23 March 2020, 04:20 WIB

Bupati Memilih Berada di Depan


Supardji Rasban | Nusantara

DARI 64 kasus korona positif baru di Indonesia, kemarin, Jawa Tengah hanya menyumbang satu pasien baru. Namun, sejumlah kepala daerah tidak mau berpangku tangan.

Dua bupati perempuan memotori untuk terjun langsung menangkal virus berbahaya itu. Di Klaten, Bupati Umi Azinah memimpin penyemprotan disinfektan di sejumlah fasilitas umum.

Tentu saja dengan dilengkapi alat pelindung diri yang memadai. Umi dan pasukannya menyemprot tempat parkir kendaraan, selasar sejumlah toko, dan beberapa musalah.

“Musala kami utamakan karena menjadi tempat berkumpulnya warga dan berpotensi menjadi tempat penularan. Saya juga minta para pedagang, penjual, dan pengunjung fasilitas umum, seperti pasar dan toko, tetap menjaga kebersihan,” ujarnya.

Umi juga meminta kepada para pemilik toko dan pengelola pasar ­untuk menyediakan tempat cuci ­tangan, lengkap dengan sabun atau cairan pembersih tangan. “Minta ­semua pengunjung untuk sering cuci tangan.”

Bupati perempuan lain yang juga tidak mau diam di kantor ialah Sri Mulyani. Bupati Klaten itu blusukan ke pasar tradisional, kemarin. Ia membagikan masker dan cairan pembersih tangan kepada para pedagang.

Sejumlah pasar ia datangi, yakni Pasar Gede di Kota Klaten, Pasar Gabus di Kecamatan Jatinom, dan Pasar Tjokro Kembang di Kecamatan Tulung. Dari atas kendaraan operasional dinas kesehatan, bupati juga mengajak warga untuk peduli dan mematuhi anjuran pemerintah.

“Di Klaten belum ada warga yang positif terjangkit korona. Namun, pemerintah dan masyarakat harus siap dan mengantisipasinya,” jelas Sri Mulyani.

Aksi yang sama juga dilakukan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Wakil Bupati Rembang Bayu Ardiyanto, dan Bupati Pati Haryanto.

“Setiap hari kami menurunkan tim untuk melakukan penyemprotan disinfektan di tempat umum, perkantoran, kendaraan umum, dan rumah warga. Kami melibatkan semua kekuatan untuk mengurangi dampak korona,” ujar Wali Kota Hendrar Prihadi.

Gereja

Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, kebanyakan gereja  memilih untuk tidak menggelar ibadah bersama. Namun, beberapa gereja tetap ngotot, meski menerapkan protokol pengamanan dan kebersihan dengan ketat.

Di Gereja Efata, gereja menyediakan sabun antiseptik dan mewajibkan semua jemaat mencuci tangan. Di dalam ruang ibadah, jarak antara satu jemaat dan jemaat lain dibuat renggang. Satu bangku yang biasa diduduki 5 orang, dikurangi menjadi 3 orang.

Umat juga dilarang berjabat tangan dan berdekatan satu dengan yang lain, termasuk dengan pendeta dan majelis gereja. Namun, sejumlah jemaat ternyata memilih tidak beribadah bersama. Dari biasanya dihadiri 300-400 orang, hari itu yang datang beribadah hanya 175 orang.

“Saya memimpin ibadah dengan tekanan batin yang luar biasa beratnya. Saya pastikan, ibadah hari ini adalah yang terakhir, sampai ancaman korona berlalu,” ujar Pendeta Fedriana Bunga-Manafe.(JS/AS/PO/HS/SS/AP/RF/MR/SL/N-2)

BERITA TERKAIT