23 March 2020, 06:00 WIB

Pragmatisme di Tengah Serangan Covid-19


Cherie Nursalim dan Paul Polman Cherie Nursalim, Vice Chairman GT Group dan Vice Chairman International Chambers of Commerce Paul Polman, Ketua IMAGINE, Chairman International Chamber of Commerce | Opini

ORGANISASI Kesehat­an Dunia (WHO) di­undang untuk men­­jelaskan situasi terakhir terkait pandemi coronavirus disease 2019 (covid-19) dalam pertemuan Dewan Kamar Dagang Internasional (ICC) yang dilakukan secara daring.

ICC merupakan organisasi bisnis terbesar di dunia yang mewakili lebih dari 45 juta per­­usahaan. Organisasi ini ju­ga merupakan suara dunia bisnis paling berpengaruh di organisasi-organisasi dunia, seperti PBB, WTO, dan G20. ICC meminta para pemimpin G-20 segera bersatu dalam pendekatan komprehensif dalam mengatasi covid-19 untuk melengkapi upaya luar biasa WHO.

Pendekatan itu berkisar dari mengurangi tarif-tarif impor pasokan dan alat kesehatan. Ke­mudian imbauan terkait ja­ring pengaman sosial untuk sektor-sektor informal, stimulus bagi usaha mikro kecil menengah (UMKM), dan mening­katkan bantuan finansial untuk pelayanan kesehatan di ne­gara-negara termiskin.

Sebagai Wakil Ketua ICC yang berbasis di Singapura, Cherie Nursalim menjelaskan pendekatan pragmatis dan efek­tif yang dilakukan nega­ra itu agar dunia usaha dan se­ko­­lah tetap berfungsi, meski dilanda masalah covid-19 sejak Januari. Bagaimana negara yang paling padat dan tersibuk secara bisnis ini bisa menekan kurva mengantisipasi dan membatasi penderita positif sehingga tidak ada korban yang meninggal dan pembela­jaran apa yang bisa diambil da­­ri pengalaman ini?

Begitu banyak artikel yang menggambarkan tindakan yang dilakukan di tingkat ting­gi pemerintah. Kami merasa terdorong untuk berbagi aksi ini dan meski situasi di setiap negara berbeda-beda, ada be­berapa pembelajaran yang bisa diterapkan.

Kami menduga yang terpen­ting adalah mindset (pola pikir). Satu pola pikir kewaspadaan di tingkat ‘luar biasa besar’ untuk melawan virus yang tidak terlihat ini. Ini merupakan perang, perang biologi. Singapura sebagai pemerintah, kementerian kesehatan, tim medis, bahkan unsur-unsur keamanan bersa­tu dan terlibat dalam setiap ka­­sus terkonfirmasi.

Mereka menyebut warga yang terjangkit sebagai kasus# untuk melindungi privasi dan identitas pasien. Kami meng­analogikannya; kasus# diperla­kukan sebagai korban tidak tahu apa-apa yang badannya di­lilit senjata biologi. Mereka diperlakukan dengan hati-ha­ti dan penuh hormat, dan de­ngan mengingat besarnya na­sib yang akan dihadapi negara itu. Ketika alarm merah tanda positif berbunyi, tim medis merawat kasus#, sedangkan unsur lain bergerak untuk mengidentifikasi orang-orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien ini.

Setiap kasus positif covid-19 yang teridentifikasi dites di laboratorium akan diikuti de­ngan case tracer (penyisir ka­­sus), yang tugasnya ialah secara digital mewawancara dan melacak serta mencari tahu orang-orang yang terpapar de­­ngan kasus#. Langkah Singa­pura ini melebihi imbauan WHO yang hanya melacak je­­jak rekam kasus# selama 14 hari ke belakang dalam dua hari.

Dalam dua jam mereka me­ngi­rim laporan ke Kementerian Kesehatan yang berisi na­ma-nama anggota keluarga, orang yang pernah duduk atau berbicara di sekolah, tempat kerja, lingkungan rumah, pasar, tempat ibadah, dan juga kapan interaksi itu terjadi. Se­­telah kontak intim (dekat) ter­­identifikasi, satu proses lagi dilakukan, yaitu memberi tahu badan-badan terkait untuk me­­ngosongkan dan mem­bersihkan tempat-tempat, memberi tahu dan melindungi orang yang diduga (suspect) dengan melakukan tes kesehatan.

