22 March 2020, 17:55 WIB

Pemerintah Datangkan 150 Ribu Alat Tes Covid-19 dari Tiongkok


Dhika Kusuma Winata | Humaniora

PEMERINTAH mengumumkan tambahan 150.000 alat tes (test kit) untuk pemeriksaan cepat (rapid test) deteksi virus korona (covid-19) yang didatangkan dari Tiongkok.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan covid-19 Achmad Yurianto mengatakan ratusan ribu alat tes tersebut kini sudah berada di Indonesia dan segera didistribusikan ke daerah.

"Pemeriksaan cepat akan masif kita lakukan dan kita bersyukur hari ini sudah ada 150 ribu test kit yang diangkut dari Tiongkok. Test kit akan disebar untuk pemeriksaan cepat kepada kelompok berisiko tertular atas dasar kasus positif. Target kita 1 juta test kit disediakan," kata Yurianto dalam konferensi pers di kantor BNPB, Jakarta, Minggu (22/3).

Yurianto mengatakan 150.000 test kit tersebut sudah diangkut dengan pesawat Hercules milik TNI dan saat ini posisinya sudah berada di Natuna, Kepulauan Riau. Setelah transit di Natuna, dalam waktu dekat pesawat akan ke Jakarta untuk menurunkan test kit tersebut.

Baca juga : Obat dan Perlengkapan Medis dari Tiongkok Tiba di Jakarta Besok

Pemerintah sebekumnya sudah mulai melakukan pemeriksaan cepat sejak Jumat (20/3) lalu di beberapa kecamatan di Jakarta Selatan. Pemeriksaan cepat dilakukan secara massal kelompok berisiko yakni orang-orang yang pernah kontak dekat dengan pasien positif.

Menurut Yurianto, orang-orang yang mengikuti tes cepat tetap harus melakukan pembatasan aktivitas meski hasilnya ditemukan negatif. Menurutnya, individu yang telah melakukan tes cepat bisa saja sudah terinfeksi covid-19 meski hasil tesnya negatif.

Kondisi tersebut dimungkinkan karena respons serologi belum muncul ketika tes dilakukan. Pasalnya, infeksi virus covid-19 yang masih berada di bawah 6-7 hari lazimnya belum menunjukkan tanda-tanda dalam antibodi tubuh. Karena itu, orang yang telah menjalani tes cepat akan dilakukan tes ulang tujuh hari kemudian.

"Hasil negatif tidak memberikan garansi tidak terinfeksi covid-19. Tes akan diulang tujuh hari kemudian. Apabila sudah dua kali tes kita bisa yakini tidak terinfeksi tapi harus tetap melakukan pembatasan sosial karena kalau tidak bisa potensi terinfeksi," imbuh Yurianto. (OL-7)

BERITA TERKAIT