23 March 2020, 11:01 WIB

Kafe D'Tel Untuk Terapi Kaum Disabilitas Intelektual


Tosiani | Nusantara

PENYANDANG disabilitas intelektual di Temanggung, Jawa Tengah dilatih mengelola kafe untuk terapi penghidupan. Program ini diterapkan Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual (BBRSPDI) Kartini mulai tahun ini agar anak-anak disabilitas mampu mengaplikasikan bimbingan ketrampilan melalui kafe.

"Ini program rintisan terapi penghidupan. Jadi anak-anak mengaplikasikan pendidikan bimbingan ketrampilan lalu dibuka kafe ini. Baru awal tahun ini berdiri, modalnya dari Kementerian,"kata Kepala Bidang Resosialisasi dan Bimbingan Lanjut, BBRSPDI Kartini Temanggung, Ambarina Murdiati, di Temanggung, Senin (23/3).

Kafe untuk pembelajaran penghidupan kaum disabilitas itu diberi nama D'Tel yang merupakan singkatan dari Disabilitas Intelektual. Kafe dengan luasan 6,5x7 meter di bagian depan dan bagian belakang 8x2 meter ini di bawah naungan bagian instalasi produksi. Peralatan untuk seduh kopi sudah mulai dibeli sejak tahun 2019 dan 2020. Lalu tahun ini ada tambahan belanja modal untuk kafe sekitar Rp 46 juta.

Dijelaskan Ambarina, kaum disabilitas intelektual yang menyeduh kopi di kafe, sebelumnya telah belajar dalam kelas barista tahun 2019 lalu. Adapun penyedia makanan dibuat oleh disabilitas intelektual yang mengikuti ketrampilan tata boga. Kaum disabilitas intelektual lebih terampil untuk melakukan berbagai ketrampilan yang bersifat monoton dan dilakukan berulang-ulang seperti membuat makanan dan menyeduh kopi.

"Di kelas saat belajar, para penerima manfaat (PM) hanya berhadapan dengan instruktur. Sekarang di kafe ini PM dihadapkan pada konsumen,"kata Ambarina.

Menurut Ambarina, dulu disabilitas hanya belajar di kelas. Sekarang mereka dilatih bagaimana mereka menjual dan melayani konsumen. Seperti menanyakan mau pesan apa, etika menghadapi konsumen, belajar menghitung dan memberikan uang kembalian dari pembayaran konsumen.

"Moto kita mengantar menuju kemandirian anak anak yang telah menyelesaikan rehabilitaai sosial. Sebelum mengelola kafe, anak-anak sudah training dengan magang di tempat kerja swasta," kata Ambarina.

Sejauh ini pelatihan barista dan pengenalan kopi telah menjadi kurikulum resmi di BBRSBG yang dituangkan dalan perumusan rencana investasi. Selain diajari kopi, mereka juga praktek kerja magang di beberapa kafe untuk terapi penghidupan.

baca juga: Hasil Lab 4 ODP di Belitung Negatif Korona

Andhika,21 seorang barista penyandang disabilitas intelektual mengaku senang bekerja menjadi barista di Kafe D'Tel. Sebelumnya ia magang kerja di sebuah kafe di daerah Kandangan, Temanggung. Pernah pula magang kerja di kafe di Prambanan, Yogyakarta meski tidak lama. Mengelola kafe sendiri seperti sekarang membuat impiannya terwujud.

"Ini impian saya bisa mengelola kafe. Jadi bisa belajar dulu. Suatu ketika saya juga ingin punya kafe sendiri," ujar Dika. (OL-3)
 

BERITA TERKAIT