Bahkan jika kasus# naik Grab selama enam menit atau ma­kan di tempat cepat sa­­ji, pe­­ngendara dan pramusaji­nya akan dilacak, dicek dan se­bagian besar di­­karantina di rumah selama 14 hari.

Setiap orang yang di­­iden­­ti­­­fi­­kasi berpo­tensi me­­mi­­liki vi­­rus ini di­­­dukung dan dimoni­tor. Syarat-sya­rat isolasi dan ka­rantina dijelaskan kepada mereka dan dengan tegas di­­terapkan serta diawasi, anta­ra lain pengecekan melalui te­lepon dadakan, kunjungan tanpa pemberita­huan. Ini di­­la­­kukan untuk me­mastikan warga menaati aturan itu. Hal ini didukung aturan hukum yang tegas bagi individu yang menolak mengikuti perintah keselamatan se­lama dikarantina.

Bersamaan dengan tindakan ta­ngan besi ini ada juga kebi­jak­­an kesejahteraan, seperti sub­sidi finansial dan akomodasi aman bagi me­reka yang tidak mampu. Selain itu ada juga pengawasan imigrasi seperti di Kota Wuhan dan berbagi data intelijen se­­­perti persekutuan je­­maat keagamaan dengan 500 kasus positif di negara te­­tang­ga, yang men­do­rong Si­nga­pu­ra me­lakukan langkah-langkah mitigasi.

Dirjen WHO Dr Ted­­ros me­min­­­ta negara-negara di du­­nia untuk ‘ti­dak meme­­rangi ke­bakaran dengan ma­­ta tertutup’ dan ‘me­mu­tus rantai penu­lar­an’ melalui pemerik­saan, tracing dan isolasi secara luas. Begitu banyak penelitian yang mengonfir­masi kemanjuran langkah itu dalam mengendalikan penyebaran dan meratakan kurva sehingga fasilitas-fasilitas medis tidak menjadi kewalahan.

Singapura sejak lama berinvestasi untuk membina ahli-ahli bioteknologi dan juga membangun fasilitas laboratorium. Mereka bisa mengembangkan alat tes sendiri secara cepat dan menyumbangkannya ke ne­gara-negara lain dalam langkah yang disebut Menteri Luar Negeri Dr Vivian Balakrishnan sebagai diplomasi alat tes. Sejarah SARS bisa jadi mengakar pada ‘pola pikir’ negara ini. Berfungsi seperti biasa di saat tidak biasa jarang terjadi. Singapura bisa menjadi opsi bagi keberlangsungan bisnis dan pragmatisme dalam menghadapi pandemi global.

Keputusan Tiongkok menutup (lockdown) Kota Wuhan dan mengendalikan wabah ini juga efektif dalam melawan co­­vid-19, dengan tidak ada kasus baru di negara itu. Tiongkok pun mulai mengirim para ahli dan memasok alat medis ke ne­­gara lain mulai dari Ameri­ka Serikat, Eropa, dan ASEAN. Tentu saja pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dan banyak sektor-sektor lain yang mulai ikut membantu untuk ikut membantu melindungi warga miskin dan komunitas pada umumnya.

Cerita-cerita tentang solidari­tas bisa ditemukan di berbagai belahan dunia, gotong royong di Amerika, bernyanyi di Italia dan Spanyol, para pemimpin trisektor United in Diversity dan Youths Collab4Health di Indonesia, kegiatan berbasis kesadaran bersama GAIA (Global Activities of Intention and Action) dan World Economic Fo­rum Young Global Leaders, bersatu dalam COVID Action Platform.

Ketika roda ekonomi berada dalam situasi sulit dengan kontraksi terkait nyawa manu­sia dan kegiatan ekonomi di seluruh dunia, sudah saatnya un­tuk bersatu dalam jalinan ‘kemanusiaan yang saling ter­­kait’. Mungkin ini ialah satu lingkaran keseimbangan (balancing loop) dari ‘planet ki­ta’ agar tercipta satu kese­im­bangan. Ini bisa jadi virus ‘micron’, tapi hal ini menjadi pembelajaran besar bagi ke­ma­nusiaan.

BERITA TERKAIT