diterima tidak berubah jadi paranoia.

Mengatur napas juga tidak kalah penting. Menarik nafas dalam-dalam, menurut Frances, ialah salah satu upaya yang baik untuk menghilangkan stres dalam kondisi krisis. Hal ini bahkan menjadi hal yang tidak kalah penting dalam 'latihan pernafasan'.

"Ketika seseorang berada dalam mode 'berlari atau melawan', tubuh biasanya akan mengambil oksigen sebanyak mungkin untuk menggerakkan otot. Menghembuskan nafas lebih lama dari pada saat menghirup ialah respons yang tepat untuk menenangkan selama proses ini," imbuhnya.

Banyak orang mungkin selama ini kerap menahan tangis agar terlihat tegar. Tetapi perlu diketahui juga bahwa menangis pada dasarnya ialah salah satu pertahanan yang cukup ampuh untuk kesehatan mental seseorang.

Frances mengatakan bahwa menangis juga efektif jika diikuti teriakan, atau ungkapan kemarahan maupun frustrasi, seperti memeluk atau dengan meninju bantal. Semua itu, menurutnya adalah bentuk atau ekspresi menuju 'kelegaan' yang masuk akal.

"Jika air mata sudah menumpuk di kelopak mata, jangan ditahan. Penting membiarkan Anda melepaskan tangis," tutur Frances.

Namun begitu, Frances juga menjelaskan bahwa mengikuti atau mematuhi panduan keselamatan yang ditetapkan pemangku kepentingan juga tidak kalah penting. Anjuran tentang mencuci tangan dan menjaga jarak secara sosial bukan hanya praktik yang baik, tetapi juga dapat menjadi 'obat' atau pencegah datangnya penyakit maupun stres. (M-4)

BERITA TERKAIT