23 March 2020, 08:25 WIB

Social Distancing di KRL: Longgar di Peron, Padat di Kereta


Tri Subarkah | Megapolitan

PIHAK KRL Commuter Line Indonesia berdalih telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran virus korona (Covid-19). Per hari ini, Senin (23/3), jadwal keberangkatan Commuter Line disesuaikan. Jam operasional seluruh rute dimulai dari pukul 06.00 dan akan berakhir pada 20.00 WIB dengan 713 perjalanan. Selain itu, KCI juga menerapkan social distancing (jarak sosial) baik di stasiun maupun di dalam kereta.

Baca juga: Jam Operasional Transportasi Kota Dibatasi

Penerapan kebijakan tersebut terlihat di Stasiun Bekasi. Setiap bangku yang terletak di peron stasiun diberikan marka, menandakan tempat yang boleh dan tidak diduduki penumpang. Marka merah yang membentuk tanda silang itu diletakkan setiap satu meter, sehingga menjamin setiap penumpang yang duduk tidak berhimpitan.

MI/Tri Subarkah

Suasana di peron Stasiun Bekasi

Namun, social distancing di dalam rangkaian kereta terpantau tidak berjalan. Rangkaian kereta yang berangkat pukul 06.47 dari Stasiun Bekasi menuju Jakarta Kota misalnya, tampak disesaki penumpang. Alih-alih menjaga jarak, penumpang di dalam kereta justru saling bersenggolan.

Berbekal pengeras suara, seorang petugas stasiun berulang kali mengimbau para calon penumpang yang baru datang untuk masuk ke gerbong yang lebih longgar. Sampai di sini, definisi dari 'gerbong yang lebih longgar' menjadi tidak jelas.

Salah satu calon penumpang bernama Sita, 27, menilai kebijakan social distancing dan penyesuaian jadwal keberangkatan tidak efektif untuk menekan penyebaran covid-19. Padahal, menurut pengalamannya minggu lalu, suasana stasiun maupun kereta tidak sepadat pagi ini.

"Bangku dikasih ginian (marka), tetap aja di dalam padat-padat juga," ujarnya kepada Media Indonesia di Stasiun Bekasi, Senin (23/3).

MI/Tri Subarkah

Penumpang memadati kereta di Stasiun Bekasi

Menurut Sita, kepadatan penumpang disebabkan karena masih banyak kantor yang belum menerapkan kebijakan work from home. Sita yang bekerja di sebuah perusahaan jasa perparkiran meminta agar imbauan pemerintah diterapkan oleh setiap kantor.

Senada, Novi, 48, melihat kebijakan guna menekan Covid-19 oleh KCI bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan.

"(Di dalam kereta) udah kaya teri (ikan teri--red) aja, nggak bisa dipegang juga disiplin yang diterapkan pemerintah," ujarnya.

Karyawan swasta di bilangan Thamrin tersebut mengatakan bahwa sebenarnya kepadatan tersebut dapat ditekan dari pintu gerbang Stasiun.

"Dari depan harusnya ditahan dulu, biar nggak padat di dalam sini," pungkasnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT