24 March 2020, 16:51 WIB

BI : Aliran Modal Keluar dari Indonesia Rp125 Triliun


Despian Nurhidayat | Ekonomi

Bank Indonesia (BI) mencatat banyaknya aliran modal asing yang keluar dari Indonesia akibat dampak penyebaran virus korona (Covid-19). Diketahui bahwa aliran modal asing yang keluar dari Januari hingga Maret 2020 sebesar Rp125,2 triliun. Adapun bila dihitung dari awal Maret samapai  saat ini tercatat aliran keluar mencapai Rp104,47 triliun

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa rincian aliran modal asing yang keluar dari Indonesia berupa surat berharga negara (SBN) sebesar Rp112 triliun, dan saham sebesar Rp9,2 triliun.

"Aliran modal keluar itu  SBN Rp112 triliun sedangkan saham Rp9,2 triliun. Kalau di bulan Maret aja itu totalnya adalah Rp104 4,7 triliun dari Rp125,2 triliun yang tadi kami sampaikan," ungkap Perry dalam video conference, Selasa (24/3).

Lebih lanjut, Perry memastikan bahwa BI akan melakukan pelaksanaan tugas di masing-masing bagian untuk memastikan ketahanan ekonomi baik secara makroprudensial maupun kebijakan fiskal. Hal itu dilakukan dalam menjaga ketahanan ekonomi.

"Kita pastikan bahwa semua otoritas kami bangun.  Kami dan OJK ingin memastikan  pelaksanaan fungsi-fungsi BI dan OJK (untuk) berjalannya pasar keuangan. jasa Keuangan, sistem pembayaran,  itu (semua) berjalan untuk mendukung berbagai kegiatan ekonomi dan keuangan," pungkasnya. 

Terkait kondisi likuiditas di pasar keuangan, Perry menyebut sudah lebih dari cukup karena BI sudah menginjeksi likuiditas di pasar uang dan perbankan hampir Rp300 triliun.

Total injeksi likuiditas rupiah itu, kata dia, melalui pembelian SBN dari pasar sekunder sebesar Rp168 triliun, kemudian dari repo yang dilakukan perbankan lebih dari Rp55 triliun dan penurunan giro wajib minimum (GWM) awal tahun dan yang akan berlaku pada April 2020 mencapai Rp75 triliun.

Perry menambahkan pembelian SBN yang dilepas investor asing dari pasar sekunder itu merupakan salah satu langkah bank sentral dalam upaya menstabilkan nilai tukar rupiah.

“Itu langkah yang kami lakukan, tentu saja langkah ini akan terus kami lakukan berkoordinasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK),” katanya.

Saat ini rupiah berada di level Rp16.500 per dolar AS atau melembah hampir 10% bila dibandingkan kurs pada akhir 2019. (Ant/E-1)
 

BERITA TERKAIT