24 March 2020, 06:05 WIB

Tidak Menyebar lewat Udara Bebas


Fathurrozak | Humaniora

VIRUS korona baru (covid-19) dipastikan tidak menyebar melalui udara bebas. Covid-19 menyebar hanya melalui kontak manusia ke manusia lewat butiran-butiran yang dibawa ketika bersin atau batuk, serta melalui droplet (cairan) yang tertinggal pada benda mati.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Subandrio dan ahli virologi Mohammad Indro Cahyono menegaskan hal itu ketika dihubungi
di tempat terpisah tadi malam.

Mereka dihubungi sehubungan dengan maraknya broadcast di WhatsApp grup yang mengatakan covid-19 kini sudah terkonfirmasi bersifat airborne atau melayang di udara.

Pesan itu juga menambahkan tautan dari berita asing yang menyebutkan virus korona baru itu mampu bertahan beberapa jam di udara dan memperingatkan orang untuk terus memakai masker di mana pun berada.

Amin mengatakan penyebaran di udara (airborne) terjadi ketika droplet berubah menjadi partikel yang lebih kecil dan mudah menyebar di udara.

“Biasanya hanya terjadi di rumah sakit ketika dilakukan prosedur pemasangan ventilator, pengisapan lendir, atau terapi nebulizer,” jelasnya.

Indro menambahkan covid- 19 hanya bisa menyebar di udara dalam kondisi tertentu dengan beberapa catatan.

“Hanya bisa terjadi dalam ruang tertutup, yang ukurannya kecil, lalu ada orang sakit dan sehat tinggal bersama, dan loading konsentrasi virus yang sangat tinggi,” katanya.

Oleh sebab itu, menurutnya, itu juga menjawab pertanyaan untuk mereka yang sehat untuk tidak datang ke rumah sakit. Atau, mengapa para tenaga kesehatan juga ikut terpapar. Paparan paling tinggi ada di rumah sakit, karena semua yang sakit berkumpul di sana.

“Penularan utama masih lewat droplet. Lalu lewat sentuhan kontak fisik. Makanya adanya imbauan pembatasan sosial sebenarnya cukup dengan tidak usah sering berkumpul. Karena kalau ada yang sakit, dia datang di lokasi yang ada banyak orang, itu bisa nyebarin,” katanya.

Indro menegaskan, meski penyebaran covid-19 tidak bisa melalui udara bebas, masyarakat harus tetap memperlakukan virus ini selayaknya masa pandemi. “Harus asumsikan bahwa di luar ada sebaran virus. Saat melangkah ke luar rumah, ada potensi terkena virus. Jika kita berkumpul di keramaian juga demikian. Sehingga harus waspada. Kita merasa setelah dari keramaian, pakaian yang dikenakan saat keluar juga sebaiknya dicuci.’’

Airborne precautions

Kepala Unit Penyakit dan Zoonosis WHO Maria van Kerkhove mengatakan istilah airborne precautions atau pencegahan lewat udara, ditujukan kepada para pekerja kesehatan yang menangani pasien covid-19 di rumah sakit.

“Bahwa di fasilitas kesehatan, kita menjelaskan ke pekerja kesehatan ketika mereka mengobati pasien yang sangat sakit. Ketika mereka harus melakukan intubasi dan kadang ada partikel yang bisa menyebar lebih jauh dari 1-2 meter, dalam situasi itu, kita bilang ke pekerja kesehatan harus menggunakan airborne precautions,” ujarnya lewat kanal Youtube WHO, yang diunggah pada 27 Februari.

Kerkhove mengakui istilah airborne precautions yang dikeluarkan WHO itu bisa menimbulkan kebingungan di masyarakat. Namun, sekali lagi dia memastikan airborne precautions ditujukan untuk para pekerja kesehatan yang menerapkan prosedur spesifik dalam keseharian. “Tapi, dalam keseharian, covid-19 tidak (airborne).” (Ifa/X-10)

BERITA TERKAIT