23 March 2020, 14:45 WIB

Nilai Tukar Rupiah Merosot Terus, Serupa Tapi Tak Sama dengan 98


Despian Nurhidayat | Ekonomi

Nilai tukar rupiah kini semakin terperosok jauh dan berada di level Rp16.854 per dolar AS pada perdagangan pasar spot pukul Senin (23/3). Posisi ini bisa dikatakan melemah sebanyak 3,70% dibandingkan nilai pada perdagangan Jumat sore (20/3) dan anjlok 19,36% sejak awal tahun.

Direktur riset Centre of Reform on the Economics (Core) Piter Abdullah menilai bahwa wabah virus korona (Covid-19) yang tidak memiliki kejelasan kapan akan berakhir telah memunculkan sentimen negatif. Menurutnya, selama sentimen masih negatif akibat ketidakpastian korona, tekanan pelemahan rupiah masih akan besar, bahkan Rp17.000 per dolas AS bukan tidak mungkin.

"Pemerintah tidak punya tools untuk meredam pelemahan rupiah. Stimulus pemerintah bukan untuk meredam rupiah, tapi meredam dampak korona ke perekonomian," ungkapnya kepada Media Indonesia, Senin (23/3).

Lebih lanjut, menurut Piter BI (Bank Indonesia) merupakan sarana yang tepat untuk menstabilkan rupiah. Namun, kemampuan BI sangat terbatas karena sumber shock dari global.

"Intervensi valas oleh BI tidak bisa digunakan terus menerus karena akan menguras cadangan devisa sehingga pelemahan rupiah sulit dibendung," lanjutnya.

Kondisi Berbeda

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Perdede mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya dipicu oleh pembalikan modal kepada aset keuangan yang lebih aman di tengah ketidakpastian yang sangat tinggi dari Covid-19 yang berpotensi berdampak pada perlambatan ekonomi global yang signifikan dan bahkan dapat mendorong resesi global jika berkepanjangan.

Dia menambahkan penyebaran Covid-19 ke AS, Eropa dan global yang sangat cepat mendorong pelaku pasar keuangan global untuk melepas semua aset-asetnya yakni saham, obligasi, emas dan memegang cash dalam bentuk dolar.

"Meskipun sebagian besar nilai tukar negara berkembang termasuk rupiah cenderung melemah terhadap dollar AS, namun kondisi ini masih jauh dari krisis 1998. Kondisi fundamental perekonomian Indonesia sekarang sangat berbeda dengan kondisi fundamental pada tahun 1998," tambah Josua.

Menurut Josua kendati suasana genting akibat Covid-19, kondisi fundamental perekonomian Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan dengan kondisi pada tahun 1998. Hal itu dikarenakan, sekalipun level rupiah saat ini menyamai level rupiah pada saat krisis 1998, di mana tingkat depresiasi rupiah saat ini sekitar 19% ytd lebih rendah dibandingkan tingkat depresiasi rupiah ketika krisis 1998 yang mencapai 600%.

BI Wajibkan Penggunaan Rekening Rupiah Bagi Investor Asing

"Dari berbagai stimulus kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah, BI dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) diharapkan dapat membatasi dampak perlambatan ekonomi domestik yang didorong oleh Covid-19 ini. Oleh sebab itu, tekanan pada pasar keuangan domestik dan nilai tukar rupiah diharapkan dapat dibatasi oleh respon kebijakan dari pemerintah tersebut," pungkasnya.

Dengan berbagai kombinasi kebijakan stimulus dari pemerintah maupun bauran kebijakan BI, Josua optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cenderung stabil dan tetap resilient meskipun cenderung melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2019 yang lalu.

"Dalam jangka pendek ini, investor asing masih mencermati perkembangan Covid-19 dan seberapa lama ini akan berlangsung, dan juga kabarnya akan mempengaruhi potensi perlambatan ekonomi global. Jika outbreak Covid-19 cenderung mulai mereda, sehingga dampaknya pada perekonomian global pun dapat dibatasi, tekanan pada pasar keuangan dan nilai tukar negara berkembang pun diharapkan cenderung mereda," tutupnya. (E-1)

                                                                                                                                 

BERITA TERKAIT