24 March 2020, 12:05 WIB

Ini Mengapa Hari-Hari Kita Terasa Makin Panjang


Galih Agus Saputra | Weekend

Pernahkah Anda berpikir bahwa waktu 24 jam itu tidak cukup untuk mengakomodasi kebutuhan waktu anda dalam sehari? Anda sering berpikir bahwa, seandainya hari ini kita bisa mendapat tambahan waktu, setidaknya satu jam, pasti akan banyak sekali pekerjaan yang dapat terselesaikan.

Sebuah studi oleh Pakar Geokimia Analitik, Vrije Universiteit Brussel, Belgia, Niels de Winter ini barangkali dapat menjawab pertanyaan tersebut. Sebab, menurutnya, hari ini bumi sudah berputar jauh lebih lambat, ketimbang pada akhir zaman dinosaurus yang terjadi pada kurang lebih 70 juta tahun lalu. Akibat itu pula, dewasa ini, hari-hari yang dilalui oleh manusia di dunia menjadi setengah jam lebih lama.

Menurut Winter, pada zaman dinosaurus, jumlah hari dalam setahun ialah 372. Perkiraan itu ia dapat setelah mengamati fosil cangkang kerang moluska, yang sudah tertimbun sejak periode Cretaceous (145 hingga 65 juta tahun lalu). Pengukuran bentuk cangkang tersebut lantas menjadi informasi bagaimana sejarah bulan dan seberapa dekat jaraknya dengan bumi hingga saat ini.

"Kami memiliki sekitar empat hingga lima titik data per hari, dan ini adalah sesuatu yang hampir tidak pernah kita dapatkan dalam sejarah geologi. Kami pada dasarnya dapat melihat pada hari 70 juta tahun yang lalu. Ini sangat menakjubkan," tuturnya, seperti dilansir Sciencedaily.

Adapun studi yang dilakukan Winter sendiri, ditujukan pada moluska, yang dulunya hidup di dasar laut dangkal, di daerah tropis. Diperkirakam moluska itu dulunya berusia sembilan tahun, sementara lautnya kini sudah kering dan menjadi wilayah pegunungan di daerah Oman, Timur Tengah.

Menurut Winter, moluska jenis ini adalah bivalvia yang sangat istimewa. Meskipun saat ini ia sudah tidak dapat ditemui, namun dari rekonstruksi iklim ia dapat mengetahui bahwa jenis karang ini lah yang telah membangun seluruh ekosistem karang di bumi.

"Bivalvia ini memiliki ketergantungan yang sangat kuat pada siklus harian, yang menunjukkan bahwa ia memiliki photosymbionts (fotosimbion). Kita semua memiliki ritme siang-malam dari cahaya yang direkam dalam cangkang," imbuh Winter.

Perhitungan Winter yang cermat terhadap jumlah lapisan cangkang kemudian menjadi sebuah data interval tahunan. Hasil ini sebenarnya bukan hal baru di kalangan ilmuwan, karena sebelumnya mereka sudah sering 'menduga' bahwa hari-hari di dunia lebih pendek di masa lalu.

Panjang hari-hari dalam satu tahun pada dasarnya berjalan konstan di sepanjang sejarah adanya bumi, karena orbit bumi di sekitar matahari tidak berubah. Tetapi waktu per hari telah melambat dari zaman ke zaman karena terpengaruh oleh gelombang laut, yang juga disebabkan oleh gravitasi bulan sehingga memperlambat rotasi bumi. (M-2) 

BERITA TERKAIT